Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah kerasukan yang digunakan untuk menyebut orang yang dalam dirinya dimasuki dan dikendalikan oleh kekuatan gaib atau jin. Orang Jawa menyebut peristiwa ini dengan istilah ‘kesurupan’. Dengan demikian, secara ontologis seseorang dianggap ‘kerasukan’ adalah ketika kendali moral dan kesadaran spiritualnya diambil alih dan dikendalikan oleh kekuatan eksternal.
Oleh karena itu, dalam diskursus spiritual, kerasukan bukan sekadar fenomena infiltrasi mistis, seperti sering dipahami kebanyakan orang, sebagaimana di atas, tetapi sebuah kondisi ontologis di mana diri sejati (self) terdepolitisasi oleh nafsu (desire). Yakni, jenis nafsu yang dalam istilah sufi disebut dengan nafsu ammarah, yaitu tingkatan nafsu terendah yang mendorong seseorang melakukan kejahatan, maksiat karena menuruti hawa syahwat tanpa peduli syariat (QS. Yusuf: 53).
Dalam realitas sekarang, kita sedang berhadapan dengan kondisi yang jauh lebih mencekam, yaitu kerasukan kerakusan (the possession of greed). Ini bukan lagi soal setan yang masuk ke dalam tubuh, melainkan ego yang membesar, hingga menelan kewarasan diri. Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulumiddīn menyebutnya sebagai kondisi manusia yang didominasi oleh sifat sabu’iyyah (kebuasan) dan bahimiyyah (kehewanan). Manusia dirasuki nafsu yang tak terpuaskan, seperti hewan yang meluapkan hasratnya dengan cara yang buas. Kekuatan eksternal jahat tersebut, bisa berupa algoritma, atau ambisi material, kuasa yang dibangun oleh kerakusan, dan hal yang lain.
Sosiolog Jean Baudrillard dalam teori Simulakra menjelaskan bahwa manusia modern tidak lagi mengonsumsi objek karena fungsinya, melainkan karena simbolnya. Dalam kondisi ini, manusia mengalami ‘kerasukan’, di mana dirinya digerakkan oleh hasrat semu yang diciptakan oleh pasar dan aneka rupa hasrat material. Akhirnya, mereka teralienasi terhadap dirinya sendiri dan kehilangan empati terhadap alam (macrocosmos); mereka beralih fungsi: dari penjaga bumi (khalifah) menjadi parasit yang dengan mudah membunuh kewarasan.
Thorstein Veblen dalam teorinya mengenai conspicuous consumption (konsumsi mencolok), menjelaskan bahwa manusia modern cenderung mengonsumsi bukan untuk kelangsungan hidup, melainkan untuk menegaskan status. Kerakusan jenis ini yang melahirkan manusia antropofagi, yaitu manusia yang memakan sesamanya dan dunianya sendiri, demi memuaskan rasa lapar yang bersifat eksistensial.
Kerasukan kerakusan dalam diri ini, telah bermanifestasi secara sistemik bukan hanya dalam individu, melainkan juga dalam struktur kekuasaan dan ekonomi, menciptakan lingkaran setan yang merusak tatanan sosial, politik serta ekologis. Negara bisa mengalami kerasukan kerakusan, karena terjebak hanya memuja pertumbuhan PDB tanpa mempedulikan daya dukung lingkungan, dan bertindak layaknya ‘mesin raksasa’ yang kerasukan. Kebijakan eksploitatif mencerminkan kegagalan kolektif kekuasaan dalam menjaga amanah bumi. Penguasa dan pejabat sering mudah kerasukan kerakusan karena terbelenggu oleh libido kekuasaan dan menggunakan wewenang untuk gratifikasi pribadi.
Peringatan kitab suci mengenai kecaman atas mereka yang mencari ketinggian (kesombongan) dan penyebab kerusakan di muka bumi (QS. Al-Qasas/28:83), sebatas adagium yang dikhutbahkan di tempat ibadah. Pengusaha juga bisa dengan mudah kerasukan kerakusan melalui crony capitalism, yaitu mendewakan profit jangka pendek dan sering kali ‘membeli’ kebijakan untuk melegalkan perusakan ekosistem alam. Ini adalah bentuk konkret dari kebuasan yang mematikan fungsi moral manusia dalam alam semesta.
Kemajuan teknologi, juga tak terlewatkan. Di dalamnya telah terjadi juga jenis ‘kerasukan’ baru melalui dopamin loop. Teknologi digital dengan mudah memecah atensi manusia. Manusia hadir secara fisik, namun jiwa mereka ‘merasuki’ ruang-ruang digital yang penuh kebencian dan pamer kemewahan (flexing). Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut era ini sebagai liquid modernity (modernitas cair).
Ketidakpastian dan tuntutan standar hidup digital memicu kecemasan kronis dan depresi. Mental yang rapuh ini, kemudian mencari kompensasi melalui konsumsi berlebih, melalui belanja daring impulsif, yang secara langsung berkontribusi pada penumpukan limbah karbon dan kerusakan ekologi. Mereka terlibat dalam merusak bumi untuk mengobati luka batin yang diciptakan oleh layar yang artivisial.
Kemajuan digital secara nyata telah mengubah kerakusan dari sekadar sifat menjadi sistem yang terstruktur. Teknologi bukan lagi alat, melainkan perpanjangan dari syahwat, sehingga menyebabkan terjadi erosi kedalaman jiwa. Paparan teknologi digital yang eksesif menciptakan kondisi the shallows, meminjam istilah Nicholas Carr. Jiwa manusia tidak lagi mampu menyelami kedalaman spiritual, karena terus-menerus dirasuki oleh desakan untuk ‘memiliki’ dan ‘menjadi lebih’ secara instan.
