Hasan adalah santri yang kejenakaannya diakui—atau setidaknya ditoleransi—oleh seisi pondok. Ia terkenal dengan kecerdasan yang diselipkan melalui humor absurd. Pernah suatu waktu, ketika masih di kelas dua Ibtidaiyyah, ia diuji tajwid oleh kakak kelasnya.
“San, coba kamu jelaskan. Bagaimana hukumnya kalau nun mati bertemu alif?” tanya si kakak kelas dengan tampang serius.
Biasanya, jawaban yang diharapkan adalah Idzhar, Ikhfa, Iqlab, atau semisalnya. Tapi Hasan menjawab dengan nada datar yang khas, “Kalau nun mati bertemu alif, alif-nya kaget.”
Kontan kelakar itu viral. Sebagian santri menganggap Hasan jenius karena mampu memutar balik nalar, namun sebagian lainnya menganggap ia sudah kelewat batas dalam bercanda. Tapi bagi Hasan, humor adalah salah satu jalan ninjanya.
Suatu sore, seusai pengajian kitab, suasana halaqah diwarnai perdebatan sengit tentang perkara yang jauh lebih sakral dari tajwid: klub sepak bola. Hasan, sebagai pemantik, membuka topik dengan keyakinan penuh.
“Seharusnya semua santri ini mendukung Real Madrid. Lihat para masyayikh kita!” serunya lantang. “Lihatlah! Semuanya mengenakan baju putih seperti Real Madrid!”
Muzakki, santri yang terkenal ngotot, langsung menyambar. “Ah, itu tidak bisa dijadikan dalil! Kalau saya sih tetap dukung Barca. Coba lihat lambang Pondok Lirboyo! Warnanya merah-biru, kan?”
Teman-teman di sekitar serentak bergumam tidak setuju. “Lho, Zakk! Birunya Lirboyo itu biru muda. Itu kan mirip Manchester City! Masa iya pondok dukung MU sekaligus City? Kan muhal (mustahil)!”
Muzakki terdiam sejenak, lalu membalas, “Pokoknya Barca!”
Perdebatan kian memanas setelah salah satu santri bertanya, “Kalau pondok dukung klub bola sesuai warna lambangnya, terus Pondok Sidogiri jagoin klub apa?”
Hasan, dengan sigap dan lantang, langsung menyahut, “Real Betis! Atau setidak-tidaknya Persebaya!”
Di tengah riuh rendahnya perdebatan yang mengaitkan warna lambang pondok dengan klub la liga dan liga 1, Agung—seorang santri yang dikenal sangat khusyuk dan jarang bicara keras—berusaha menengahi.
“Husss! Tidak boleh gitu!” Agung menghela napas. “Tidak boleh mengait-ngaitkan kesukaan klub sampeyan semua dengan pakaian masyayikh dan logo pondok. Itu tidak etis!”
Sebagian besar santri hanya bergumam, “Yaelah, bercanda gitu doang, masa enggak boleh?”
Hasan, si Madridista, dan Muzakki, si Cules, sama-sama menatap Agung dengan curiga. Mereka berdua lantas kompak bertanya, “Memangnya kamu dukung klub apa, Gung? Jangan-jangan kamu ini justru dukung klub MU?”
Agung menjawab dengan wajah yang tetap teduh. Ia menasihati, “Kita ini santri Indonesia. Sebaiknya kita tidak usah mendukung tim luar negeri. Tim lokal lah yang harusnya didukung.”
“Kalau itu sih saya sudah dukung Persebaya, Gung. Karena saya orang Surabaya,” kata Hasan, mencoba meniru kebijaksanaan Agung.
“Lah, iyo! Saya juga sudah dukung MU lokal (Madura United) karena saya orang Madura,” timpal Muzakki.
Hasan kembali bertanya, “Terus kamu dukungnya apa? Emang Ciamis punya klub bola?”
Agung, yang selama ini menasihati dengan bijaksana agar fokus pada tim lokal, menjawab dengan jujur dan tanpa keraguan,
“Kalo aku dukung Persib.”
Sontak Hasan berteriak jengkel, memecah keheningan yang tercipta sejenak.
“Ah dasar! Satu klub untuk se-Jawa Barat!”
Suasana halaqah pun pecah riuh kembali. Sementara Agung hanya tersenyum tipis, seolah sadar bahwa kenetralannya tadi akhirnya berujung pada pengakuan afiliasi yang nanggung dan menjadi bahan tawa teman-temannya.