Dalam satu majelis, seorang murid bertanya kepada gurunya, “Wahai Guru, kapan seseorang mencapai makrifat?”
Sang Guru terdiam sejenak, lalu tertawa kecil dan menjawab, “Ketika ia mampu menertawakan dirinya sendiri saat merasa paling dekat dengan Tuhan.”
Jawaban itu terdengar ringan, tapi sesungguhnya kejam menghunjam kesadaran. Murid itu pulang bukan dengan membawa definisi makrifat, melainkan dengan pertanyaan yang lebih menyakitkan di dada kesadarannya: selama ini yang ia rawat sungguh-sungguh kedekatan pada Tuhan, atau sekadar gengsi rohani yang ingin tampak lebih suci dan hebat daripada orang lain?
Tradisi sufi memang gemar bercanda, bukan untuk menepuk dada atau menumpuk ego. Humor bagi sufi juga bukan bagian cara melarikan diri dari kenyataan atau menghina orang lain, melainkan cara menampar kenyataan ke wajah kita sendiri, tanpa perlu berteriak dan menginjak kehormatan liyan.
Mullah Nasruddin Hoja, sangat piawai mengajari kita soal ini. Pernah ia menunggang keledai dengan terbalik: wajahnya menghadap ke belakang, punggungnya membelakangi arah perjalanan. Ketika orang-orang menertawakan kebodohannya, ia menjawab sambil cengengesan, “Yang penting kan keledainya jalan ke depan. Urusan aku menghadap ke mana, itu hanya soal gaya dan selera.”
Perilakunya ini sekilas tampak konyol. Di kedalaman, Nasruddin sedang menunjukkan kepada kita betapa banyak manusia yang yakin sedang melangkah maju, padahal cara berpikir dan hatinya menghadap ke arah yang berlawanan. Kita sering telah mantab menghadap kepada Tuhan, sumber kebenaran, tetapi sejatinya kita sedang menghadap diri kita sendiri, menyembah ego dan keakuan.
Dalam kisah lain, Nasruddin pernah kehilangan jarum di dalam rumah, tetapi ia mencarinya di luar rumah. Orang-orang bertanya sambil mengernyitkan dahi, “Kenapa kau cari di luar, jarum yang hilang?” Dengan enteng ia menjawab, “Karena di luar lebih terang.”
Melalui kisah ini, begitu mudah kita menertawakan diri sendiri, karena kita pun sering mencari kebenaran di tempat yang “terang”—yang ramai, yang populer, yang viral—bukan di tempat ia benar-benar hilang: di dalam diri sendiri yang gelap dan berantakan karena sifat keiblisan.
Bagi para sufi, humor adalah cermin. Ia mengembalikan bayangan diri dalam bentuk yang satir dan menghunjam kesadaran, agar kita mau mengakui kebodohan kita sendiri. Tawa yang mereka tawarkan bukan tawa yang membuat lupa, melainkan tawa yang memaksa ingat dan sekaligus malu: malu pada keakuan dan keangkuhan yang kita tumpuk, yang justru menjadi sumber kotoran batin—penghalang hakikat, penutup kerendahan hati, dan pengelap keikhlasan.
Humor di sini, kata Peter Berger, adalah pengalaman kognitif yang membebaskan, sejenak kita keluar dari keseriusan dunia ini dan menyadari betapa seringkali rapuh dan lucunya konstruksi yang kita sebut hidup bermartabat, jabatan, nama baik, dan aneka gelar yang kita sandang. Humor adalah sejenis penebusan, karena ia meruntuhkan ilusi tanpa perlu revolusi bersenjata. Satu lelucon yang tepat sasaran kadang lebih jujur daripada satu jam ceramah moral.
Henri Bergson mengingatkan kita bahwa tawa sebagai reaksi terhadap kekakuan. Kita tertawa ketika kita terlalu mekanis, terlalu dibuat-buat, terlalu kaku untuk hidup yang mestinya lentur. Bukankah banyak dari kita yang menjalani peran dengan sangat kaku—sebagai pejabat, ustaz, profesor, tokoh masyarakat—hingga lupa bahwa sebelum jadi itu semua, kita hanyalah manusia yang suatu hari akan mati sebagaimana yang lain? Humor, dalam pengertian ini, adalah hukuman lembut bagi keseriusan palsu dan kepura-puraan yang dijadikan topeng banyak orang.
