Serangan militer Zionis Israel dan Amerika Serikat di Iran yang membanjiri linimasa media beberapa minggu lalu merupakan titik nadir di penghujung Februari 2026, persis di momen sakral bulan suci puasa. Publik dibuat cemas dan gemetar apabila Perang Dunia Ketiga akan benar-benar terjadi di tengah krisis multidimensi saat ini. Media internasional seperti Reuters (2026), The Guardian (2026), dan Associated Press (2026) telah merilis bahwa serangan tersebut dikaitkan dengan eskalasi geopolitik terkait program nuklir yang dituduhkan ke Iran.
Iran yang selama ini kental dengan framing Syiah dianggap sebagai laskar pendukung teroris di Gaza, Palestina. Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya telah memberi label negara-negara Muslim sebagai sarang teroris yang mengancam dunia Barat. Gugurnya Ali Khamenei menyebabkan pemerintah Iran menetapkan masa berkabung selama 40 hari sebagai respons simbolik atas kematian pemimpin tertinggi sekaligus tokoh spiritual bagi para pengikut dan pendukungnya (The Guardian, 2026).
Dalam konteks negara Iran, posisi pemimpin tertinggi bukan hanya jabatan politik, tetapi juga figur religius yang menjadi poros legitimasi teologis sekaligus simbol identitas nasional. Gugurnya Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar kehilangan pemimpin tertinggi negara, melainkan peristiwa simbolik yang menyentuh struktur emosi dan memori kolektif bagi sebagian besar penduduk Iran yang mayoritas Syiah.
Duka, Ritual, dan Memori Kolektif
Di Indonesia yang mayoritas Sunni, seringkali dibenturkan dengan pelbagai propaganda tentang Syiah sehingga tidak jarang terjadi eskalasi konflik Sunni-Syiah. Konflik Syiah di Sampang Madura pada tahun 2011 menjadi salah satu contoh trauma kolektif yang membuat orang-orang Syiah diusir dan mengungsi dari tanahnya sendiri.
Tradisi Syiah memiliki sejarah panjang dalam mengartikulasikan penderitaan melalui narasi martir yang berakar pada peristiwa Karbala. Praktik berkabung selama 40 hari (chehelom) adalah bagian dari struktur ritual dan sarat simbolik yang memperkuat solidaritas sosial untuk mempertegas memori kolektif atas kehilangan figur penting seperti Imam Khamenei. Dengan demikian, masa berkabung tidak merupakan fenomena simbolik untuk mengonsolidasikan identitas nasional di tengah ancaman politik eksternal (Reuters, 2026).
Dalam pendekatan antropologi politik, duka kolektif berfungsi sebagai mekanisme bertahan untuk memproduksi dan memproses makna dalam sejarah Syiah yang selama ini sering kehilangan figur utama yang dibunuh secara tragis. Peristiwa ini lebih dari sekadar benturan ideologi politik namun juga menjadi objek naratif yang memperlihatkan bagaimana agama, negara, dan memori kolektif saling berkaitan.
Framing Media Barat dan Wacana Ancaman
Seperti yang kita ketahui selama ini bahwa sebagian besar laporan media Barat menggambarkan Iran sebagai ancaman keamanan global yang menyimpan amunisi nuklir dan sebagai pendukung jaringan terorisme (Associated Press, 2026). Sejak peristiwa 11 September 2001, banyak studi menonjolkan media “Barat” yang merepresentasikan negara-negara Muslim sebagai lokus ideologi terorisme skala transnasional. Bahasa seperti rezim radikal, kelompok militan jihadis, atau ancaman ekstrimisme kerap muncul dalam membentuk wacana geopolitik internasional tentang label Iran, Syiah, hingga dukungan terhadap Hamas atau Hizbullah yang diklaim dunia Barat sebagai kelompok Teroris.
Meminjam teori orientalism Edward Said (1978) yang menjelaskan bahwa “Barat” secara historis membangun representasi tentang dunia “Timur” sebagai irasional, berbahaya, ancaman dan membutuhkan kontrol dunia “Barat”. Orientalisme bukan sekadar stereotip budaya, melainkan sistem pengetahuan yang menopang relasi kuasa kolonial dan pascakolonial.
Dalam konteks konflik Iran, framing media yang menempatkan negara Muslim sebagai ancaman permanen dapat dibaca sebagai reproduksi wacana orientalis—di mana peradaban “Barat” dipersepsikan sebagai rasional, sementara negara-negara Muslim atau dunia “Timur” dianggap emosional, terbelakang, dan fundamentalis dalam pandangan agama yang ekstrem sehingga harus dilunakkan.
Said juga menekankan bahwa representasi bukanlah refleksi netral realitas, melainkan bagian dari struktur kekuasaan yang membentuk cara publik memahami narasi negara-negara “Timur” dan “Barat”. Hal ini juga didukung dengan pendekatan occidentalism yang digagas oleh antropolog seperti Talal Asad (2003), bahwa menurutnya dunia Islam memiliki tradisi diskursif yang tidak bisa disentuh dan dipahami oleh kacamata “Barat” secara obyektif. Dengan demikian, imajinasi tentang Iran tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang konstruksi wacana dunia “Barat” terhadap dunia “Timur” yang identik dengan peradaban Islam.
Dialektika Narasi Global dan Realitas Lokal
Agresi militer Israel dan Amerika Serikat di Iran telah memperlihatkan dialektika antara narasi global dan pengalaman lokal. Di tingkat internasional, peristiwa tersebut diposisikan sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas kawasan di Iran yang selama ini dalam tekanan politik dunia “Barat”. Di tingkat domestik Iran, ia dibingkai sebagai agresi terhadap kedaulatan dan simbol keagamaan sebagai identitas nasionalisme yang mutlak.
Pendekatan antropologis mengajak kita melihat bahwa konflik bukan hanya soal kalkulasi militer, tetapi juga produksi makna. Kematian seorang imam besar menjadi titik pertemuan antara agama, negara, dan identitas kolektif. Peristiwa ini mengingatkan bahwa dalam arena konflik internasional selalu memiliki dimensi simbolik yang melampaui medan perang.
Membaca duka Iran secara antropologis berarti memahami bagaimana mereka memaknai kehilangan dengan penuh duka cita. Ayatollah Ali Khamenei dengan berbagai kontroversinya tetap akan selalu dikenang sebagai martir sejati oleh para pengikut setianya. Bagi mereka ia tidak hanya dipandang sebagai ilmuwan sekaligus politisi militan yang berani mempertaruhkan leher demi melindungi kedaulatan Iran dari intervensi dunia “Barat”.