Sedang Membaca
Perlunya Berpikir Positif di Tengah Pandemi Covid-19
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Perlunya Berpikir Positif di Tengah Pandemi Covid-19

Img 20210528 Wa0000

Di tengah masa pandemi Covid-19 yang hingga kini belum jelas kapan berakhir, setiap orang perlu dan harus terus tetap berpikiran positif. Sebab dengan pikiran positif itulah, seseorang akan dapat menghadapi hari-hari ke depan dengan cara yang lebih baik.

Demikian disampaikan Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) H Syaifullah Amin dalam Pesantren Digital Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) bertajuk ‘Optimis dan Waspada di Tengah Pandemi’, pada Jumat (28/5).

“Kita lihat selama setahun ini sebagai sebuah pelajaran, ternyata kita mampu bertahan, memiliki ketahanan yang cukup tangguh, dan tidak terjadi hal-hal yang selama ini dikhawatirkan,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Direktur Aswaja TV ini.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sisi kemanusiaan setiap orang pun menunjukkan dan mampu mempertahankan keteraturan sosial di kehidupan bermasayarakat. Terbukti dengan adanya kemampuan bertahan dan tumbuh kesadaran untuk saling berbagi satu sama lain.

“Pandemi ini meningkatkan kesadaran untuk membantu di antara sesama dan meningkatkan kesadaran untuk bahu-membahu mengatasi keadaan-keadaan yang sulit. Tentu, ini adalah sebuah kabar gembira dan kenyataan yang patut kita disyukuri,” jelas Amin.

Menurutnya, selama ini bangsa Indonesia telah dididik jika sisi kemanusiaan hilang maka secara otomatis ketika dihadapi oleh sesuatu yang berbahaya, maka keutuhan bermasyarakat tidak akan bertahan lama. Namun kenyataan berkata lain, pandemi justru mengukuhkan persaudaraan kemanusiaan.

Baca juga:  Hasyim Wahid, Sang Pendidik Aktivis

“Sehingga kita mampu bertahan sebagai pribadi-pribadi, kita mampu bertahan sebagai masyarakat yang teratur, dan kita mampu bertahan sebagai masyarakat yang terus mempertahankan nilai-nilai keagamaan,” katanya.

Beberapa kekhawatiran memang sangat mengganggu umat Islam ketika terdapat pembatasan-pembatasan ibadah. Orang-orang menjadi timbul ketakutan akan tertular virus mematikan ini. Bahkan ada saja sebagian kelompok yang mencurigai pembatasan ibadah di masjid sebagai upaya membatasi gerak umat Islam.

“Tapi kenyataan tidak menunjukkan demikian. Sungguh ini bukanlah hal yang perlu diperpanjang karena kita tahu bahwa Covid-19 berdampak kepada seluruh manusia tanpa peduli latar belakangnya. Semua terkena dampak,” ujar Ketua DKM Al-Munawaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

“Tidak peduli apakah dia orang Islam yang dibatasi pelaksanaan ibadahnya, atau juga non-Muslim yang sama saja dibatasi dalam pelaksanaan ibadah mereka. Ini memberikan pelajaran bahwa tidak semestinya kita berprasangka negatif. Karena pandemi ini bukan ditujukan untuk menghancurkan umat Islam,” imbuh Amin.

Karena itu, dalam urusan pandemi Covid-19, sebagai sesama manusia hendaknya saling bahu-membahu untuk menanggulangi dan segera keluar dari situasi yang sangat tidak mengenakkan ini. Siapa pun perlu melakukan kerja sama tanpa memandang keyakinan dan latar belakang apa pun.

Menurut Amin, pandemi Covid-19 berkaitan erat dengan urusan keselamatan jiwa manusia sehingga tidak dibutuhkan lagi kesamaan akidah untuk menjalin kerja sama. Hal ini berbeda dengan urusan-urusan internal agama seperti ibadah yang mengharuskan kesamaan akidah.

Baca juga:  KBRI London dan NU Inggris Siapkan Skema Diplomasi Sains

“Misalnya ketika kita melaksanakan shalat, maka yang boleh shalat itu hanya yang beragama Islam saja. ketika kita melaksanakan zakat fitrah, maka hanya boleh diberikan kepada orang-orang yang seagama saja,” jelasnya.

“Tapi tidak semua hal yang terkait agama hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang seagama saja. menolong orang, bermuamalah, dan bertransaksi itu boleh dilakukan oleh siapa pun. Ketika ada orang kecelakaan di jalan, kita tidak lagi harus bertanya apa agamanya sebelum kita menolongnya. Begitu juga seandainya kita yang celaka, ditolong orang, kita tidak perlu ditanya apa agama orang yang menolong kita,” imbuhnya.

Demikian halnya dalam urusan pandemi Covid-19 ini yang tidak perlu menanyakan agama seseorang untuk diajak bahu-membahu dan kerja sama untuk mengatasi keadaan yang sulit ini. Bahkan, jalinan kerja sama itu sama sekali tidak mengurangi kadar ketakwaan, kehambaan, dan keimanan di hadapan Allah.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top