Kematian seorang pendaki asal Magelang di Gunung Slamet yang ramai dibicarakan beberapa hari terakhir ini menghadirkan suasana yang beragam. Di satu sisi ada duka, doa, dan ungkapan simpati. Di sisi lain, ada potongan cerita, unggahan terakhir, dan spekulasi yang beredar cepat di media sosial.
Tragedi ini telah menjadi peristiwa publik. Dengan pemberitaan itu, kita seperti diingatkan untuk lebih dalam memaknai kematian di gunung, sebuah ruang yang selama ini tidak biasa, tapi sarat makan dalam kebudayaan kita.
Ini karena gunung Slamet bukan sekadar bentang alam. Dalam ingatan kultural Nusantara, terutama Jawa, gunung adalah ruang hidup yang sarat makna. Ia dipahami sebagai tempat berdiam kekuatan yang lebih besar dari manusia, ruang yang menuntut sikap hormat, dan wilayah yang tidak bisa dimasuki dengan sembarangan.
Mendekati gunung pada masa lalu bukan semata soal fisik, melainkan soal kesiapan batin. Ada kesadaran bahwa manusia datang sebagai tamu, bukan pemilik.
Aktivitas Teknis
Namun cara kita mendatangi gunung hari ini telah berubah jauh. Pendakian semakin dipahami sebagai aktivitas teknis. Selama tubuh kuat, perlengkapan lengkap, dan jalur tersedia, gunung dianggap siap didatangi.
Alam diposisikan sebagai ruang netral yang bisa diakses siapa saja kapan saja. Dalam cara pandang ini, gunung kehilangan kedudukannya sebagai ruang yang harus “didengar”. Ia berubah menjadi tempat yang cukup “didatangi”.
Perubahan ini terlihat jelas dalam kultur penjelajahan modern. Mendaki gunung kini sering dipahami sebagai proyek pencapaian diri. Ada target puncak, waktu tempuh, dan dokumentasi.
Keberhasilan diukur dari sampai atau tidak, cepat atau tidak, lalu dibagikan atau tidak. Dalam logika semacam ini, pengalaman batin dan relasi dengan alam menjadi urusan sekunder. Yang utama adalah hasil.
Kasus meninggalnya pendaki asal Magelang di Gunung Slamet memperlihatkan pergeseran cara berpikir ini. Tragedi tersebut dengan cepat lebih kerap dijelaskan sebagai kecelakaan personal. Kurang persiapan, salah membaca medan, atau kondisi fisik yang tidak mendukung.
Di satu sisi, penjelasan ini memang masuk akal, tetapi terlalu dangkal. Ia berhenti pada individu dan mengabaikan perubahan cara kita memahami gunung secara kolektif.
Dalam spiritualitas Nusantara, keselamatan tidak pernah dipahami hanya sebagai urusan kemampuan pribadi. Keselamatan lahir dari keselarasan antara niat, tubuh, dan alam.
Mendaki berarti peka membaca tanda. Cuaca, angin, kabut, dan kelelahan tubuh bukan gangguan, tapi bahasa alam yang harus diperhatikan. Ketika tanda-tanda itu diabaikan, bukan karena kurang doa, tetapi karena manusia terlalu sibuk dengan rencananya sendiri.
Spiritualitas Dangkal
Ironisnya, di era sekarang spiritualitas justru sering muncul dalam bentuk yang dangkal. Doa dibaca sebelum mendaki, kalimat religius ditulis dalam unggahan, dan ungkapan pasrah diucapkan ketika tragedi terjadi. Semua itu tampak religius, tetapi sering berhenti sebagai simbol.
Spiritualitas hadir sebagai hiasan, bukan sebagai cara bersikap. Ia muncul untuk menenangkan perasaan setelah kejadian, bukan untuk membimbing langkah sebelum berangkat.
Dalam kasus Gunung Slamet, muncul narasi seperti “sudah takdir” atau “alam punya kehendak”. Kalimat-kalimat ini terdengar bijak, tetapi sering digunakan untuk menutup diskusi. Karena ketika semuanya diserahkan pada takdir, maka tidak ada ruang untuk bertanya apakah cara kita mendaki sudah tepat. Spiritualitas yang seharusnya mengajarkan kewaspadaan justru berubah menjadi alasan untuk berhenti berpikir.
Masalah lain yang jarang disadari adalah hilangnya etika bersama dalam mendatangi gunung. Pendakian massal membuat gunung menjadi ruang publik yang didatangi dengan beragam kepentingan. Ada yang datang untuk olahraga, ada yang mencari ketenangan, ada yang mengejar konten.
Tidak ada kesepakatan nilai tentang bagaimana seharusnya bersikap di ruang yang secara kultural sakral. Akibatnya, setiap orang berjalan dengan logikanya sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, tragedi bukanlah kejutan. Ia menjadi kemungkinan yang terus mengintai. Bukan karena gunung berbahaya, tapi karena manusia datang tanpa kesadaran relasional.
Kita datang dengan peta dan jadwal, tetapi tanpa kesediaan untuk berhenti ketika alam memberi isyarat. Kita membawa teknologi, tetapi pada saat yang sama, kehilangan kepekaan.
Meredefinisi Kultur Penjelajahan
Membaca ulang kasus Gunung Slamet seharusnya membawa kita pada perenungan yang lebih dalam tentang arti menjelajah alam di Indonesia. Mendaki gunung di Nusantara tidak bisa disamakan begitu saja dengan pendakian di ruang-ruang yang steril dari makna budaya.
Gunung di sini hidup dalam ingatan kolektif, dalam mitos, ritual, dan pengalaman panjang manusia yang hidup di sekitarnya. Mengabaikan itu berarti mengosongkan gunung dari maknanya dan menyisakan hanya medan fisik.
Karena itu, kita perlu meredefinisi kultur penjelajahan kita. Mendaki tidak harus selalu dipahami sebagai ekspedisi atau tantangan. Ia bisa dibaca sebagai laku ziarah.
Ziarah tidak berarti mistik atau irasional, tetapi sikap sadar bahwa kita sedang memasuki ruang yang lebih besar dari diri kita. Ziarah mengajarkan kehati-hatian, kesabaran, dan kemampuan untuk mundur ketika diperlukan.
Tragedi pendaki asal Magelang di Gunung Slamet seharusnya menjadi pengingat bahwa alam tidak bisa diperlakukan seperti arena bebas nilai. Gunung tidak menuntut manusia berhenti datang, tetapi menuntut cara datang yang berbeda. Datang tidak hanya dengan tubuh yang siap, tetapi juga dengan kesadaran yang jernih. Datang dengan doa, tetapi juga dengan sikap mendengar.
Kasus kematian ini membuka pemahaman kita untuk membaca dan memaknainya sebagai tanda bahwa relasi kita dengan alam sedang bermasalah. Tragedi ini bisa menjadi Pelajaran, dengan bukan untuk menyalahkan korban, tetapi untuk mengoreksi cara kita beraktifitas (tidak hanya) dengan gunung (tapi juga dengan) dan alam di sekitar kita.
Karena gunung akan selalu ada. Yang patut dipertanyakan kepada diri sendiri adalah apakah kita masih mampu mendatanginya dengan rendah hati. Tanpa itu, penjelajahan hanya akan menjadi perjalanan yang kehilangan makna, dan spiritualitas tinggal kata-kata yang datang terlambat, setelah nyawa terlanjur hilang.