Para sufi bahkan melangkah lebih jauh: mereka menjadikan humor bukan hanya alat kritik sosial dan psikologis, tetapi juga jalan spiritual. Mereka paham bahwa ego manusia sangat pandai menyamar: kadang ia memakai seragam jabatan, kadang toga akademik, kadang jubah kesalehan. Maka ego harus dibongkar tidak hanya dengan argumentasi, tetapi dengan tawa yang menelanjangi dan meruntuhkan tembok kepongahan diri sendiri. Lihatlah, betapa mudah manusia terjebak dalam kostum-kostum semacam itu.
Penguasa, misalnya, gemar mengenakan pakaian kehormatan: jas mahal, mobil mewah, barisan pengawal, panggilan “Yang Terhormat”. Mereka tampil di depan kamera dengan senyum terukur, kata-kata disusun rapi, air mata bisa keluar sesuai jadwal yang dikelola. Mereka berbicara atas nama rakyat, tapi makin lama kian sulit berjumpa rakyat tanpa protokol. Dalam keadaan seperti ini, satu humor kecil laik kita keluarkan: “Jika benar rakyat adalah saudara, mengapa setiap kali kita ingin bertemu mereka, keluarga sendiri harus melewati berlapis-lapis satpam?” bisa lebih tajam daripada aneka rupa analisis politik.
Politisi yang terlalu lama duduk di kursi kekuasaan sering terkena penyakit lupa: lupa bahwa kursi itu bisa ditarik kapan saja. Mereka marah terhadap humor yang menyentuh perilakunya, karena humor itu merusak ilusi keagungan yang dibangun dengan susah payah. Di sini, humor menjadi tes sederhana: pemimpin yang sehat bisa tertawa ketika dirinya disindir; pemimpin yang sakit akan menganggap setiap lelucon sebagai ancaman.
Agamawan pun punya kostum sendiri. Jubah putih, sorban, peci, mimbar tinggi, jamaah yang mencium tangan, undangan ceramah yang menumpuk, amplop yang menyusul. Di bibir mereka bicara tentang tawadu’ dan zuhud; di hati, kadang menghitung jumlah viewer dan pengikut. Sedikit saja ada humor yang menyentuh perilakunya, mereka bisa langsung bereaksi seolah-olah akidah sedang diguncang. Padahal yang goyah barangkali bukan agama, melainkan wibawa yang dibangun di atas panggung lewat beragam baju kepura-puraan.
Ada dai yang amat rajin memperbaiki bacaan orang lain di masjid, tetapi lupa memperbaiki dengki di hatinya sendiri. Ada tokoh agama yang hafal ribuan ayat dan hadis, tetapi tidak hafal nama tetangga yang kelaparan. Ada pengurus organisasi agama yang piawai menyusun pernyataan sikap, tetapi canggung turun membantu korban banjir dan rakyat yang kelaparan. Kalau semua itu disajikan dalam bentuk khutbah, mungkin akan dibantah habis-habisan. Tetapi ketika disajikan dalam bentuk humor, kebenarannya kadang lebih mudah diterima. Tinggal diri kita, berani tertawa atau memilih tersinggung.
Akademisi dan intelektual? Juga bisa mengalami hal serupa. Mereka sering berlindung di balik menara gading, yang dindingnya terbuat dari jurnal, footnote, dan istilah-istilah asing. Mereka menulis artikel yang bisa jadi hanya dibaca segelintir orang, mempresentasikan topik yang sama di konferensi bertahun-tahun, lalu merasa telah menyumbang pada peradaban. Ketika rakyat bertanya dengan bahasa sederhana, jawaban mereka berputar-putar, seolah menjelaskan kepada murid TK. Dalam situasi semacam ini, humor yang paling menyelamatkan justru humor yang diarahkan ke diri sendiri: “Barangkali, kalau teori saya tidak dipahami siapa pun di luar ruang seminar, masalahnya di saya.”
Humor yang diarahkan kepada diri sendiri inilah yang disebut para psikolog sebagai self-deprecating humor, yaitu kemampuan menertawakan kekurangan diri secara ringan tetapi jujur. Pemimpin yang sanggup memakai humor jenis ini justru cenderung lebih dipercaya dan dinilai lebih efektif, karena ia hadir secara manusiawi, tidak dibuat-buat, dan tidak rapuh terhadap kritik. Sebaliknya, orang yang tidak sanggup menjadi bahan lelucon sama sekali biasanya sedang menggendong ego yang terlalu berat.
Bagi para filsuf, humor dipandang sebagai momen ketika ilusi runtuh. Kierkegaard misalnya, pernah berbicara tentang ironi sebagai tahapan eksistensial: manusia menyadari jarak antara klaim besar yang diucapkan dan kenyataan hidup yang dijalani. Di titik itu, ia bisa memilih: marah, atau tertawa. Marah berarti menggandakan ilusi—mempertahankan topeng dengan lebih agresif. Tertawa berarti mulai melepaskan satu per satu lapis topeng.
