Kita mengenal Kiai Machfudz Shiddiq sebagai salah satu Ketua Tanfidziyah termuda pada masa Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari. Selain aktif di NU dan turut merintis Ansor, beliau juga aktif di bidang jurnalistik. Majalah Berita Nahdlatoel Oelama’ dan Swara Nahdlatoel Oelama’ merupakan majalah bulanan pertama milik NU yang diredakturi oleh Kiai Machfudz Shiddiq bersama dengan kawannya, Kiai Abdullah Ubaid, yang menjabat sebagai pimpinan redaksi.
Dalam majalah Berita Nahdlatoel Oelama’ edisi khusus nomor 1, tahun 7 yang terbit pada tanggal 1 November 1937 / 26 Sya’ban 1356 H dengan artikel panjang berjudul khusus “Poeasa Nummer”, Kiai Machfudz menuturkan secara panjang lebar mengenai fikih puasa yang berlandaskan kepada al-Qur’an, hadits nabawi, dan ijma’ para ulama’. Namun bukan hal tersebut yang menjadi fokus utama dalam pembahasan kali ini, melainkan dengan tradisi puasa di masa kolonial yang ternyata tak ubah bedanya dengan tradisi puasa di masa milenial sekarang ini.
Kiai Machfudz di artikel ini menuturkan, “Apabila asar hampir tiba sekira jam dua siang. Kita mendapatkan tiap-tiap dapur kita sibuk, ribut, seakan-akan cara nanti akan menyambut pengantin dengan seratus pengantarnya” (Komunitas Pegon, 2024 : 26).
Mau tidak mau dari puasa era kolonial sampai milenial terbukti bahwa untuk urusan perut saja ribetnya minta ampun. Belum lagi dengan fenomena “war takjil” yang menunjukkan bahwa kita masih terbelenggu oleh keinginan kita sendiri.
Kalau kita terbelenggu oleh berbagai keinginan nafsu kita yang harus dituruti menjelang buka puasa, maka apakah bernilai puasa kita pada hakikatnya? tentu tidak, yang didapat hanyalah rasa lapar dan dahaga. Jauh-jauh hari pun Syekh Ibnu Athaillah dalam magnum opus-nya Al-Hikam menguraikan sebuah nasehat demikian:
أمْ كَيْفَ يَرحَلُ إلَى اللّهِ وَهُوَ مٌكَبَّلٌ بِشَهْوَاتِهِ
“Bagaimana engkau bisa melakukan perjalanan menuju Tuhan, sementara engkau terbelenggu oleh keinginan-keinginanmu sendiri?”
Tentu nasihat ini memiliki relevansinya dengan kondisi bulan puasa, baik pada masa kolonial maupun masa milenial sekarang ini. Belum lagi dengan fenomena tarawih kilat yang sejak zaman kolonial pun, hal ini tetap lestari dan atas fenomena-fenomena di atas.
Kiai Machfudz Shiddiq turut memberikan syarah (penjelasan) yang juga selaras dengan ucapan Ibnu Athaillah di atas dengan demikian, “Puasa sebagaimana di atas ini, semakin melemahkan rohani (iman) kita, kalau tiada boleh dikatakan mematikan sama sekali, sedang syahwat jasmani kita semakin berkobar”.
Fenomena sosial lain yang diangkat oleh Kiai Machfudz adalah perihal persiapan menjelang hari raya Idul Fitri. Dimana took-toko grosir dan swalayan menyediakan berbagai aneka kue dan bingkisan parsel. “Tuan-tuan toko rupanya mengerti betul akan hal ini. Sehingga apabila hampir tiba bulan Ramadan, mereka mengimpor pelbagai macam makanan, kue-kue, buah -buahan , lebih dari bulan biasa. Sedang kedai-kedai yang tadinya tutup, lantas siap membuka kembali dengan persediaan lebih dari biasa. Alhasil dunia perdagangan mendadak makmur”. Baik di masa kolonial dan masa milenial pun kita dapat menyadari demikian, bukannya urusan ibadah yang harus diutamakan di bulan Ramadan, malah urusan perut dan dunia selalu tak pernah ketinggalan.
Kemudian Kiai Machfudz dalam hal mengangkat fenomena sosial pada masa kolonial tersebut menutup dengan pernyataan demikian, “Bulan Ramadan habis, kita memetik buah puasa kita, akal kalut, duit amblas, angka hutang semakin tinggi. Perabot rumah tangga banyak yang berpindah ke gudang pegadaian, kesehatan terganggu (akibat pola sahur dan berbuka yang tak terkontrol), rohani semakin rusak, jasmani berpenyakitan. Setan dan iblis tertawa terbahak-bahak. Tinggallah satu harapan moga-moga Allah menerima puasa kita”.
Waba’du, dari uraian fenomena sosial di masa kolonial pada era Kiai Machfudz ternyata hal demikian tak ubahnya terjadi di masa sekarang. Mayoritas pengeluaran terbesar umat Islam Indonesia terjadi selama masa Ramadan dan Syawal, baik yang kaya ataupun miskin sama- sama mengeluarkan biaya guna menyambut bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri.
Tentunya hal ini perlu kita renungi dan sikapi bersama agar bulan suci Ramadan kita semakin bermakna dengan memperbanyak ibadah dan taqarub kepada Allah, bukan semakin tenggelam dalam perkara dunia. Wallahu a’lam.