Belakangan ini berita tentang kasus tumpukan sampah di wilayah Tangerang Selatan menjadi konsumsi masyarakat. Sampah menumpuk di pinggir jalan mengeluarkan bau menyengat bahkan dipenuhi belatung. Warga merasa terganggu, tapi masalahnya tidak segera selesai. Sistem pengangkutan tersendat, TPA kelebihan kapasitas dan pemerintah daerah sibuk mencari solusi darurat.
Persoalan ini terjadi di hampir seluruh tempat tinggal kita. Sampah sering dipahami sebagai persoalan teknis, seperti misalnya berapa ton yang dihasilkan, di mana dibuang, bagaimana diolah, siapa yang bertanggung jawab. Dalam kerangka ini, solusi selalu dicari lewat teknologi, kebijakan, atau manajemen perkotaan.
Namun, pendekatan semacam itu kerap gagal menjawab pertanyaan yang lebih mendasar yaitu mengapa sampah terus diproduksi tanpa rasa bersalah, dan mengapa membuangnya menjadi tindakan yang terasa netral secara moral. Di titik inilah sampah sesungguhnya bukan hanya masalah lingkungan, melainkan cermin krisis relasi manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan nilai-nilai spiritual yang dulu membingkai kehidupan.
Relasi Timbal Balik
Dalam kosmologi Nusantara, alam tidak pernah dipahami sebagai benda mati. Gunung, sungai, laut, hutan, bahkan tanah pekarangan, memiliki kedudukan simbolik dan spiritual. Mereka dihuni, dijaga, dan dihormati. Relasi manusia dengan alam bersifat timbal balik. Alam memberi kehidupan, manusia menjaga keseimbangannya.
Ketika relasi ini tak seimbang, bukan hanya alam yang rusak, tetapi juga tatanan sosial dan batin manusia. Sampah, dalam konteks ini, dapat dibaca sebagai tanda paling kasatmata dari ketakseimbangan tersebut.
Tradisi Nusantara mengenal konsep bersih yang jauh melampaui makna fisik. Bersih tidak hanya berarti bebas dari kotoran yang terlihat, tetapi juga selaras secara moral dan spiritual.
Rumah dibersihkan menjelang ritual bukan sekadar agar rapi, tetapi agar layak ditempati secara batin. Kampung dibersihkan bersama karena kebersihan adalah urusan kolektif, bukan individual. Bahkan tubuh dibersihkan melalui laku tirakat, puasa, dan pengendalian diri. Bersih, dengan demikian, adalah kondisi keteraturan kosmis.
Modernitas menggeser makna ini secara drastis. Bersih direduksi menjadi apa yang tidak mengganggu pandangan. Sampah tidak perlu hilang, cukup dipindahkan. Ia boleh menumpuk di TPA, mengalir di sungai, atau terdampar di laut, asalkan tidak berada di ruang kita. Inilah yang membuat sampah menjadi “liyan”: sesuatu yang dihasilkan oleh kita, tetapi tidak mau kita akui sebagai bagian dari diri dan tanggung jawab kita.
Dalam perspektif antropologis, pembuangan sampah adalah tindakan simbolik untuk menyingkirkan yang dianggap “najis” dari ruang sosial. Masalahnya, dalam dunia yang dipenuhi plastik, kemasan sekali pakai, dan produk sintetis, sampah tidak pernah benar-benar pergi.
Etika Nusantara
Religiositas Nusantara sesungguhnya memiliki etika yang sangat ketat terhadap sisa. Makanan yang tidak dihabiskan sering dianggap pamali, bukan karena takhayul kosong, tetapi karena makanan dipahami sebagai hasil kerja panjang alam dan manusia. Sisa nasi dikeringkan, dijadikan pakan ternak, atau dikembalikan ke tanah. Daun pembungkus makanan terurai dengan sendirinya. Hampir tidak ada konsep sampah yang benar-benar tak berguna. Semua berada dalam siklus.
Kehadiran sampah modern memutus siklus ini secara brutal. Plastik tidak bisa dikembalikan ke tanah tanpa mencederainya. Styrofoam tidak bisa menjadi bagian dari rantai kehidupan. Ia adalah residu peradaban yang tidak memiliki tempat dalam kosmologi lama.
