Syekh Abdul Karim adalah ulama besar kelahiran Banjarmasin. Beliau mengajar di Masjidil Haram. Merupakan orang Indonesia terakhir yang mengajar di Masjid termulia di dunia itu. Dikatakan demikian karena sesudah beliau wafat, sampai ditulisnya risalah ini, tidak ada lagi orang Indonesia yang mengajar di sana.
Beliau seorang “Tuan Guru” berlevel Internasional, karena menjadi guru di pusat peribadatan dan kiblatnya umat Islam di seluruh dunia. Murid-murid beliau tersebar di hampir sepertiga dunia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina, Thailand dan Kamboja. Banyak di antara murid beliau yang menjadi ulama ternama. Di Kalimantan Selatan antara lain: KH. Sufyan Tatah Bahalang, KH. Haderawi dan KH. Syamsurrahman Kelayan. Dan di antara sahabat ketika menuntut ilmu di Mekkah, yang sangat ternama adalah: KH. Syarwani Abdan Bangil (Guru Bangil), pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Datu Kelampayan Bangil, Jawa Timur.
Nama lengkap beliau adalah Abdul Karim bin Muhammad Amin bin Al-Banjary Al-Makky Al-Arsyady. Beliau lahir di Kampung Kuin Banjarmasin (1342 H/1923 M) dan wafat di Mekkah Al-Mukarramah, pada subuh Ahad, 9 Zulhjjah 1422 H – 2002 M.
Berdasarkan silsilah Arsyadiyah, beliau turunan keempat dari syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, yaitu garis turunan dari ibu beliau Hj.Sa’diyah (bergelar Diyang Kacil) binti Syekh Ahmad Jazuli Nambau, bin Syekh Qadhi Abu Su’ud, bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.
Beliau tumbuh dan berkembang di tengah keluarga yang agamis dan ketat dalam pendidikan akhlak budi pekerti. Pendidikan awal kebanyakan dari ayah beliau KH. Muhammad Amin, seorang ulama tokoh masyarakat Kuin pada masa itu dengan metode “mengaji duduk” yaitu mendatangi tempat tinggal guru untuk belajar. Sebelum ke Mekkah, beliau sudah menguasa dasar-dasar ilmu bahasa Arab (Nahwu-Sharaf), Fikih, Tauhid, Tasawuf/Akhlaq, dan fasih dalam membaca Alquran.
Pada usia sekitar 15 tahun, beliau berangkat menuju Mekkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Pada masa itu, untuk dapat pergi ke tanah suci tidaklah semudah seperti sekarang ini, karena tanah air masih dalam cengkeraman penjajah Belanda. Keinginan beliau untuk belajar ke sana sangatlah kuat, sedangkan jalan menuju ke sana sangat sulit.
Untuk mewujudkan cita-cita mulianya, beliau bermunajat kepada Allah dalam shalat hajat dan do’a sesering mungkin agar cita-cita beliau dapat terwujud. Akhirnya beliau dipertemukan Allah dengan seorang kapten kapal perang berkebangsaan Jerman yang mencari seorang guide. Sang kapten itu sangat suka terhadap kepribadian beliau dan merasa puas dengan pelayanan beliau.
Pada suatu kesempatan, beliau mengemukakan cita-cita untuk dapat pergi ke Mekkah, kapten bersedia membawa beliau dengan kapal perang yang akan dibawa pulang ke Jerman. Setelah melewati dan singgah dibeberapa negara, dalam waktu yang berbulan-bulan, akhirnya sampai di kota Jeddah, dan selanjutnya berangkat ke Mekkah.
Di Mekkah, beliau ditampung oleh seorang pedagang berasal dari Banjar. Abdul Karim membantu menjaga toko sambil belajar dengan beberapa guru yang terkenal pada waktu itu, di antaranya:
Sedangkan guru-guru beliau di Madinah Al-Munawwarah yaitu sebagai berikut:
Setelah mengajar sekian lama, dan telah mendapatkan ijazah dari guru-guru beliau, maka pada tahun 1369 H/1950 M, beliau mendapatkan izin sekaligus surat pengangkatan sebagai guru yang mengajar di salah satu “halaqah” Masjidil Haam dari penguasa Arab Saudi pada masa itu. Murid-murid beliau yang mengikuti halaqah pengajian beliau, selain dari Indonesia, juga dari Thailand, Brunei, dan Filipina.
