Malam ini adalah malam pertama bulan suci Ramadan 1447 H. Di musala tempat saya, alhamdulillah jamaahnya full, membludak. Wajar sih, lha wong hari pertama. Mulai dari yang sudah sepuh hingga anak-anak memenuhi seluruh ruangan musala.
Seusai menjalankan ibadah salat jamaah Isya’, Tarawih, dan Witir, Kiai Hasbullah menyampaikan beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan tips oleh pembaca Alif.id supaya ibadah di bulan suci Ramadan tidak menjadi beban, ringan dijalankan.
Yang pertama, menjama’ niat puasa. “Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i min jami’is syahri romadhooni hadihis sanati fardhollillahhi ta’ala”. Yang arti bebasnya kurang lebih, Ya Allah saya niat puasa besok pagi dan seterusnya selama bulan Ramadan tahun ini, hanya karena engkau semata.
Niat di awal ini dengan tujuan supaya kita tidak perlu khawatir, njagani dari lupa niat. Ibadah jadi aman-nyaman.
Yang kedua, tips salat tarawih ekspres, secara fikih sah dan ringan. Di kampung saya, bilangan tarawih plus witir mengikuti mazhab 23 raka’at. Agar tidak terlalu lama, jama’ah dianjurkan untuk menyingkat bacaan seperti disaat rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud hingga salam. Yakni dengan mengambil sebagian bacaan, tidak penuh. Misal saat duduk di antara dua sujud dengan membaca “robbighfirli warhamni”. Cukup. Tidak perlu “robbighfirlii warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fuanni”. Dengan begitu, tidak heran jika salat 23 raka’at bisa ditempuh dengan waktu 20 an menit.
Selain itu, untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan, Pak Kiai menyampaikan, baik yang memulai puasa hari ini (seperti warga Muhammadiyah), dan besok (sebagaimana hasil sidang isbat Kemenag), semuanya sah. Semuanya memiliki metode atau cara masing-masing.
Beliau mengibaratkan metode hisab (astronomi) yang dipakai Muhammadiyah itu dengan metode aqli, menggunakan akal. Sebagaimana kita salat menghadap ke arah kiblat dengan menggunakan alat bantu kompas. Kita yang di sini (kampung) hanya mengira-ngira saja arah kiblatnya, melalui petunjuk kompas. Sementara metode rukyat (pengamatan visual) itu sebagaimana kamu salat di depan Ka’bah secara langsung--istilah Pak Kiai, yakni dengan menggunakan metode haqiqi. Melihat dengan jelas arah kiblatnya, karena di depan mata. Semuanya memiliki keyakinan, mau ikut yang mana dipersilakan.
Di kampung saya, perbedaan awal puasa tidak menjadi soal, fine-fine saja.