Karena itu, masyarakat kehilangan rujukan etis dalam memperlakukannya. Tidak ada pitutur tradisional tentang plastik, karena benda ini lahir dari logika industri, bukan dari kebudayaan.
Di sinilah terjadi benturan antara logika konsumsi modern dan asketisme Nusantara. Banyak tradisi lokal mengajarkan laku cukup, prihatin, dan pengendalian diri. Tidak berlebih bukan hanya pilihan moral, tetapi tanda kedewasaan spiritual.
Sebaliknya, budaya konsumsi mendorong kepuasan instan dan produksi tanpa refleksi. Sampah adalah jejak dari gaya hidup yang tidak pernah bertanya – apakah ini perlu, apa dampaknya, dan ke mana perginya setelah digunakan.
Ritual dan sesaji dalam tradisi Nusantara sering disalahpahami sebagai pemborosan. Padahal, jika dicermati, hampir tidak ada ritual yang menyisakan sampah dalam pengertian modern. Sesaji dibuat dari bahan alam, dimakan bersama, atau dilarung dengan tata cara yang mengembalikannya ke alam secara terhormat.
Ritual adalah mekanisme simbolik untuk menjaga keseimbangan, bukan pesta konsumsi. Kontras ini menjadi mencolok ketika kita melihat perayaan modern—malam Tahun Baru, konser, hajatan besar—yang meninggalkan gunungan sampah tanpa makna, tanpa doa, tanpa rasa tanggung jawab.
Dalam masyarakat tradisional, membuang kotoran sembarangan bukan hanya melanggar aturan, tetapi memalukan. Rasa malu berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial.
Hari ini, rasa malu itu nyaris hilang. Sampah dibuang karena ada petugas kebersihan, karena “sudah dibayar,” karena dianggap bukan lagi urusan pribadi. Tanggung jawab moral dialihkan kepada sistem anonim. Ini menandai pergeseran etika dari kolektivitas menuju delegasi.
Subjek Spritual
Religiositas Nusantara menempatkan alam sebagai subjek spiritual. Sungai bukan saluran air, tetapi ruang kehidupan. Laut bukan tempat pembuangan, tetapi sumber dan penjaga keseimbangan.
Ketika sungai dipenuhi sampah, yang rusak bukan hanya ekosistem, tetapi juga martabat ruang sakral. Tidak mengherankan jika banyak masyarakat lokal membaca bencana sebagai tanda disharmoni relasi, bukan semata fenomena alam. Bukan karena mereka anti-sains, tetapi karena mereka membaca alam sebagai teks moral.
Upaya mengatasi sampah sering gagal karena hanya berbasis teknis. Tempat sampah ditambah, aturan diperketat, teknologi diperkenalkan, tetapi perilaku tidak berubah secara mendasar. Pendidikan lingkungan yang terlepas dari nilai dan rasa hanya menghasilkan kepatuhan sementara.
Religiositas Nusantara menawarkan pendekatan lain yaitu dengan menjadikan pengelolaan sampah sebagai laku spiritual. Memilah, mengurangi, dan bertanggung jawab atas sisa hidup kita adalah bentuk disiplin batin, bukan sekadar kewajiban administratif.
Sampah, pada akhirnya, adalah arsip peradaban. Dari sampah, kita bisa membaca apa yang kita konsumsi, apa yang kita anggap penting, dan apa yang kita abaikan.
Dalam kerangka religiositas Nusantara, cara kita memperlakukan sampah adalah cara kita memperlakukan kehidupan. Apakah kita masih melihat alam sebagai sesama yang harus dihormati, atau hanya sebagai tempat menyingkirkan residu gaya hidup kita.
Membicarakan sampah berarti membicarakan iman yang tercerai dari laku. Ketika religiositas berhenti pada simbol dan seremonial, tetapi gagal menuntun relasi sehari-hari dengan alam, maka yang lahir adalah spiritualitas kosong.
Menghadapi krisis ekologis hari ini, barangkali yang kita perlukan bukan hanya teknologi baru, melainkan keberanian untuk menengok kembali kebijaksanaan lama—bukan untuk nostalgia, tetapi untuk membangun kembali relasi yang pernah kita rusak. Sampah mengingatkan kita bahwa krisis lingkungan adalah krisis cara hidup, dan pada saat yang sama, krisis cara kita beriman.