Di Indonesia, sudut pandang ini bergema dalam sinkretisme keagamaan. Puasa Ramadan bercampur dengan tradisi Jawa seperti tirakat atau puasa mutih, yang bukan hanya Islamis, tapi juga menyentuh akar mistik Kejawaan—sebuah manifestasi Perennial di mana spiritualitas lokal menyatu dengan kebenaran abadi, menghindari dogmatisme dan membangun harmoni antar-tradisi.
Kemudian, Rasūlullāh melanjutkan penjelasannya dengan membacakan ayat suci Al-Qur’ān:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
" Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Sapi Betina [2]: 183).
Ayat ini, yang diturunkan pada tahun kedua Hijriah di Madinah (sekitar 624 M), menegaskan bahwa puasa adalah warisan universal, bukan eksklusif satu umat saja. Dalam perspektif Perennial, "takwa" di sini bukan sekadar ketaatan ritual, tapi kesadaran transenden yang mirip dengan "gnosis" dalam mistisisme Kristen atau "jnana" dalam Vedanta—sebuah pengetahuan intuitif yang melampaui bentuk agama, seperti yang dibahas oleh Martin Lings dalam What is Sufism? (1975), di mana puasa Sufi menjadi sarana untuk mencapai fana (peleburan diri) dalam Tuhan.
Orang Yahudi itu, terkesan oleh kedalaman jawaban Rasūlullāh Saw, dan bertanya lebih lanjut: "Engkau benar, wahai Muḥammad. Lalu, apa balasan dari puasa ini?" Rasūlullāh Saw pun menjawab dengan senyum yang penuh rahmat: "Tidak ada seorang mukmin pun yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan penuh harapan pahala, kecuali Allāh Yang Maha Mulia mewajibkan tujuh keutamaan baginya.
Pertama, makanan haram yang pernah masuk tubuhnya akan lenyap. Kedua, ia mendekat pada rahmat Ilahi. Ketiga, puasa itu menjadi penebus dosa ayah kita Ādam. Keempat, Allāh meringankan sakaratul maut baginya. Kelima, ia terbebas dari kelaparan pada Hari Kiamat. Keenam, Allāh membebaskannya dari api neraka. Ketujuh, ia akan diberi rezeki dari buah-buahan surga."
Karunia keutamaan itu, jika ditilik dari metafisika Tradisional adalah sebagai berikut:
Luruhnya makanan haram menekankan bahwa pori-pori yang disumpal makanan haram akan mengaburkan mata batin. Puasa adalah cara "menguras" tangki energi gelap tersebut. Pembersihan sel-sel tubuh dari sisa energi negatif (syubhat/haram)
Dekat dengan Rahmat Allāh, bukan sekadar kasih sayang, melainkan Pancaran Wujud-Nya. Puasa menipiskan tabir ego (ana), sehingga Cahaya Tuhan memantul lebih terang pada cermin hati. Terbukanya pintu qurb (kedekatan) yang selama ini tertutup gairah syahwat.
Penebus dosa Ādam, serupa pemulihan ontologis. Kita berpuasa untuk membayar “utang eksistensial” kakek-nenek moyang kita, mengembalikan status Khalifah yang sempat terdistorsi oleh nafsu. Rekonsiliasi spiritual antara anak cucu dengan leluhurnya.
Keringanan sakaratul maut. Para Tradisionalis memandang maut sebagai "kelahiran kedua". Seseorang yang terbiasa mematikan nafsu sebelum mati (mutu qabla an tamutu), tidak akan kaget saat nyawanya dicabut. Karena terbiasa "mematikan" keinginan saat hidup, maut menjadi transisi yang lembut.
Bebas dari lapar Kiamat. Lapar di dunia adalah "vaksin spiritual". Dengan merasakan ketiadaan di dunia, jiwa menjadi “kenyang” dengan kehadiran Ilahi di Akhirat. Rasa lapar di dunia menjadi tabungan kekenyangan di hari pencapaian.
Bebas dari Api Neraka. Api neraka adalah ejawantahan dari panasnya syahwat. Puasa yang bersifat dingin dan tenang, menyerap api tersebut sejak kita mukim di dunia. Karena itu, Puasa menjadi perisai yang mendinginkan api amarah dan nafsu.
Rezeki Buah Surga. Inilah perjamuan Surgawi. Saat mulut lahiriah tertutup, mulut batiniah terbuka untuk menikmati rizki makrifatullah. Pemberian santapan ruhani langsung dari hadirat-Nya.
Keutamaan tersebut juga mencerminkan tahapan inisiasi spiritual universal—sedari penyucian fisik hingga pembebasan metafisik, mirip dengan tujuh chakra dalam yoga Tantra atau tujuh tingkat surga dalam mistisisme Yahudi Kabbalah. Di sini, puasa Ramadan, meski ringkas, lebih unggul karena disertai malam Lailatul Qadr yang nilainya melebihi seribu bulan—sebuah malam iluminasi yang paralel dengan pengalaman ekstasis dalam Zen atau Sufisme. Orang Yahudi itu pun mengakui, "Engkau telah mengatakan kebenaran, wahai Muḥammad."
Seorang Tradisionalis seperti Syaikh Īsā Nūrud-dīn menekankan bahwa puasa adalah bentuk nyata dari kefakiran spiritual. Dengan tidak makan, manusia mengakui bahwa secara esensial ia adalah “ketiadaan” yang sepenuhnya bergantung pada Sang Wujud Mutlak. Tigapuluh hari tersebut adalah masa di mana manusia melepaskan ketergantungannya pada "pohon" (dunia), dan kembali bergantung pada Sang Pencipta Pohon. Itulah mengapa Rasūlullāh Saw membacakan ayat kutiba 'alaikumus shiyam, sebagai pengingat bahwa jalan ini adalah Sophia Perennis—hikmah abadi yang juga dijalani umat-umat terdahulu guna mencapai titik Takwa (kesadaran murni).
Kisah ini menjadi undangan bagi kita untuk merenung. Puasa adalah jalan pulang ke fitrah abadi, dengan tetap menghidupkan Tradisi Langit di tengah kekacauan dunia modern. Puasa harus menjadi momen rekonsiliasi antar-agama, menghindari eksklusivisme, dan menyulam harmoni melalui kebenaran perennial yang melampaui segala bentuk. []