Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, pendiri tarekat Qadiriyah, dikenal karena keikhlasannya dalam membantu orang lain tanpa pamrih. Ia sering memberikan nasihat, makanan, atau perlindungan tanpa mengharapkan pujian atau imbalan dunia. Keikhlasan ini menjadi karomah yang mendatangkan keberkahan tak terduga.
Bagi generasi modern, keikhlasan Al-Jilani adalah teladan menghadapi dunia yang sangat kompetitif. Ketika banyak orang berfokus pada pengakuan atau materi, keikhlasan justru memunculkan energi positif yang membawa kesuksesan sejati.
Ia menekankan bahwa setiap tindakan yang ikhlas akan kembali pada pelaku dalam bentuk rahmat, kadang melalui cara yang tidak terlihat. Misalnya, kebaikan yang dilakukan hari ini bisa menghasilkan jaringan dukungan atau peluang di masa depan.
Keikhlasan yang dimiliki Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini juga relevan bagi profesional muda yang sering merasa lelah bersaing. Dengan niat murni, mereka bisa tetap konsisten dan menorehkan dampak positif, tanpa terjebak pada pencapaian instan.
Dalam praktik spiritual, Abdul Qadir Al-Jilani mengajarkan bahwa keikhlasan adalah cara membersihkan hati dari riya dan kesombongan. Generasi sekarang bisa meniru ini melalui layanan sosial, mentoring, dan kegiatan kreatif yang memberi manfaat.
Melalui Al-Jilani kita dapat belajar bahwa keikhlasan meningkatkan ketenangan batin. Orang yang ikhlas tidak terbebani oleh tekanan sosial atau ekspektasi orang lain, sehingga lebih fokus pada tujuan hidup yang berarti.
Dengan menumbuhkan keikhlasan maka kita membuka pintu kesuksesan yang sejati: hati yang lapang, hidup yang berkah, dan hubungan yang harmonis dengan manusia dan Tuhan.