Di tengah dunia yang kian riuh oleh prasangka, kejujuran sering kali datang dari arah yang tak disangka. Seorang pemikir Barat seperti Thomas Carlyle, dalam refleksinya tentang sejarah manusia, justru menilai Nabi Muhammad bukan melalui kecurigaan, melainkan lewat satu ukuran yang sederhana sekaligus mendasar: kejujuran. Penilaian semacam ini terasa relevan hari ini, ketika agama kerap ditempatkan dalam posisi terdakwa dicurigai sebagai sumber masalah, penghambat nalar, atau pengganggu kemajuan. Padahal, boleh jadi persoalannya bukan pada iman itu sendiri, melainkan pada cara manusia menghadapi ketakutan, ketidakpastian, dan keterbatasan hidupnya.
Refleksi semacam ini menjadi penting bukan karena datang dari siapa yang mengucapkannya, melainkan karena cara pandang yang digunakannya cara pandang yang jarang kita latih di tengah kebisingan penilaian hari ini.
Potongan refleksi yang beredar luas itu, Carlyle tidak sedang memuji secara berlebihan, apalagi membela secara emosional. Ia berbicara dengan nada yang justru terasa asing di ruang publik kita: tenang, jujur, dan tidak reaktif. Ia tidak memulai dari doktrin, melainkan dari pengamatan manusiawi bahwa seseorang yang mampu menggerakkan begitu banyak manusia, menata kehidupan sosial, dan bertahan dalam tekanan sejarah, mustahil dipahami hanya sebagai penipu atau tokoh manipulatif. Kejujuran, bagi Carlyle, bukan sekadar sifat moral, melainkan syarat eksistensial bagi kepemimpinan yang berumur panjang. Dalam pengertian ini, Nabi Muhammad dibaca bukan melalui kacamata polemik, melainkan melalui konsistensi hidup yang dijalani.
Cara pandang semacam itu terasa penting di tengah budaya hari ini yang gemar menilai agama secara serba curiga. Refleksi tersebut tidak mengajak kita untuk sepakat secara teologis, tetapi mengingatkan bahwa kejujuran intelektual adalah fondasi dialog apa pun. Bahwa memahami iman seperti memahami manusia menuntut kesediaan untuk melihat dengan adil sebelum menilai. Di titik inilah pesan refleksi itu bertemu dengan gagasan tawakkal kolektif: keduanya berangkat dari pengakuan atas keterbatasan manusia, sekaligus dari usaha menjaga kejernihan sikap agar perbedaan tidak berubah menjadi prasangka, dan keyakinan tidak menjelma kecurigaan sosial.
Titik inilah kita bisa memahami mengapa kejujuran baik intelektual maupun batin menjadi landasan penting dalam menghadapi ketidakpastian hidup bersama.
Berbagai momen genting, manusia mendapati dirinya rapuh. Ketika nalar tidak sepenuhnya mampu menjangkau keadaan, ketika ikhtiar terasa belum cukup, muncullah bahasa lain yang lebih sunyi namun mengikat: doa. Dalam konteks inilah kita menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai tawakkal kolektif sebuah sikap bersama, ketika kepasrahan tidak dijalani sendirian, melainkan dibagi sebagai beban dan harapan yang dipikul bersama.
Tawakkal kolektif bukan tanda menyerah. Ia justru lahir dari kejujuran manusia mengakui batas dirinya. Kejujuran semacam ini semakin jarang kita temui di dunia modern yang menuntut manusia tampil selalu kuat, selalu tahu, dan selalu mampu mengendalikan segalanya. Padahal, hidup berkali-kali menunjukkan bahwa tidak semua hal tunduk pada kehendak kita. Ada peristiwa yang datang tiba-tiba, ada luka yang tak bisa dihindari, dan ada kecemasan yang tak selalu bisa dijelaskan dengan angka atau grafik.
Di sinilah iman menemukan perannya yang paling manusiawi. Ia tidak mematikan nalar, tetapi menenangkannya. Tidak menutup pertanyaan, tetapi mencegahnya berubah menjadi kecurigaan yang melukai relasi sosial. Tawakkal kolektif bekerja sebagai penyangga batin, agar ketakutan tidak menjelma kebencian, dan perbedaan tidak tergelincir menjadi permusuhan. Dalam masyarakat yang rentan oleh arus informasi yang cepat dan sering kali emosional, ketenangan semacam ini bukan kemewahan, melainkan kebutuhan bersama.
