Kita hidup dalam dunia yang semakin terhubung oleh teknologi, tapi paradoks hubungan manusia justru semakin terasa. Jarak geografis semakin pendek, tetapi jarak batin sering kali semakin panjang dan penuh sekat. Kita dapat berbicara dengan seseorang yang berada di benua lain hanya dengan sentuhan jari, namun tidak jarang gagal menyapa orang yang sesungguhnya paling dekat dengan kehidupan kita. Kita hidup dalam era komunikasi yang melimpah, tetapi pada saat yang sama mengalami kelangkaan perjumpaan yang tulus.
Dalam tradisi sufi kita telah diingatkan: "Siapa yang menginginkan kedekatan denganmu, ia akan mendekat. Siapa yang ingin melihatmu, ia akan datang. Siapa yang ingin mendengar suaramu, ia akan menghubungimu. Hal-hal itu biasanya tidak dihalangi oleh keadaan, tetapi oleh kurangnya keinginan atau oleh kesombongan."
Nasihat ini tampak sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna. Ia mengingatkan bahwa banyak persoalan yang kita anggap berasal dari faktor eksternal sejatinya berakar pada kondisi internal manusia. Kesibukan, jarak, keterbatasan waktu, bahkan perbedaan status sosial sering kali hanyalah lapisan permukaan. Di balik semuanya itu terdapat dua penghalang utama yang bekerja secara diam-diam dalam diri manusia, yaitu melemahnya kerinduan dan membesarnya ego.
Kita ini, kata Jalaluddin Rumi, sebagai makhluk yang digerakkan oleh cinta dan kerinduan. Kehidupan seseorang pada akhirnya mengikuti arah hatinya. Apa yang dicintai akan dicari, apa yang dirindukan akan diperjuangkan, dan apa yang dianggap penting akan memperoleh ruang dalam perhatian serta waktunya. Kerinduan ini, kata Jalaluddin Rumi lebih lanjut, bukan sekadar emosi, melainkan energi eksistensial yang menggerakkan kehidupan. Ketika kerinduan hadir, jalan yang sulit terasa ringan. Ketika kerinduan hilang, jalan yang mudah pun terasa berat.
Pandangan ini memiliki resonansi dalam psikologi modern. Abraham Maslow misalnya pernah menjelaskan bahwa perilaku manusia digerakkan oleh kebutuhan, motivasi, dan nilai yang dianggap bermakna. Apa yang menjadi prioritas dalam kesadaran seseorang akan menyerap energi psikologisnya. Karena itu, persoalan manusia sering kali bukan tidak memiliki kesempatan, melainkan tidak menempatkan sesuatu sebagai prioritas dalam batinnya.
Kita sering mengatakan tidak memiliki waktu untuk membaca, beribadah, mengunjungi orang tua, atau menyapa sahabat lama. Namun pada saat yang sama kita mampu menghabiskan waktu berjam-jam di hadapan layar telepon genggam. Persoalannya bukan semata-mata soal waktu, melainkan soal orientasi nilai.
Keadaan semacam ini dalam tradisi tasawuf disebut raghbah, yaitu hasrat yang hidup dalam hati. Ketika raghbah tumbuh, manusia akan menemukan jalan. Sebaliknya, ketika ia padam, alasan-alasan akan bermunculan untuk membenarkan jarak yang tercipta.
Jika penghalang pertama adalah melemahnya kerinduan, maka penghalang kedua adalah membesarnya ego. Kesombongan karena ego tidak selalu tampil dalam bentuk yang kasar. Ia sering hadir dalam wajah yang halus dan bahkan tampak wajar, misalnya keengganan meminta maaf, rasa malu untuk memulai silaturahmi, gengsi untuk menyapa lebih dahulu, atau ketidakmampuan mengakui kesalahan.
Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa sebagian besar penyakit jiwa lahir dari dominasi nafs dan ego tersebut. Ego selalu ingin dipuji, dimenangkan, diutamakan dan harus di depan. Karena itu ia sulit menerima kritik dan enggan mengakui keterbatasan dirinya. Ego yang tidak terkendali ini menjadi hijab yang menghalangi manusia dari sesama dan dari Tuhan.
Temuan psikologi modern menunjukkan hal yang serupa. Carl Rogers mengatakan bahwa hubungan yang sehat hanya mungkin tumbuh ketika seseorang memiliki keterbukaan, empati, dan penerimaan terhadap orang lain. Sebaliknya, individu yang terlalu defensif akan kesulitan membangun kedekatan emosional. Banyak hubungan keluarga yang retak bukan karena konflik besar, melainkan karena tidak ada yang bersedia memulai perdamaian. Banyak persahabatan berakhir bukan karena ada hal yang keliru, melainkan karena kebencian, gengsi dan ketakutan politik. Tidak sedikit manusia yang kehilangan orang-orang terdekatnya bukan karena jarak, melainkan karena ego yang terus dipelihara.
Ironisnya, kesombongan sering disalahpahami sebagai kekuatan. Padahal dalam banyak kasus, ia justru melahirkan kesepian yang mendalam. Psikolog sosial Roy Baumeister menjelaskan bahwa kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia. Relasi yang sehat bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan kebutuhan psikologis yang menentukan kesehatan mental seseorang.