Dalam tradisi Wayang Jawa, kita diingatkan tentang kehadiran Punakawan—Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Mereka punya hak istimewa menasihati dan bahkan menertawakan raja di tengah perang dan intrik istana. Di tangan mereka, kritik keras diucapkan dengan kelakar, tetapi sasaran tahu bahwa yang ditertawakan adalah keserakahan dan kebodohan yang nyata. Masyarakat yang sehat memberi ruang bagi Punakawan; masyarakat yang sakit ingin menghapus semua badut dan menyisakan satu tokoh: dirinya sendiri.
Di atas semua kisah topeng dan kepura-puraan di atas, tradisi sufi mengingatkan kita bahwa menertawakan diri menjadi salah satu bagian jalan menuju makrifat. Ia tidak ditempuh lewat pengkultusan tokoh, melainkan lewat pembongkaran terus-menerus terhadap keangkuhan diri. Bagi sufi, humor adalah salah satu palunya. Ia memukul pelan tetapi berulang-ulang, sampai tembok ego retak dan runtuh. Makrifat bukan keadaan melayang di awan keabadian, melainkan momen ketika manusia berani mengakui: “Aku ini lucu, rapuh, mudah tertipu oleh diri sendiri. Tanpa rahmat Tuhan, aku tak lebih dari aktor buruk di panggung dunia.”
Humor sufi bukan ajakan menjadi sembrono. Justru sebaliknya, ia mengajak kita berhenti mempermainkan kesucian. Humor mengizinkan kita menelanjangi motif-motif kotor yang bersembunyi di balik amal, gelar, jabatan, dan reputasi. Ketika kita bisa tertawa melihat ibadah yang ternyata penuh riya, doa yang sebenarnya penuh ambisi duniawi, ceramah yang diam-diam ingin viral, tulisan yang lebih ingin dikutip daripada dipahami, pada saat itu kita sedang mengambil langkah pertama untuk kembali tulus.
Humor, dalam pengertian ini, adalah kesediaan melempar topeng. Ia adalah latihan untuk siap dipermalukan oleh kebenaran sebelum dipermalukan oleh keadaan. Orang yang berani menertawakan diri sendiri sesungguhnya sedang berkata, “Aku tidak segagah kostumku, dan aku rela mengakuinya.” Di situlah, sedikit demi sedikit, ketulusan dan keikhlasan menemukan celah untuk tumbuh. Jalan pulang menjadi manusia sejati tidak selalu lewat pengalaman spektakuler; kadang hanya lewat satu tawa kecil yang jujur, yang kita tujukan kepada diri sendiri.
Pada akhirnya, hidup setiap orang adalah semacam komedi yang berjalan terlalu lama sampai terasa seperti tragedi. Kita mengejar status, mengejar pengakuan, mengumpulkan gelar, memperluas jaringan, memperindah jejak digital, seolah-olah semua itu akan diikutsertakan di kuburan. Kita berdebat tentang benar dan salah dengan suara tinggi, seolah-olah Tuhan memberi nilai plus untuk volume. Kita mempersiapkan segala hal, kecuali satu: bagaimana caranya pulang dengan ringan, tanpa membawa topeng dan kostum.
Mungkin, di hari terakhir, ketika panggung hidup ditutup dan lampu nyawa dipadamkan, kita baru sadar bahwa sepanjang hidup kita terlalu sibuk memerankan diri, dan terlalu sedikit menjadi diri. Di detik itu, tawa yang kita butuhkan bukan lagi tawa mengejek orang lain, tetapi tawa kecil yang getir tetapi lega: tawa karena akhirnya kita mengakui betapa konyolnya upaya kita tampak agung di dunia yang fana.
Humor dan jalan makrifat bertemu di titik ini. Keduanya mengajak kita menanggalkan peran yang disesaki keakuan, melepaskan keangkuhan, merontokkan lapisan-lapisan kebohongan yang kita ceritakan tentang diri sendiri. Keduanya mengembalikan kita pada kesadaran paling sederhana: kita ini hanya manusia—rapuh, terbatas, lucu, dan sangat bergantung. Dan mungkin, justru ketika kita bisa tertawa pelan menyadari kenyataan itu, tanpa sinis dan tanpa pura-pura, di situlah langkah kecil menuju jalan makrifat itu benar-benar dimulai.[]