Ada satu tindakan yang hampir selalu dianggap mulia dalam sejarah manusia yaitu memberi makan orang lain. Seorang ibu menyusui anaknya tanpa pernah menghitung untung rugi. Tetangga mengantarkan nasi kepada keluarga yang sedang berduka. Petani menyisihkan sebagian hasil panennya untuk sedekah bumi. Orang-orang berkumpul dalam slametan, kenduri, atau bancakan sebagai tanda syukur.
Dalam berbagai tradisi keagamaan, umat berbagi makanan kepada mereka yang membutuhkan. Bahkan ketika perang, bencana, dan wabah melanda, bantuan pertama yang dicari manusia hampir selalu sama yaitu pangan. Barangkali, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sebelum manusia membangun negara, pasar, atau sistem ekonomi modern, mereka lebih dahulu membangun kebudayaan memberi makan.
Karena itu, makanan hampir tidak pernah sekadar urusan biologis. Ia selalu membawa makna yang lebih besar. Dalam tradisi Islam, memberi makan orang lapar menjadi salah satu bentuk ibadah dan solidaritas sosial. Dalam tradisi Kristen, roti hadir sebagai lambang kehidupan dan persekutuan. Masyarakat Hindu mengenal prasadam sebagai makanan yang telah memperoleh makna spiritual. Di berbagai komunitas Nusantara, slametan dan kenduri menjadikan makanan sebagai jembatan antara manusia, alam, dan Yang Mahakuasa.
Membagikan Kehidupan
Yang dibagikan bukan hanya nasi, roti, atau hasil panen. Yang dibagikan adalah kehidupan itu sendiri.
Antropolog sejak lama memperhatikan bahwa hampir semua peradaban besar memiliki ritual memberi makan. Alasannya sederhana. Makanan bukan benda yang netral. Ia menciptakan hubungan sosial. Ketika seseorang memberi makan orang lain, ia sedang membangun ikatan kepercayaan, rasa aman, dan tanggung jawab bersama.
Dalam bahasa sehari-hari masyarakat Indonesia pun jejak itu masih terasa. Kita mengenal istilah mencari rezeki, makan berkat, berbagi berkat, sedekah, kenduri, bancakan, atau syukuran. Semua istilah itu memperlihatkan bahwa makanan tidak hanya dipahami sebagai komoditas ekonomi, tapi bagian dari ekonomi moral masyarakat.
Mungkin karena itulah, setiap kali persoalan pangan muncul dalam ruang publik, reaksi masyarakat hampir selalu lebih emosional dibanding angka-angka statistik yang menyertainya. Kelangkaan beras, kenaikan harga bahan pokok, kasus pangan, atau persoalan distribusi bantuan sosial tidak pernah benar-benar menjadi isu ekonomi semata. Ada perasaan bahwa yang sedang dipertaruhkan adalah sesuatu yang lebih mendasar daripada transaksi pasar.
Kita dapat melihatnya dalam berbagai perdebatan sosial dan politik belakangan ini. Program pemberian makanan kepada masyarakat, terutama anak-anak, sering dipandang bukan hanya sebagai kebijakan negara, tetapi juga sebagai bentuk kehadiran negara dalam kehidupan sehari-hari.
Negara tidak sekadar membangun jalan atau gedung. Negara hadir melalui tindakan yang paling purba dalam sejarah kemanusiaan yaitu memberi makan generasi berikutnya. Dari sudut pandang kebudayaan, tindakan itu memiliki makna simbolik yang sangat besar.
Negara modern, dalam batas tertentu, mengambil alih sebagian fungsi yang dahulu dijalankan keluarga besar, komunitas adat, atau lembaga keagamaan. Ia berusaha memastikan bahwa anak-anak tidak tumbuh dalam kelaparan dan masa depan tidak ditentukan oleh kemampuan ekonomi keluarganya semata.
Namun, di titik inilah pertanyaannya kemudian apa yang terjadi ketika sesuatu yang selama ribuan tahun dipandang sebagai tindakan merawat kehidupan justru berubah menjadi arena perebutan keuntungan?
