Setiap tahun, ketika bulan Dzulhijjah datang, umat Islam di berbagai penjuru dunia merayakan Iduladha dengan menyembelih hewan kurban. Ritual itu terus diulang dari generasi ke generasi: hewan dipilih, pisau diasah, takbir dikumandangkan, lalu daging dibagikan kepada masyarakat. Di balik semua itu, tersimpan jejak spiritual Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi ketaatan kepada Allah.
Namun, di tengah gegap gempita perayaan kurban, ada pertanyaan yang sering luput diajukan: apa sebenarnya yang kita kurbankan hari ini?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting di era digital, ketika manusia hidup di tengah arus informasi, citra, dan kebutuhan untuk terus tampil menjadi manusia sempurna. Kurban tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan ritual, tetapi juga dengan budaya zaman yang membentuk cara manusia melihat dirinya sendiri. Dalam konteks inilah, ibadah kurban sesungguhnya dapat dibaca sebagai kritik spiritual terhadap kebisingan digital yang menguasai kehidupan modern.
Menyembelih Ego di Tengah Budaya Pencitraan
Sejak awal, kita telah diingatkan bahwa ritual kurban bukan pada identitas fisikal menyembelih hewan. Hakikat kurban tidak berhenti pada darah yang mengalir dari leher hewan yang dikurbankan. Al-Qur’an secara tegas menyatakan: “Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. al-Hajj: 37)
Ayat ini secara lugas telah menggeser makna kurban dari sekadar ritual fisik menyembelih hewan menuju transformasi batin, memperbaiki episentrum spiritualitas. Dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, terhadap ayat di atas, Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah tidak membutuhkan darah dan daging kurban, melainkan ketulusan hati dan ketakwaan manusia. Bahkan, Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafātiḥ al-Ghayb melihat ayat ini sebagai kritik terhadap keberagamaan sebagian orang yang berhenti pada simbol dan kehilangan makna spiritualnya.
Di era digital, pesan itu terasa semakin relevan dan menghunjam kesadaran kita. Manusia modern hidup dalam budaya yang sangat menekankan penampilan. Semua serba gincu dan terjebak pada lapisan palsu. Media sosial mendorong orang untuk terus menampilkan diri: menunjukkan aktivitas, membangun citra, dan mencari pengakuan, yang di dalamnya seringkali dipenuhi gincu. Bahkan, kebaikan sering kali tidak cukup dilakukan; ia juga harus dipublikasikan. Kesalehan tidak cukup dihayati; ia perlu dipertontonkan.
Filsuf Prancis Jean Baudrillard menyebut kondisi ini sebagai dunia simulacra, yaitu ketika manusia hidup lebih dekat dengan citra daripada kenyataan dan hakikat itu sendiri. Dalam ruang digital, kurban pun dapat berubah menjadi sekadar representasi visual: foto penyembelihan, dokumentasi pembagian daging, atau narasi kedermawanan yang dikemas untuk konsumsi publik. Padahal, ujian terdalam manusia justru terletak pada kemampuannya menyembelih ego dan menata niat.
Al-Qur’an telah mengingatkan perihal ini: “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53). Terhadap ayat ini, dalam al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, Al-Qurthubi menjelaskan bahwa maksud al-nafs al-ammarah adalah dorongan egoistik yang membuat manusia mengejar kenikmatan, pengakuan, dan superioritas diri. Jika hal ini tidak dikendalikan, ia akan menguasai seluruh perilaku manusia.
Media sosial menyediakan ruang yang sangat subur bagi ego semacam itu. Setiap like menjadi validasi eksistensial. Setiap view menjadi ukuran nilai diri. Manusia perlahan membangun versi dirinya yang tampak saleh, bijak, dan peduli, tetapi sering kali kehilangan kedalaman spiritual dan empati yang nyata. Di sinilah ibadah kurban memperoleh makna kulturalnya, yaitu ia menjadi latihan untuk membunuh kebutuhan berlebihan akan pengakuan, validasi dan eksistensi, yang ujungnya adalah kesombongan.
Takbir sebagai Kritik atas Narsisisme Modern
Dalam suasana Iduladha, takbir berkumandang di mana-mana: Allahu Akbar. Kalimat itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung kritik eksistensial yang sangat dalam. Takbir mengingatkan bahwa yang Maha Besar adalah Allah, bukan manusia. Yang layak diagungkan bukan ego, jabatan, citra, ataupun popularitas.
Di tengah budaya digital yang mendorong manusia untuk terus membesarkan dirinya sendiri, takbir justru mengajarkan kerendahan hati. Ia mengajak manusia keluar dari penjara narsisisme modern. Rasulullah Saw. mengingatkan keterjebakan ini: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Dalam Syarh Sahih Muslim, Imam Al-Nawawi menjelaskan bahwa kesombongan adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Penyakit ini menjadi semakin tampak dalam ruang digital hari ini: orang mudah mencela, cepat menghakimi, sulit mendengar, dan merasa paling benar. Diskusi sering berubah menjadi arena pertengkaran, berebut pembenaran. Perbedaan dianggap ancaman. Bahkan agama tidak jarang dipakai untuk memperkeras ego, hanya ingin tampil sebagai manusia yang sempurna.
