Di era ketika baterai gawai lebih sering kita khawatirkan daripada baterai jiwa, Tuhan pelan-pelan bergeser posisinya. Dulu Ia jadi pusat doa, kini Ia lebih mirip ikon kecil di pojok layar—ada, tapi jarang disentuh. Sinyal hilang sebentar saja kita panik; sinyal batin putus bertahun-tahun, kita bilang, “Biasa, namanya juga hidup.”
Tradisi bertuhan adalah warisan paling purba manusia, tetapi di tengah sains, big data, dan AI, Tuhan sering turun pangkat menjadi konsep abstrak yang dengan sopan kita akui, namun jarang kita hadirkan dalam kesadaran. Manusia modern adalah makhluk yang sangat pintar menjelaskan, tapi sering canggung menghayati. Dan ini bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Di ruang akademik, Tuhan dibahas sebagai “dasar ontologis realitas”, “prinsip pertama”, “ground of being”. Di ruang diskusi populer, Tuhan sering turun menjadi “energi positif”, “semesta yang baik”, atau “vibrasi tinggi”. Di ruang pribadi, Tuhan kadang tinggal wujud “mudah-mudahan” yang diucapkan di sisa malam, ketika semua cara dunia gagal.
Filsuf modern macam Nietzsche pernah berteriak lantang: “Tuhan telah mati”, dalam arti bahwa Tuhan tidak lagi menjadi sumber makna dan moral; manusia menggantinya dengan rasio, sains, dan kemudian dirinya sendiri. Heidegger secara lugas juga mengingatkan bahwa manusia modern hidup dalam Vergessenheit des Seins, lupa akan Ada; sibuk mengutak-atik benda dan sistem, lupa pada sumber Ada itu sendiri.
Di sisi lain, Viktor Frankl—dokter dan filsuf yang selamat dari kamp konsentrasi—melihat dari arah berbeda. Dalam pengalamannya, ketika segala hal dirampas, ada satu hal yang masih membuat orang bertahan, yaitu keyakinan bahwa hidup punya makna yang melampaui penderitaan. Bagi banyak orang, makna itu bersumber dari Tuhan. Tanpa horizon transenden, kata Frankl, hidup mudah berubah jadi kecelakaan biologis yang usianya panjang tapi tak jelas untuk apa.
Sains kontemporer pun, meski dengan hati-hati, mengakui bahwa religiositas dan spiritualitas berkorelasi dengan rasa makna, kesejahteraan psikologis, dan daya lenting menghadapi stres. Berbagai penelitian tentang doa dan meditasi menunjukkan efek pada otak: meredakan sistem stres, meningkatkan fokus, memperkuat regulasi emosi. Tuhan mungkin tak muncul di layar monitor, tetapi jejak “menghadap kepada-Nya” tercatat di pola gelombang otak.
Namun, manusia digital punya hobi berbahaya: menjadikan Tuhan teori, bukan relasi. Tuhan aman disimpan di rak intelektual paling tinggi—dihormati sebagai konsep, namun tidak dibiarkan mengintervensi jadwal, pilihan kerja, pola konsumsi, dan cara mencintai. Kita menjadi generasi yang bisa menjelaskan Tuhan dengan apik, namun gagap ketika ditanya: “Di titik konkret mana dalam hidupmu, engkau sungguh memasukkan Tuhan sebagai pertimbangan?”
Tuhan sebagai Kontak Darurat dan Lipstik Sosial
Jika ditilik lebih jujur, posisi Tuhan di era digital sering berada di tiga saku: saku darurat, saku pencitraan, dan saku politik. Sehari-hari, banyak urusan dianggap bisa diselesaikan dengan jaringan, strategi, dan sedikit manipulasi algoritma. Tuhan masuk ketika semua itu gagal. Saat hasil tes kesehatan mengancam, bisnis ambruk, atau aib hampir terbongkar, barulah doa naik omzetnya. Kita menggelar malam panjang, mengangkat tangan dengan penuh haru, dan berjanji akan menjadi lebih baik kalau kali ini Tuhan berkenan menolong.
Begitu ancaman reda, hubungan pun kembali profesional: doa dipersingkat, dzikir dipadatkan, kesadaran kembali dipasrahkan ke notifikasi. Tuhan tidak kita tinggalkan; hanya kita kembalikan ke folder “Emergency Use Only”.
Di media sosial, Tuhan sering tampil sebagai kosmetik moral. Nama-Nya dipakai untuk mengemas caption, memoles pidato, menghaluskan ambisi. Foto liburan mewah diberi caption “Alhamdulillah rezeki dari Allah.” Diskusi panas diakhiri dengan “Wallahu a‘lam” seolah itu cukup untuk menghalalkan cara bicara kita sebelumnya. Kegiatan bisnis diselipkan sedikit label syariah agar terasa lebih suci, meski pola eksploitasi tak banyak berubah.Gilles Lipovetsky menyebut zaman ini sebagai era hipermodernitas, yaitu ketika konsumsi dan citra menjadi agama baru. Kita pun rajin menyertakan Tuhan dalam citra—bukan sebagai hakim, tetapi sebagai asesor pencitraan.
Dalam ruang kekuasaan, Tuhan sering dijadikan influencer yang tak pernah diajak bicara. Nama-Nya diangkat di baliho, dititip di slogan kampanye, dijadikan segel moral untuk menyerang atau mengkultuskan. Di sini, Tuhan tidak ditempatkan di atas semua kepentingan, melainkan dipaksa berdiri di belakang satu kepentingan. Agama yang seharusnya mengoreksi kekuasaan malah dijadikan bahan bakar kekuasaan. Kita menyebutnya “membela agama”, tapi sering yang dibela adalah kepentingan yang kebetulan memakai baju agama.