Pertanyaan ini tidak sekadar menyangkut hukum. Ia juga menyangkut religiositas kontemporer.
Dalam banyak tradisi keagamaan, dosa terbesar bukan hanya mengambil milik orang lain, tetapi mengambil hak mereka yang lemah dan bergantung pada perlindungan bersama. Anak-anak, orang miskin, janda, yatim piatu, dan mereka yang lapar hampir selalu memperoleh tempat istimewa dalam ajaran moral berbagai agama. Sebuah masyarakat dinilai bukan hanya dari kekayaan yang dimilikinya, tetapi dari cara ia memperlakukan kelompok yang paling rentan.
Karena itu, mengambil bagian dari makanan yang diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan memiliki dimensi simbolik yang berbeda. Yang dirusak bukan hanya mekanisme distribusi ekonomi, tetapi juga hubungan moral yang menopang kehidupan bersama.
Dalam masyarakat Nusantara, ada konsep yang menarik untuk direnungkan, yakni berkah. Orang mencari rezeki yang berkah, makanan yang berkah, usaha yang berkah, dan kehidupan yang berkah.
Dalam tradisi Islam dikenal konsep barokah, sementara berbagai komunitas lokal memiliki istilah yang berbeda untuk menggambarkan keyakinan bahwa sesuatu yang dibagikan dengan niat baik akan membawa kebaikan yang lebih luas daripada nilai bendanya. Berkah, dalam pengertian ini, bukan soal jumlah. Ia adalah hubungan.
Makanan yang dibagikan menciptakan persaudaraan. Sedekah memperkuat solidaritas. Kenduri menyatukan tetangga. Slametan merawat kebersamaan. Berkat bukan sekadar apa yang ada di atas meja, melainkan jaringan kepercayaan yang membuat masyarakat tetap bertahan menghadapi berbagai kesulitan.
Merawat Kehidupan
Mungkin karena itu, tantangan terbesar masyarakat modern bukan sekadar memastikan bahwa pangan tersedia. Tantangan yang lebih besar adalah menjaga agar makanan tidak kehilangan kesuciannya sebagai ruang berbagi kehidupan.
Kesucian yang dimaksud tentu bukan dalam arti benda itu sendiri. Sepiring nasi tetaplah sepiring nasi. Sebongkah roti tetaplah sepotong roti. Yang membuatnya memiliki makna adalah hubungan sosial yang dibangunnya. Ketika makanan menjadi medium untuk merawat sesama, ia menghadirkan harapan. Ketika makanan berubah menjadi sekadar komoditas atau bahkan objek perburuan rente, hubungan itu mulai berubah.
Barangkali, di sinilah persoalan kebudayaan yang lebih besar sedang kita hadapi. Kita hidup di zaman ketika hampir segala sesuatu dapat dihitung dengan angka, nilai pasar, dan keuntungan ekonomi.
Namun, tidak semua hal dapat dipahami melalui logika transaksi. Ada ruang-ruang kehidupan yang sejak lama dijaga oleh kebudayaan dan religiositas agar tetap berada di luar kalkulasi untung rugi. Memberi makan adalah salah satunya.
Sebab sejak manusia pertama kali berkumpul mengelilingi api dan berbagi hasil buruan, sejak para petani mengadakan sedekah panen, sejak ibu membagi makanan kepada anak-anaknya, hingga negara modern berusaha memastikan generasi mudanya tidak kelaparan, makanan selalu lebih dari sekadar urusan perut. Ia adalah janji bahwa kehidupan harus dirawat bersama.
Dan mungkin, ukuran paling jujur tentang kesehatan moral sebuah masyarakat bukanlah seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkannya, tapi seberapa kuat ia menjaga agar makanan yang diperuntukkan bagi kehidupan tidak kehilangan kesuciannya sebagai tanda bahwa manusia masih bersedia berbagi harapan dengan sesamanya.