Bangunan fisik Ndalem Padmasusastra telah diruntuhkan. Banyak peristiwa sejarah di sana. Ingatan sastra, sejarah kota, dan khazanah budaya Jawa awal abad ke-20 dalam Padmasusastra.
Foto: Kahanan Pictures
Solo belum selesai dengan sengketa di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berita-berita mengenai kekuasaan Jawa menimbulkan gejolak-gejolak melelahkan dan membosankan. Pada hari tak diramalkan, gegeran malah tercipta di titik mengandung sejarah dan kesusastraan. Tempat dinamakan Ndalem Padmasusastra dirubuhkan (22 Januari) demi mengadakan bangunan baru. Berita itu cepat beredar membikin kaget pelbagai pihak.
Mereka ingin lekas bersikap atau berpendapat mengenai rumah (ndalem) ketokohan, sejarah, kota, dan lain-lain. Pada saat suguhan kecewa dan protes berseliweran di gawai, ada kebingungan dalam menetapkan kemuliaan Padmasusastra (1841-1926). Orang-orang di Solo tak terlalu mengakrabi gubahan-gubahan Padmasusastra. Mereka masih saja menjadi penikmat warisan Jasadipura II, Ranggawarsita, Paku Buwana IV, dan Mangkunegara IV.
Solo memang bergelimang sastra. Nama-nama besar lahir dan bertumbuh di Solo tapi pengaruh mereka berbeda kadar dan durasi. Pada saat tempat bersejarah mengalami gejolak, orang-orang merasa terpanggil untuk membaca lagi warisan-warisan Padmasusastra, diterbitkan sejak akhir awal abad XX. Sekian buku sudah mengalamai cetak ulang oleh pihak pemerintah sebagai pemenuhan janji pelestarian.
Hari-hari bersedih atas keruntuhan Ndalem Padmasusastra meninggalkan bingung bagi orang-orang ingin mendapatkan teks atau buku lama. Tempat itu terus bersengketa oleh ahli waris tapi kemauan membaca lagi beragam tulisan Padmasusastra mungkin sedikit penebusan dosa. Solo itu Padmasusastra, tak melulu Ranggawarsita.
Kita perlu membuka buku berjudul Kebudayaan Jawa (1984) susunan Koentjaraningrat. Kesadaran atas sastra atau keaksaraan di Jawa turut dipengaruhi pendidikan (modern) dan pembentukan kultur kota. Solo menjadi ruang bertumbuh tradisi dan gagasan-gagasan baru dalam pengecapan Jawa. Ungkapan-ungkapan seni menjadi perwujudan cara hidup Jawa saat modernitas bergerak dan anutan atas tradisi masih memberi ruh.
Solo menjadi pusat semaian seni, Sastra pun marak dengan keagugungan dan kesanggupan menanggapi zaman. Di situ, Ranggawarsita membuat capaian-capaian dalam sastra. Pada arus berbeda, Padmasusastra turut hadir tanpa kemutlakkan mengikuti corak sastra para pendahulu. Selera prosa digencarkan Padmasusastra, memberi panggilan “terbuka” agar orang-orang mau membaca tanpa kerumitan seperti dalam bentuk tembang.
Koentjaraningat mengingatkan pemberlakauan bahasa Jawa sebagai bahasa kesusastraan dan bahasa keseharian. Akhir abad XIX dan awal abad XX terjadi pembentukan bahasa-kesusastraan dalam mengesahkan kehadiran elite terpelajar dan kaum priyayi. Jawa menjadi kiblat saat beragam pengaruh sudah ikut memberi bentuk dan geliat sastra Jawa.
Pada suatu masa, pengaruh-pengaruh itu mewujud dalam perkembangan sastra Jawa melalui mesin cetak dan penerbitan: memilih penggunaan huruf Latin. Padmasusastra mengabdi dan memberi pengaruh dalam alur perubahan besar saat kesusastraan Jawa bisa terbaca dalam edisi buku dan berhuruf Latin.
Kiai Padmasusastra, pengarang serat Tata Cara.
Warisan agak mudah terbaca dari Padmasusastra adalah Tata Cara. Kita mendapat edisi terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1980). Teks dari masa lalu itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Soenarko HP. Kini, kita kehilangan Ndalem Padmasusastra tapi masih bisa memuliakan tokoh besar dengan membaca Tata Cara. Pembacaan telat dan sejenak.
