Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam adalah Isra Mikraj. Ini adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad Saw, dari masjid Haram di Mekah ke Masjid Al-Aqsa di Palestina, kemudian naik ke langit Sidratul Muntaha. Peristiwanya diabadikan dalam Al-Qur’an, ayat pertama di surah Al-Isra’/17.
Ia merupakan perjalanan spiritual paling puitis sekaligus dramatis yang terjadi dalam sejarah Islam: sebuah perjalanan manusia melintasi dimensi ruang dan waktu, sekaligus menyatunya dimensi manusia yang bersifat historis-immanen menuju dimensi Ilahi yang bersifat transenden.
Pertanyaan yang penting kita ajukan adalah apa makna peristiwa Isra Mikraj bagi manusia modern yang telah terdistraksi dalam dunia digital sekarang dan bagaimana kita menyerap spirit peristiwa ini?
Sebagai manusia modern, kita kini hidup dalam dunia baru yang super cepat, akibat dari transformasi dunia digital. Kita tidak lagi menembus langit, tetapi menembus layar digital. Kita tidak lagi naik Buraq, tetapi naik jaringan melalui jalur internet, serba cepat dan melibas ruang dan waktu.
Dalam dunia digital semacam ini, manusia sering disibukkan oleh hiruk-pikuk algoritma, notifikasi, dan kecanduan dopamin digital, yang dalam kadar tertentu melahirkan kekacauan moral dan aneka rupa kejahatan digital. Manusia sering terjebak pada aspek permukaan yang artifisial dan abai pada hakikat hidup dan kesadaran eksistensial. Kebanyakan mereka berada dalam situasi yang oleh Martin Heidegger, disebut das man, yakni kehidupan yang tenggelam dalam keramaian, rutinitas, dan aneka kesibukan, tetapi tanpa kesadaran eksistensial dan kehilangan makna hidup. Kita bisa hadir di mana-mana, tapi sebagai diri, manusia tidak sungguh-sungguh hadir di mana pun. Situasi yang diekspresikan dengan scroll-scroll tanpa henti yang menjadi pintu kejatuhan eksistensial.
Peristiwa Isra Mikraj bisa menjadi jalan kita kembali pada hakikat hidup bila memahami pesan moral dan idealitasnya. Pertama, ia adalah ruang untuk mengingat asal-usul dan kejadian manusia. Secara filosofis, Isra Mikraj adalah deklarasi bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk berjalan dan hidup di bumi. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa material keterciptaan manusia adalah tanah, tetapi di dalam dirinya oleh Allah juga meniupkan ruhnya yang bersifat spiritual (QS. Al-Sajdah: 9).
Ini artinya, dalam diri manusia, selain hal-hal yang bersifat jasadi-material, ada juga unsur ilahiah yang bersifat spiritual. Tapi, banyak orang yang pikirannya setinggi gedung, tapi jiwanya serendah debu. Ambisinya menembus langit, tapi doanya bahkan tidak pernah naik ke level spiritual dan terjebak pada level material yang justru membebani hidupnya. Kita ini seperti HP mahal yang dipakai hanya untuk kalkulator: potensinya besar, tapi digunakan untuk hal remeh. Isra Mikraj mengingatkan hal yang kebalikan total dari realitas semacam ini, yaitu tentang sebuah lonjakan vertikal kesadaran, bukan pelayaran horizontal informasi.
Plato pernah mengisahkan mengenai manusia dalam gua yang hanya melihat bayangannya sendiri. Hari ini, gua itu ada dalam dunia digital kita, bernama timeline. Kita tidak melihat realitas, tapi representasi, bayang-bayang kita. Kita sering tidak menyentuh makna, dan hanya cuplikan-cuplikan sensasi. Peristiwa Isra Mikraj dalam konteks kehidupan yang demikian, merupakan exit from the cave: keluar dari bayangan menuju cahaya makna, yang sejati.
Kedua, memahami tujuan hidup (paraning dumadi). Orang yang tidak mengerti dengan baik tentang asal-usul dan kejadian dirinya, tidak memahami pula tujuan hidupnya yang sesungguhnya. Al-Qur’an menyatakan bahwa tujuan diciptakaan manusia adalah beribadah dan tunduk pada Allah. Dalam bentuk yang sangat luas, menjadikan semua aktivitas kita sebagai ekspresi kebajikan dan ketundukan pada Allah. Oleh karena tidak mengerti dan tidak memahami tujuan hidupnya, maka manusia mudah kehilangan makna hidup dan akhirnya mengalamai alienasi dan krisis spiritualitas.
Penderitaan manusia modern di masa kini, kata Viktor Franskl, karena defisit makna dan spiritualitas. Defisit makna ini terjadi karena mereka tidak memahami atau keliru memahami tujuan hidupnya. Situasi ini yang oleh Carl Jung disebut manusia yang terjebak di permukaan dan melupakan kesadaran spiritualitas sebagai paraning dumadi.
Akibatnya, manusia diselimuti kehampaan eksistensial, kecemasan tanpa sebab, kecanduan distraksi. Media dan dunia digital menambah inflasi ego serta kemiskinan makna sekaligus; membuat jiwa manusia lelah dengan hal-hal yang material. Aneka rupa stimulasi diberikan dalam dunia digital tanpa henti, tetapi sering tidak memberikan tujuan, apalagi makna hidup yang sesungguhnya. Notifikasi memicu dopamin, tetapi melemahkan kapasitas kontemplasi. Kita menjadi masyarakat yang mudah terangsang dengan hal-hal yang material dan artifisial, tapi tidak tercerahkan dan kehilangan dimensi spiritual dan hal-hal yang hakiki.