Bahkan, para sufi melangkah lebih jauh. Mereka melihat bahwa kesepian terdalam manusia bukanlah keterputusan dari sesama, melainkan keterputusan dari Tuhan. Seseorang dapat memiliki banyak teman, pengikut media sosial, kekuasaan, dan pengaruh, tetapi tetap merasakan kehampaan yang sulit dijelaskan.
Dalam perspektif tasawuf, hal itu terjadi karena hati manusia memiliki orientasi transenden. Ia tidak hanya membutuhkan relasi horizontal dengan sesama manusia, tetapi juga relasi vertikal dengan Sang Pencipta. Ibn Arabi pernah menggambarkan manusia sebagai makhluk yang membawa kerinduan primordial kepada asal-usulnya. Karena itu, seluruh perjalanan spiritual pada hakikatnya adalah perjalanan pulang, yaitu upaya membangkitkan kembali kerinduan kepada Tuhan dan menundukkan ego yang menghalangi jalan menuju-Nya.
Dalam sistem sosial, persoalan ego ini tidak berhenti pada level individu, tetapi bahkan telah menjelma menjadi fenomena sosial yang membentuk wajah masyarakat modern. Fenomena tersebut semakin jelas terlihat dalam kehidupan politik kontemporer: ego individu menjelma menjadi ego kelompok, ego organisasi, ego partai, bahkan ego keagamaan.
Masing-masing kelompok merasa dirinya paling benar dan merasa memiliki otoritas untuk mendefinisikan kebenaran dan mengatur kepentingan masyarakat. Akibatnya, ruang publik dipenuhi pertarungan identitas yang melelahkan dan sering kali tidak produktif. Di tengah situasi di mana media sosial memungkinkan setiap orang berbicara kepada ribuan orang, tetapi tidak otomatis membuat manusia lebih mampu mendengarkan dan memahami liyan.
Perilaku yang lebih banyak tumbuh adalah banyak orang yang lebih ingin didengar daripada mendengar; lebih ingin menang daripada memahami; lebih ingin menghakimi daripada berdialog. Terjadi pola hidup sosial yang dalam psikologi sosial dikenal dengan konsep confirmation bias, yaitu kecenderungan manusia mencari informasi yang mendukung keyakinannya sendiri sambil menolak informasi yang berbeda.
Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Perdebatan gagasan berubah menjadi pertarungan identitas dan politik. Orang tidak lagi berusaha memahami pihak lain, melainkan berusaha meniadakannya. Ketika kecenderungan ini bertemu dengan ego yang besar, lahirlah polarisasi sosial.
Dalam konteks ini, kita telah diingatkan Ibn Athaillah al-Sakandari bahwa sumber kebutaan manusia sering kali bukan kurangnya pengetahuan, melainkan keterikatan yang berlebihan pada diri sendiri. Ketika ego menjadi pusat segalanya, kemampuan melihat realitas secara jernih perlahan menghilang. Dalam situasi seperti itu, manusia cenderung berlindung di balik identitas-identitas sempit untuk memperoleh rasa aman.
Namun identitas yang dibangun di atas rasa takut sering kali menghasilkan eksklusivisme dan memperlebar jarak sosial. Padahal, kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan diri sendiri. Musuh utama manusia bukan lawan politiknya, bukan kelompok yang berbeda dengannya, melainkan ego yang terus menuntut pengakuan.
Dalam konteks politik, demokrasi hanya dapat bertahan apabila manusia memiliki kemampuan untuk berbeda tanpa saling meniadakan. Kehidupan berbangsa hanya dapat berkembang apabila masyarakat memiliki keberanian berdialog tanpa kehilangan identitasnya. Keduanya mensyaratkan satu hal yang semakin langka dalam kehidupan modern: kerendahan hati.
Oleh karena itu, krisis terbesar zaman ini bukanlah sekadar krisis ekonomi, politik, atau teknologi, tapi krisis yang lebih mendasar adalah krisis kerendahan hati untuk mendengarkan dan membaca segala hal di luar dirinya. Akibat krisis ini, manusia perlahan kehilangan kemampuan merawat hubungan: hubungan dengan sesama, hubungan dengan alam, hubungan dengan tradisi, bahkan hubungan dengan Tuhan. Inilah saat ketika ego tumbuh lebih cepat daripada jiwa.
Di tengah situasi semacam itu, para sufi menawarkan jalan yang sederhana tetapi mendasar, yaitu berani memulai berkomunikasi, terbuka mendengar dan membaca segala hal tanpa meniadakan, agar ironi dalam hidup tak terjadi. Karena hampir semua hubungan yang sehat berawal dari keberanian untuk memulai. Memulai menyapa, memulai meminta maaf, memulai mendengarkan, memulai berdialog, dan memulai memperbaiki diri.
Langkah kecil yang dilakukan dengan tulus lebih bernilai daripada niat besar yang tidak pernah diwujudkan. Kerinduan tumbuh melalui tindakan, sedangkan ego melemah melalui latihan kerendahan hati yang terus-menerus. Banyak pintu kehidupan sesungguhnya tidak terkunci. Kita hanya terlalu lama berdiri di depannya sambil menunggu orang lain membukanya.
Mungkin yang menghalangi kita bukan jarak. Bukan kesibukan. Bukan pula keadaan. Melainkan sesuatu yang jauh lebih dekat daripada urat leher kita, yaitu hati yang kehilangan kerinduan dan ego yang terlalu besar untuk mengakuinya. Dalam perspektif spiritual, hakikatnya dalam hidup kita ini tak ada jalan buntu, yang ada ego yang membatu.[]