Tata Cara berisi cerita-cerita mengenai penghidupan, sejak kelahiran sampai kematian. Hal-hal sederhana dalam keseharian mendapatkan perhatian dalam keinginan melakoni cara hidup Jawa. Modernitas telah meresep mengakibatkan Jawa dalam keselarasan dalam jalinan “lama” dan “baru”. Padmasusastra mendokumentasi dan suguhkan cerita-cerita sebagai referensi hidup awal abad XX di Jawa.
Kita membaca masalah makanan. Kepentingan menikmati makanan mempertimbangkan selera dan anggaran. Kita mengutip cerita mengenai berbelanja untuk beragam masakan. Hamba mendapat perintah dan nasihat: “Ikan/daging atau masakan Belanda hendaknya engkau bersedia sendiri untuk di depan. Jangan kau campur dengan yang belakang. Sebab, merepotkan kerja para wanita. Untuk menghidangkannya berselang-seling dengan masakan Jawa dan buah-buahan, bicarakan dengan pengurus dapur. Berapa piring yang kau minta, bagian belakang akan menyediakannya.” Kita mengimajinasikan tata cara memasak dan makan pada masa lalu, menghadirkan pelbagai olahan Barat dan Timur.
Kita ikuti perdebatan penggunaan uang, pilihan tempat berbelanja, dan mutu. Kita sekadar membaca cerita. Anjuran membeli minuman ditanggapi dengan usul membeli ke loji. Usulan berbeda muncul: “Apakah tidak lebih baik ke Pecinan untuk mendapat yang lebih murah.” Usulan lekas ditanggapi: “Bagaimana engkau ini? Kecuali jelek minuman dari Pecinan itu sering dipalsu. Karena itu harganya sangat murah jika dibandingkan dengan minuman di loji.”
Penjelasan itu mengusik: “Apakah juga berlaku untuk cerutu, mentega, keju, dan makanan dalam kaleng?” Penjelasan lanjutan diberikan demi kepastian: “Begitulah. Engkau dapat menganggapnya begitu semua. Yang dapat kau percaya hanya teh, cengkeh, gula batu, manisan, yang semuanya baik. Namun, waspadalah terhadap timbangannya.”
Percakapan itu mengingatkan peradaban kuliner masa lalu. Pembaca pun menemukan Solo sebagai ruang dalam selebrasi mengadakan beragam makanan dan minuman. Perintah berbelanja pelbagai hal dianjurkan ke Beton dan Kemlayan. Tempat-tempat itu berada di Solo.
Sekian hajatan diadakan oleh keluarga Jawa, memerlukan hidangan demi kepantasan dan kehormatan. Padmasusastra seolah menjadi “pelestari” dengan mengungkapkan sekian ketetapan dan perubahan terjadi di Jawa. Sejak halaman-halaman awal, kita membaca masalah keluarga Jawa. Di keluarga, pribadi-pribadi dibentuk agar memiliki kemuliaan mengacu tata cara Jawa dan insaf atas modernitas.
Tata Cara itu bisa menjadi referensi mengusut keluarga Jawa, dari masa ke masa. Di buku susunan Hilderd Geertz berjudul Keluarga Jawa (1983), kita mendapat penjelasan: “Jawa telah memeluk peradaban kota sekurang-kurangnya selama seribu lima ratus tahun. Mayoritas penduduk merupakan petani yang tinggal di desa-desa, tapi desa mereka terletak tidak jauh dari kota. Sangat banyak orang kota yang lahir di desa. Cara hidup kota dengan demikian bukanlah asing bagi setiap orang Jawa mana pun.
Dalam hubungan ini, mudah dipahami jika pertalian keluarga dengan ikatan-ikatan sosialnya yang ketat, khas, dan askriptif itu hanya memainkan peranan sekunder dalam struktur masyarakat Jawa sebagai keseluruhan, bertentangan dengan peranan sebagai proses yang dimainkan oleh pertalian keluarga ini di dalam masyarakat tradisional dalam membangun kekuatan ekonomi, politik, dan keagamaan.”
Kita membuka halaman-halaman Tata Cara agar tak terlalu kecewa dengan peruntuhan Ndalem Padmasusastra. Pada saat membaca sejenak, kita justru diingatkan tentang kuliner, keluarga, kemajuan kota, dan anutan Jawa. Rumah tinggalan itu tak lagi bisa ditatap mata tapi sekuan warisan berupa buku masih menunggu para pembaca. Penghormatan besar itu membaca sambil mengusahkan segala warisan mendapat makna bagi publik di Solo, sebelum menghilang tanpa jejak dan ingatan. Begitu.