Para sufi sejak dulu sudah memberi alarm bahwa begitu Tuhan digeser dari “Yang Disembah” menjadi “Yang Digunakan”, rusaklah struktur batin. Ibn ‘Arabi memperingatkan, manusia adalah cermin tajalli Ilahi; tugasnya memantulkan, bukan menjadikan nama-Nya sebagai alat amplifikasi ego.
Lalu, di tengah dunia yang diatur algoritma—di mana nilai diri diukur dari follower, engagement rate, dan saldo—apa gunanya bertuhan?
Pertanyaan ini tampak sinis, tetapi justru menentukan. Kita disadarkan bahwa Tuhan sebagai Batas di dunia tanpa batas. Algoritma tidak punya nurani. Ia hanya menghitung apa yang paling sering diklik, apa yang paling lama ditonton, apa yang paling banyak memicu reaksi. Kalau dibiarkan memimpin tanpa koreksi, algoritma akan mengangkat konten paling sensasional, bukan paling benar; mendorong sikap paling ekstrem, bukan paling bijak; dan memperkuat polarisasi, bukan perjumpaan.
Bertuhan berarti mengakui adanya standar di luar pasar, di luar algoritma, dan di luar selera mayoritas. Keyakinan bahwa ada Yang Mahatahu dan Mahamengadili memaksa kita berhenti sejenak sebelum menghalalkan segala cara demi angka. Para filsuf moral dari Kant sampai Levinas mengingatkan, tanpa sesuatu yang melampaui kepentingan pribadi, etika mudah runtuh menjadi “apa yang menguntungkan saya.” Tuhan, bagi banyak tradisi, menjadi penjamin bahwa ada “tidak” yang tetap berlaku, bahkan ketika “ya” lebih menguntungkan.
Tuhan sebagai Sumber Makna di Tengah Data
AI bisa membaca pola perilaku, memprediksi preferensi, merekomendasikan musik yang cocok dengan mood. Namun, satu hal tetap di luar jangkauannya adalah “Untuk apa semua ini?”
Keyakinan kepada Tuhan mengembalikan dimensi makna yang tidak bisa dikecilkan menjadi statistik bahwa penderitaan bukan sekadar error sistem; kegagalan bukan sekadar kebodohan; dan kematian bukan sekadar titik akhir. Frankl menunjukkan, mereka yang punya horizon makna transenden cenderung lebih tahan menghadapi penderitaan. Para Sufi mengatakan bahwa siapa yang melihat dunia sebagai “jalan pulang”, bukan “rumah abadi”, akan bersikap berbeda terhadap luka dan kehilangan.
Media sosial memberi kesempatan bagi semua orang untuk menjadi pengkhotbah, hakim, dan selebritas kecil-kecilan. Tanpa kesadaran akan Yang Lebih Besar, layar menjadi altar baru. Like dan retweet menjadi tasbih modern yang diam-diam kita hitung untuk merasa “bernilai”.
Tasawuf datang sebagai anti-tesis inflasi ego. Al-Ghazali menyebut bahwa bahaya terbesar bukan syirik yang terang-terangan, tetapi ketika ego menjadikan dirinya pusat sambil memakai bahasa tauhid. Dzikir, dalam pengertian terdalamnya, adalah latihan memindahkan pusat dari “aku” ke “Dia”. Dalam tradisi Jawa, ini diungkap lewat kesadaran aja dumeh dan eling lan waspada: jangan merasa paling, dan jangan lupa diri. Di sini kita diingatkan bahwa jabatan, pangkat, bahkan status keulamaan hanyalah “sampiran”; inti laku adalah menyadari siapa sebenarnya yang menjadi pusat panggung.
Kita kini hidup di zaman aneh: di satu sisi, kita punya teknologi yang membuat kita bisa melihat jauh, menganalisis cepat, memproses data tak terbatas. Di sisi lain, kita semakin sering tersesat pada pertanyaan paling sederhana: untuk apa semua ini? Mengapa saya bangun? Ke mana saya pulang?
Tuhan di era algoritma bisa terus kita taruh dalam saku, dikeluarkan saat krisis, dipakai sedikit untuk pencitraan, diseret ke panggung ketika butuh legitimasi. Atau, kita bisa melakukan sesuatu yang lebih radikal dan lebih jujur, yaitu mengundang-Nya kembali ke pusat, bukan sebagai konsep tinggi di kepala, tetapi sebagai orientasi hidup yang konkret: hadir dalam cara kita mencari nafkah, mempengaruhi cara kita memperlakukan orang lemah, mengoreksi cara kita memakai ilmu, suara, dan akses.
Para sufi mengingatkan kita, tragedi terbesar bukanlah ketika orang tidak percaya Tuhan, tetapi ketika ia mengaku beriman, sementara yang ia sembah diam-diam hanyalah kepentingan dirinya yang mengenakan nama Tuhan. Di tengah derasnya arus algoritma yang mengatur apa yang kita lihat dan cintai, pertanyaan yang mungkin paling relevan hari ini bukan lagi: “Apakah Tuhan ada?” Melainkan “Kalau saya yakin Dia ada, mengapa algoritma, citra, dan kapital sosial yang lebih menentukan seluruh hidup saya—bukan Dia?”
Jawaban jujur atas pertanyaan itulah yang, kalau kita berani, bisa menghunjam ulu nadi spiritualitas kita—dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, membuat kita benar-benar duduk diam dan berkata: “Aku selama ini menaruh Tuhan di saku ego dan algoritma.”[]