Pengalaman konflik sosial berbasis identitas di Indonesia baik yang muncul dalam bentuk polarisasi politik, ketegangan antarwarga, maupun gesekan bernuansa agama menunjukkan bagaimana iman kerap diuji bukan pada ranah keyakinan, melainkan pada sikap batin dan etika sosial. Dalam konteks semacam ini, pemikiran Al-Ghazali terasa relevan ketika ia menegaskan bahwa iman sejati tidak diukur dari kerasnya amarah, melainkan dari kemampuan menenangkan jiwa dan menahan dorongan nafsu. Dalam Ihya’ Ulum al-Din, Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati yang dikuasai kebencian akan kehilangan kejernihan akal, sehingga kebenaran mudah dikalahkan oleh emosi. Tafsir ini memberi pelajaran penting bagi kehidupan sosial kita: tawakkal tidak berarti membenarkan ketidakadilan, tetapi menjaga hati agar perjuangan tidak berubah menjadi permusuhan. Dengan iman yang terkelola secara batiniah, konflik memiliki peluang untuk diredam, dialog bisa dibuka, dan kewarasan sosial tetap terjaga.
Keteladanan Nabi Muhammad, dalam hal ini, tidak pernah dibangun di atas klaim keunggulan kosong. Ia tumbuh dari kejujuran menghadapi realitas manusia apa adanya: rasa takut, lelah, ragu, dan keterbatasan. Justru dari pengakuan itulah lahir kekuatan moral yang tidak bising, tetapi bertahan lama. Barangkali inilah yang ditangkap Carlyle bahwa kejujuran adalah fondasi terdalam dari kepemimpinan dan keteladanan. Kejujuran yang membuat iman tidak perlu berteriak untuk didengar, karena ia hadir sebagai sikap hidup.
Dalam kehidupan sosial hari ini, tawakkal kolektif sering muncul dalam bentuk yang sederhana: doa bersama, empati publik, atau ungkapan saling menguatkan di tengah kabar yang tidak mudah diterima. Praktik ini mungkin tampak remeh, bahkan dianggap klise. Namun justru di sanalah ia bekerja menjaga kewarasan bersama di tengah arus informasi yang sering kali terlalu cepat dan terlalu berat. Doa bersama, dalam pengertian ini, bukan sekadar ritual spiritual, melainkan bahasa sosial yang memungkinkan orang-orang berbeda latar untuk bertemu dalam satu perasaan: sama-sama rapuh.
Penting untuk ditegaskan bahwa tawakkal kolektif tidak meniadakan tanggung jawab. Ia tidak meminta manusia berhenti berpikir atau berhenti bersikap kritis. Sebaliknya, ia memberi ruang agar kritik lahir dari ketenangan, bukan dari kepanikan. Agar perbedaan pandangan dihadapi dengan kejernihan, bukan dengan amarah. Dalam iman yang dewasa, doa dan tanggung jawab berjalan beriringan. Seseorang bisa berserah diri, sekaligus menuntut keadilan.
Kita hidup di zaman ketika kecurigaan mudah tumbuh. Media sosial mempercepat penyebaran kabar, tetapi juga mempercepat penyebaran kecemasan. Dalam situasi seperti ini, manusia membutuhkan jangkar batin agar tidak hanyut. Tawakkal kolektif menyediakan jangkar itu bukan dengan menjanjikan kepastian, melainkan dengan mengajarkan cara hidup bersama di tengah ketidakpastian. Ia mengingatkan bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan kemarahan, dan tidak setiap perbedaan harus berujung pada perpecahan.
Di masyarakat seperti Indonesia, doa kerap menjadi bahasa bersama ketika krisis datang. Ia menembus sekat-sekat sosial dan ideologis, menghubungkan orang-orang yang mungkin tak pernah saling menyapa. Dalam doa publik, kita menemukan satu hal penting: pengakuan diam-diam bahwa kita saling membutuhkan. Bahwa kewarasan sosial tidak lahir dari kemenangan satu kelompok atas yang lain, melainkan dari kemampuan untuk saling menahan diri dan saling menguatkan.
Pada akhirnya, tawakkal kolektif adalah cara manusia menjaga kemanusiaannya. Ia bukan pelarian dari realitas, melainkan cara jujur menghadapi realitas tanpa kehilangan martabat. Di dunia yang mudah curiga, kejujuran adalah keberanian. Dan iman jika dibaca dengan jernih mengajarkan kejujuran yang paling mendasar: bahwa manusia tidak selalu tahu, tidak selalu mampu, dan tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.
Tawakkal kolektif mengajak kita mengakui semua itu tanpa rasa malu. Ia menuntun kita untuk tetap tenang, tetap peduli, dan tetap bersama. Mungkin di sanalah kewarasan sosial berakar: bukan pada keyakinan bahwa kita selalu benar, melainkan pada kesediaan untuk berjalan bersama dalam ketidakpastian, dengan hati yang jujur dan sikap yang saling menjaga.