Nasori, namanya. Di sela-sela mengajar sebagai guru madin (Madrasah Diniyyah) di kampungnya, setiap harinya ia berprofesi sebagai tukang tambal ban. Pria lulusan SMP ini mempunyai prinsip dalam membangun usahanya, “seng penting buka tokone, terus berusaha, mengko dalan rejeki ono dewe.”
Di tengah banyaknya PHK pabrik—yang menurut catatan Tempo per April 2025, angkanya mencapai 70.000 buruh. Hal itu tidak merisaukan Nasori yang punya usaha sendiri, tidak ikut orang.
Keahliannya dalam menambal membuka jalan rezeki untuknya. Profesi yang ditekuninya ini bahkan sudah mencapai tiga generasi; dari sang ayah, lalu diwariskan ke kakaknya, dan kini, dia yang meneruskan jalan rezekinya itu.
Ketika saya tanya, setiap hari pasti ada yang nambal, mas?
“Alhamdulillah selalu ada, mas,” jawabnya.
“Bahkan kalau saking banyaknya, bokong saya boyoken, mas,” tambahnya sambil bergurau.
Menyerap informasi darinya, saya jadi berpikir, cara Gusti Allah membagi-bagi rezeki kepada hambanya. Entah sudah berapa kali motor butut saya ini kebanan, lalu ganti ban dalam, dan begitu seterusnya. Perasaan baru kemarin ganti ban dalam deh, tapi kok bocor lagi ya, gumam saya.
Hati orang normal pasti ingin misuh, kesal. Akan tetapi kalau meresapi skenario Tuhan dalam membagi rezeki, pasti kita akan tersadarkan. Bukan soal seringnya ban bocor, tapi cara Allah memberikan rezeki kepada tukang tambal ban. Ban bocor yang sering kita alami itu ternyata membawa keberkahan untuk orang lain.
Biaya tambal ban di kampungku relatif murah, sepuluh ribu rupiah. Dibanding di pinggir-pinggir jalan raya, biayanya lebih mahal, lima belas ribu rupiah. Anda bisa membayangkan, bukan? nilai rupiah dari jasa tukang tambal ban dibanding dengan gaji dan tunjangan anggota DPR yang konon lebih dari Rp 100 juta per bulan.
Nasori setiap harinya harus menambal kurang lebih 300 lebih ban untuk menyamai gaji anggota DPR itu. Dan itu hil mustahil.
Namun kalau jumlah yang didapat oleh Nasori, yang tidak seberapa itu disyukuri, akhirnya membawa keberkahan tersendiri. Baginya, rezeki itu bukan soal banyaknya, tapi berkah yang dihasilkannya. Hidup tenang, kecukupan, dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Itulah iman yang sesungguhnya.
Banyak hal yang bisa kita petik hikmahnya dari kejadian ban bocor dan tukang tambal ban ini. Kalau catatan ini diteruskan, pastinya akan panjang. Kamu sendiri pasti punya kisah menarik seputar ban bocor yang pernah kamu alami bukan, apa kira-kira?