Kerasukan kerakusan ini pada akhirnya melahirkan kecemasan kronis. Data menunjukkan korelasi antara tingginya penggunaan media sosial dengan peningkatan gangguan anxiety dan depresi. Hal ini terjadi, karena jiwa dipaksa untuk terus mengejar bayang-bayang idealitas yang mustahil, menciptakan lubang hitam di dalam batin yang kemudian coba diisi dengan konsumerisme kompulsif.
Di tengah keriuhan dunia macam ini, perintah agama untuk berpuasa muncul sebagai sebuah jalan pembersihan diri yang revolusioner. Puasa bukan sekadar jeda biologis, melainkan sebuah aksi subversif terhadap tatanan konsumerisme dan hasrat material serta keakuan yang tidak ada batas. Ia menjadi gerakan eksorsisme baru untuk mengusir entitas halus dan jahat yang merasuki tubuh manusia, seperti keakuan, keangkuhan dan kerakusan.
Pertama, sebagai gerakan eksorsisme baru, puasa melatih diri memahami prinsip cukup dalam hidup. Dunia ini, kata Mahatma Gandhi, memiliki bekal cadangan cukup untuk kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk ketamakan setiap orang. Puasa dalam konteks ini adalah implementasi nyata dari prinsip Aparigraha, yaitu tidak memiliki secara berlebihan. Makna takwa sebagai hilir puasa adalah kemampuan untuk mengendalikan impuls kerakusan yang merusak diri, alam dan tatanan sosial.
Nabi Muhammad telah mengingatkan kita: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan (yang sejati) adalah kekayaan jiwa.” Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim ini adalah obat bagi kerasukan kerakusan; sebuah pengingat bahwa kebahagiaan sejati terletak pada pengendalian, bukan akumulasi. Dan puasa dalam konteks ini melatih kemandirian jiwa dari ketergantungan materi. Jika penguasa dan pengusaha mampu menghayati esensi puasa dari sisi ini, mereka akan mencapai derajat diri di mana mengambil dan memanfaatkan alam secukupnya dan menjaga keseimbangannya.
Kedua, puasa merupakan bagian dari cara mereduksi ego. Dalam struktur jiwa manusia, ego (al-nafs) cenderung memiliki watak hegemonik dan jahat: ia ingin menjadi pusat semesta (self-centering). Puasa hadir di sini bukan sekadar sebagai ritus penahanan lapar secara biologis, melainkan sebuah jalan spiritual untuk meruntuhkan takhta ego tersebut. Ia mengusir kerasukan ego yang selama ini membuat penguasa menjadi tiran, pengusaha menjadi rakus, dan agamawan menjadi pongah. Dengan puasa, manusia kembali ke titik fitrah: menjadi hamba yang rendah hati di bumi, yang menyadari bahwa kekuasaan sejati hanyalah milik Tuhan, sementara manusia hanya penjaga dan pelayan yang harus berlaku adil.
Secara sosio-psikologis, ego manusia sering kali terjebak dalam ilusi ‘Maha Kuasa’. Akses teknologi dan kekuasaan materi membuat individu merasa sebagai subjek yang bisa mengontrol segala hal: alam dan orang lain. Ketika orang berpuasa, tubuh yang lemas karena lapar, memaksa manusia mengakui kerentanan dirinya. Dalam situasi semacam ini, manusia menyadari bahwa eksistensinya bergantung pada asupan yang sangat dasar, yaitu air dan makanan.
Kesadaran ini meruntuhkan sifat narsistik dan perasaan ‘super’ yang sering menghinggapi para penguasa dan orang kaya. Di sini, puasa menjadi alat dekonstruksi atas ilusi otonomi diri. Pada saat yang sama, puasa di sini memindahkan fokus dari ‘Aku’ (keinginanku, kebutuhanku) menjadi ‘Kita’. Inilah yang disebut de-centering, yaitu menggeser ego dari pusat kesadaran ke pinggir, sehingga ruang kosong di pusat hati dapat diisi oleh rasa kemanusiaan dan kehadiran Tuhan.
Ketiga, dalam konteks digital, puasa juga bagian dari jalan digital detox. Mematikan gawai sejenak adalah upaya mengusir ‘setan-setan’ algoritma yang merasuki pikiran, memberikan ruang bagi jiwa untuk kembali beresonansi dengan ritme alam yang tenang dan perintah Tuhan. Momentum manusia rehat sejenak dari lingkaran kegilaan dunia untuk mendengarkan kembali detak jantung bumi. Ini adalah proses penyembuhan dari kerasukan kolektif yang membuat kita asing terhadap diri sendiri dan kejam terhadap alam. Dengan jalan mengosongkan perut dan menenangkan pikiran, kita dapat kembali mengisi dunia dengan kasih sayang, bukan kerusakan.
Ala kulli hal, puasa bisa dimanfaatkan menjadi jembatan untuk kembali ke titik nol. Ia mengarahkan kita menyadari bahwa kita bukan penguasa semesta, melainkan bagian kecil darinya. Puasa menjadi eksorsisme sukarela dari kerakusan, mengusir kerasukan ego yang membuat penguasa menjadi tiran, pengusaha menjadi rakus, dan agamawan menjadi jumawa.
Pepatah sufi mengingatkan kita: "Jika perutmu kosong, maka jiwamu akan bernyanyi; dan dalam nyanyian itu, kau akan menemukan bahwa kau adalah bagian dari harmoni alam semesta." Dengan mengosongkan diri dari kerakusan dan keangkuhan ego, melalui puasa kita sejatinya sedang memberikan ruang bagi diri dan dunia untuk tetap hidup dan berkelanjutan bersama kewarasan.[]