Di antara pelajaran yang beliau ajarkan di halaqah Masjidil-Haram adalah:
Kebanyakan waktu untuk pengajaran beliau di Masjidil Haram adalah antara Shalat Maghrib dan Isya. Kadang-kadang beberapa murid datang ke rumah beliau di Jarwal/Gaslah untuk mendapatkan bimbingan lebih dalam tentang pelajaran yang mereka ikuti d Masjidil Haram. Selain itu beliau juga membuka Majelis Taklim untuk ibu-ibu di rumah beliau setiap hari Kamis pagi dengan materi Fikih dan Akhlak.
Pada usia 27 tahun H. Abdul Karim dinikahkan dengan seorang gadis dari Kandangan bernama Burhaniyah yang dibawa oleh keluarganya melaksanakan ibadah haji. Hj. Burhaniyah tinggal di Mekkah mendampingi suaminya dengan setia sampai akhir hayatnya. Syekh Abdul Karim sendiri wafat pada tahun 2005 M.
Sebelum berpulang ke rahmatullah, Syekh Karim sempat meninggalkan beberapa wasiat kepada murid-murid beliau, sebagian di antaranya adalah:
Syekh Karim memiliki beberapa orang saudara, yang juga merupakan ulama terkenal, yaitu:
Pada tahun 2002 M/1422 H Syekh Karim melaksanakan ibadah haji sekeluarga, dan ternyata menjadi rukun Islam kelima yang ditunaikan saat itu merupakan “Haji Wada” (Haji Perpisahan). Dikatakan demikian karena pada subuh hari Ahad, tanggal 19 Zulhijjah 1422 H/ 2002 M. dalam usia kurang lebih 79 tahun, Allah memanggil beliau ke hadirat-Nya.
Beliau dishalatkan di Masjidil Haram sesudah shalat Ashar, dan dimakamkan di Ma’la. Dari masjidil Haram ke Ma’la, jenazah beliau diusung sambut-bersambut oleh para murid dan kelurga, serta oleh sebagian warga negara Arab, bagaikan terbang. Selama tiga malam sesudah diadakan “Garayah” (pembacaan Alquran Nuqaddam) serta tahlil dan do’a dirumah beliau dikawasan Khalidiah Mekkah, dan setiap tahun diadakan “haul’ yang dihadiri oleh para murid dan keluarga, juga dihadiri oleh sebagian para jema’ah haji dari Kalimantan Selatan yang belum pulang.
Beliau meninggalkan zuriat yang shaleh dan shalihat sebanyak 6 orang anak, yaitu:
Sebagai seorang ulama besar tentu saja Syekh Karim banyak sekali memiliki murid, dan murid-murid beliau itu terdiri dari berbagai daerah bahkan dari beberapa negara. Dalam hal ini tidak terkecuali yang berasal dari Kalimantan dan daerah-daerah lainnya di tanah air. Beberapa murid Syekh Karim dimaksud hanya sebagian kecil yang dapat disebutkan di sini, yaitu sebagaimana tercantum di bawah ini.
a.Murid dari Kalimantan:
Selain nama-nama yang disebutkan di atas sebenarnya masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan disini. Dalam hal ini khususnya mereka yang berasal dari kawasan Asia Tenggara seperti dari Malaysia, Filipina, dan Kamboja.
“Ya Allah, curahkanlah rahmat-Mu, maghfirah-Mu, dan Syafaat-Mu kepada beliau, dan kepada orang-orang yang menghormati beliau, dan tempatkanlah kami bersama beliau di surga tertinggi-Mu, Aamiin.”
Sumber Naskah: Tim Penulis LP2M UIN Antasari Banjarmasin dan MUI Provinsi Kalimantan Selatan.
Tokoh | 22.08.2020
Tokoh | 03.09.2020
Tokoh | 04.09.2020