Ketiga, mengekspresikan ketundukan diri pada Allah sebagai tujuan hidup. Salat sebagai hasil dari Isra Mikraj adalah sarana manusia membangun dan mengekspresikan ketundukan diri. Nabi Muhammad menyebutnya sebagai mi’rāj al-mukmin, yakni perjalanan dan tahapan menuju Tuhan yang transenden sebagai ekspresi ketundukan.
Sebagai ekspresi ketundukan, di dalam salat perlu dilekatkan kekhusyukan, yakni Allah, sumber kebajikan dan kemuliaan, sebagai satu-satunya arah dan subjek penyerahan diri. Mukmin yang salatnya khusyuk ini yang diekpresikan Al-Qur’an sebagai diri yang beruntung (QS. Al-Mu’minun: 1-2). Bila dalam salat kita tiada kekhusyuan, kita kehilangan fungsi spiritualitasnya. Kita memiliki kesempatan menaiki jenjang spiritual (mikraj) lima kali sehari melalui salat. Tapi, sering badan kita salat, tapi pikiran scroll timeline; mulut takbir, tapi hati masih di pasar dan ruang politik; sajadah jadi tempat tubuh, tapi bukan tempat jiwa dan rasa.
Keempat, menyambungkan diri pada Ilahi. Lelaku ini bisa dilakukan melalui salat. Itulah mengapa Al-Qur’an mengisahkan bahwa salat yang tidak mengangkat jiwa manusia menuju Tuhan, hanya menggerakkan raga, diancam dengan neraka. Kita bisa membayangkan kondisi ini dengan situasi sinyal penuh di gawai kita, tapi tidak terhubung. Bayangkan seseorang berdiri di tempat dengan sinyal penuh 5 bar, tapi salah password wifi atau modemnya rusak. Ia tetap tidak bisa terhubung.
Menghadirkan dan menyambungkan diri ke Allah menjadi jalan penting meski tidak mudah dilakukan. Sujud adalah sikap utama dalam salat yang menyadarkan kita sebagai hamba. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad berpesan, melalui riwayat Muslim: sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia sujud (aqrabu mā yakūnu al-‘abdu min rabbihī wa huwa sājidun).
Kelima, membenahi arah hidup dan menata hati. Masalah orang-orang di masa kini seringkali adalah salah arah, tiadanya visi dalam perjalanan hidup. Seperti orang naik lift super cepat, tapi salah gedung atau salah tangga pemberhentian. Ketenangan tidak turun dari hal-hal yang material, tapi dari dalam jiwa kita melalui hati sebagai pintu. Nabi Muhammad menjelaskan perihal jiwa sebagai penentu kompas hidup manusia. Melalui riwayat Bukhari dan muslim, dikatakan bahwa dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.
Jiwa yang konsisten dalam mengingat Allah (żikrullāh) akan memperolah ketenangan sejati (QS. Al-Ra’d: 28). Zikr sebagai ekspresi dan kesadaran bahwa Allah sebagai sumber kebenaran dan kebaikan, sekaligus mewujudkan nilai-nilai mulia tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Makna dan rasa hidup hanya bisa dialami melalui lelaku. Inilah yang disebut Kierkegaard bahwa iman adalah leap of faith, yakni lompatan eksistensial yang tidak bisa digantikan oleh data atau logika.
Sebagai simbol, Isra Mikraj bukan hanya kisah perjalanan Nabi Muhammad, tapi undangan untuk kita semua: naik dari hidup yang dangkal ke hidup yang bermakna. Naik dari rutinitas kosong ke ibadah yang menghidupkan. Naik dari dunia yang ribut ke hati yang khusyuk. Karena manusia yang tidak pernah naik ke ruang spiritual yang bersifat transenden, akan selamanya lelah dalam hiruk-pikuk di bumi.
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa perjalanan sejati bukan ke luar, tapi ke dalam diri. Barangsiapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya. Isra Mikraj, adalah simbol perjalanan kebangkitan kesadaran dari ego menuju Tuhan.
Jalaluddin Rumi membuat perumpamaan bahwa manusia punya sayap, tetapi lupa cara terbang, karena terlalu sibuk menghitung debu material dunia. Gadget memberi kita kecepatan, tetapi tasawuf memberi kita ketinggian. Dunia digital bisa menjadi neraka distraksi atau tangga kesadaran, tergantung apakah kita menggunakannya untuk melarikan diri atau menemukan diri.
Mi’raj zaman ini bukan naik ke langit, tetapi naik dari reaksi menuju refleksi,
dari impuls menuju kesadaran, dari keramaian menuju keheningan. Di era digital, kita tidak lagi menunggang Buraq, untuk menjalani Isra Mikraj. Tapi kita masih bisa menghentikan notifikasi, menyalakan kesadaran, melipat dunia, dan membuka diri sebagai ruang batin. Karena Sidratul Muntaha sejati saat ini bukan di atas di langit, tapi di kedalaman jiwa. Dan di sanalah, jika kita berani diam cukup lama, kita akan mendengar kembali panggilan langit yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dan hasrat dunia.[]