Sedang Membaca
Humor Gus Zaki Tebuireng dan Ikan Lohan

Humor Gus Zaki Tebuireng dan Ikan Lohan

Hamzah Sahal

Suatu hari, Gus Zaki Hadzik muda, Salah satu pengasuh di Pesantren Tebuireng, didatangi penjual ikan Lohan. “Ini ikan lohan istimewa, Gus,” kata Gus Zaki menirukan penjual ikan Lohan.

“Apa istemewanya, Pak?” tanya Gus Zaki antusias. Waktu itu, Lohan sedang tren, harganya mahal.

“Sisik hitamnya membentuk huruf Y, A, I. dibaca “yai”,” jelas penjual ikan. “Yai” itu “kiai”. Gus Zaki yang waktu itu masih SMA dan bercita-cita menjadi kiai, tertarik dengan penjelasan penjual Lohan.

Ketertarikan Gus Zaki bukan tanpa alasan, selain sisik ikan Lohan itu unik, tapi juga kalangan santri meyakini bahwa ikan adalah binatang yang mendoakan manusia yang sedang menuntut ilmu. Tidak sedikit pesantren yang melarang para santrinya makan ikan, karena alasan itu.

Akhirnya Gus Zaki membelinya, dengan harga tidak murah. Hari-hari setelah itu, dia sibuk dengan Lohan: mengganti air, lampu akuarium, memberi makan ikan, dan tentu saja, mengamati sisik ikan bertuliskan “yai”.

Gus Zaki senang dengan pertumbuhan Lohan, makin lama makin gemuk si ikan. Tapi pada bulan kelima, Gus Zaki terkejut bukan main. Sisik hitam ikan Lohan ada yang berubah.

Baca Juga

Huruf A dan I tetap, dan makin jelas. Huruf Y juga makin jelas, tapi bentuk berubah, dari Y menjadi T,. Tiga huruf yang di tubuh Lohan berubah, dari semula terbaca “Yai”, menjadi “Tai”.

Baca juga:  Ulama Maroko: Indonesia Negeri Surga

“Astagfirullah,” kata Gus Zaki sambil geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian, empunya ikan memanggil santri, “Kang, goreng saja ini Lohan.”

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top