Secara psikologis, Sigmund Freud pernah memberikan penjelasan bahwa ego manusia cenderung mempertahankan citra positif dirinya sendiri, bahkan dengan menolak kritik yang benar. Di sini, manusia modern, kata sosiolog Zygmunt Bauman memasuki situasi liquid modernity, di mana identitas menjadi cair dan rapuh. Karena rapuh inilah, manusia terus mencari pengakuan sosial untuk meneguhkan dirinya. Akibatnya, kesombongan modern tidak selalu tampil dalam bentuk merasa lebih hebat secara terang-terangan, tetapi ia hadir secara lebih halus, dalam bentuk obsesi untuk terus terlihat, dipuji, dan dibicarakan. Akar masalahnya, kata Imam Al-Ghazali dalam Ihyā' 'Ulūm al-Dīn, adalah ḥubb al-nafs, yaitu cinta diri yang berlebihan dan ketidakmampuan mengendalikan ego. Oleh karena itu, kurban sejatinya bukan hanya penyembelihan hewan, tetapi pendidikan spiritual untuk mengalahkan diri sendiri. Dan egolah yang perlu kita sembelih.
Ismail Modern dan Keterikatan Baru
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah jantung spiritual Iduladha. Ketika Ibrahim diperintahkan menyembelih Ismail, yang diuji sebenarnya bukan sekadar cinta seorang ayah kepada anaknya, tetapi keterikatannya terhadap sesuatu yang paling ia cintai. Dalam tafsir sufistik Laṭā'if al-Ishārāt, Imam Al-Qushayri menjelaskan bahwa “Ismail” adalah simbol dari segala hal yang membuat manusia terlalu terikat kepada dunia dan menjauh dari Allah.
Di zaman modern, “Ismail” itu bisa hadir dalam bentuk yang berbeda. Ia mungkin bukan lagi anak atau harta benda, melainkan citra diri digital yang terus dipelihara sebagai agamawan dan penguasa. Ia bisa berupa kebutuhan untuk selalu terlihat baik, keinginan untuk terus dipuji, atau hasrat untuk selalu menjadi pusat perhatian dan tampil di lokus paling depan.
Media sosial membuat manusia sulit melepaskan keterikatan itu. Ia bekerja dengan logika eksposur: siapa yang terlihat, ia dianggap ada. Akibatnya, banyak orang merasa cemas ketika tidak diperhatikan, tidak dipuji, atau tidak mendapat respons dari publik. Padahal, spiritualitas kurban justru mengajarkan kemampuan untuk melepaskan. Dalam perspektif ini, berkurban berarti belajar membebaskan diri dari segala sesuatu yang membuat manusia diperbudak oleh ego, hasrat dan penilaian sosial.
Psikiater Viktor Frankl menyebut bahwa manusia hanya menemukan makna ketika mampu melampaui dirinya sendiri (self-transcendence). Dalam bahasa sufistik, pengalaman itu disebut fanā’, yaitu lenyapnya ego di hadapan kesadaran Ilahi. Karena itu, kurban pada akhirnya adalah latihan untuk tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat semesta.
Dari Ritual menuju Solidaritas
Dimensi lain dari kurban adalah solidaritas sosial. Setelah ego ditundukkan dan keterikatan dilonggarkan, manusia diajak membuka hati bagi sesama. Al-Qur’an memuji orang-orang yang memberi makan kepada orang lain dengan tulus: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. al-Insan: 9). Dalam Jāmi' al-Bayān, Imam Al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan puncak keikhlasan, yaitu memberi tanpa mengharapkan pujian.
Di tengah budaya digital, pesan ini terasa penting. Hari ini, manusia sering lebih mudah memberi “like” daripada memberi pertolongan nyata. Empati berubah menjadi konten. Solidaritas kadang berhenti pada unggahan. Sosiolog Emile Durkheim pernah menjelaskan bahwa solidaritas adalah perekat masyarakat. Tanpa solidaritas, manusia akan hidup sebagai individu-individu yang terasing satu sama lain. Paradoksnya, dunia digital membuat manusia semakin terkoneksi secara virtual, tetapi semakin jauh secara emosional. Orang bisa mengetahui banyak kabar tentang orang lain, tetapi tidak benar-benar hadir untuk mereka.
Karena itu, pembagian daging kurban sesungguhnya bukan sekadar distribusi pangan. Ia adalah pengingat bahwa manusia tidak hidup sendiri. Ada orang miskin yang lapar, anak yatim yang membutuhkan perhatian, dan masyarakat kecil yang memerlukan uluran tangan. Di sinilah, kurban mengajarkan bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti pada hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi harus melahirkan kasih sayang sosial.
Jalan Pulang dari Kebisingan
Pada akhirnya, Iduladha menghadirkan pertanyaan yang sangat personal: sudahkah kurban mengubah diri kita? Sudahkah kita menyembelih kesombongan yang bersemayam di dalam dada? Sudahkah kita melepaskan kebutuhan untuk terus dipuji? Sudahkah kita membuka hati kepada sesama? Atau jangan-jangan, kita hanya mengulang ritual tanpa transformasi: menyembelih hewan tanpa menyentuh ego, membagikan daging tanpa menghadirkan empati.
Dunia digital mengajarkan manusia untuk terus tampil, sedangkan kurban mengajarkan manusia untuk mengosongkan diri. Media sosial mendorong manusia mengejar pengakuan, sedangkan takbir mengingatkan bahwa hanya Allah yang layak diagungkan. Mungkin, yang paling sulit hari ini memang bukan menyembelih hewan, melainkan menyembelih kebutuhan untuk selalu diakui. Yang paling langka bukanlah daging kurban, tetapi keikhlasan yang tidak dipamerkan.
Karena itu, di tengah kebisingan digital yang semakin melelahkan, Iduladha sesungguhnya mengajarkan jalan pulang menuju kemanusiaan yang lebih utuh: dari ego menuju empati, dari pencitraan menuju keikhlasan, dari narsisisme menuju solidaritas sosial. Dan barangkali, justru di dalam keheningan batin itulah semangat Ibrahim kembali hidup.[]