Makan malam adalah dilema, terutama bagi yang sudah berumur 40 tahun ke atas, apalagi diiringi gejala-gejala sakit serius seperti diabetes, kolestrol tinggi asam urat labil, atau hipertensi. Umur dan kondisi tubuh jadi pertimbangan penting; makan malam tidak ya? Jika makan, pilih yang enak atau yang sehat ya? Jam berapa ya baiknya makan malam? Dan pertanyaan-pertanyaan yang, dianggap penting lainnya.
Sebelum pembahasan makanan sehat atau enak, mari kita cermati dulu waktu makan malam. Merujuk beberapa saran dokter, makan malam sebaiknya dilakukan sebelum pukul 19.00. Ini adalah jarak yang aman bila tidur kita paling cepat pukul 22.00 atau maksimal 23.00 Artinya, ada waktu pencernaan kita bekerja 3-4 jam. Di dalam ajaran Islam, tidak ada keterangan dari Rasulullah bahwa dilarang tidur setelah makan.
Ada hadis begini, "Rasulullah bersabda, dinginkanlah makan kalian dengan zikir kepada Allah dan menjalankan shalat, dan janganlah kalian tidur setelah makan karena hal itu menjadikan hati kalian keras (HR Imam At-Thabrani)." Tetapi menurut ulama, hadis itu tidak kuat.
Dalam sebuah artikel di NU Online, disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa minimal setelah makan, seseorang disarankan untuk membaca tasbih 100x, shalat 4 rakaat, atau membaca Al-Qur'an 1 juz.
"Imam Sufyan Ats-Tsauri diceritakan bahwa beliau setelah makan melanjutkan dengan shalat malam. Ini adalah contoh dari Salafuna Saleh yang hendaknya kita teladani," tulis NU Online. Apakah artinya ini?
Artinya ada jeda, antara makan dengan tidur, seperti yang banyak dikatakan oleh ahli kesehatan. Guyonan-guyonan di media sosial ada benarnya juga. "Kalau habis makan, cobalah angkat beban, tangan kanan minimal 2 kg, tangan kiri 2 kg, goyang-goyang senanya 50 kali atau setidaknya berdebat dengan anggota DPR 1 jam. Lumayan mengurangi kalori," begitu salah satu guyonan.
Enak atau Sehat?
Enak itu pasti nisbi, relatif. Bagi yang lapar dan penuh rasa syukur, makan roti gandum yang tidak berasa juga enak. Namun, bagi yang hatinya susah, pelit bersyukur, makanan apapun tidak nikmat. Mau disajikan nasi mandi, sate Tegal, tahu campur, sate Padang, tongseng Jogja, pecel lele, atau apapun, pasti tidak enak. Enak itu bukan cuma di linang, wahai anak adam, melainkan suasana hati dan keadaan pikiran juga. Tidak percaya? Silakan!
Tinggalkan saja enak atau tidak enak. Itu semua fana. Mari, sekarang memikirkan yang sehat, apalagi bagi yang berumur 40 tahun dan ada ciri-ciri berat badan bertambah. Jika sehat dan tidak memiliki pantangan makanan oleh dokter, makanlah makanan yang wajar-wajar saja dan porsinya dikurangi. Misalnya, makan soto Kudus, yang biasanya disajikan dengan mangkok kecil, kurangilah nasinya. Ya, mintalah nasinya dikurangi. Jangan nasi tetap banyak, plus bergedel 3 biji.
Ingin makan sate Tegal. Nasinya dikurangi, setengah saja, maksimal 5 tusuk, jangan diguyur kecap nasi dan satenya, sekedarnya saja. Sebelum makan baca bismillah dan diniati keberkahan, bukan keserakahan ingin tambah, tambah, dan tambah.
Mari, kita latih perasaan kurang. Begitu juga jika kita ingin makan sate Padang, bakmi Jawa, ketoprak, atau apapun. Makan tahu campur, dikurangi, jangan malah ditambah urat atau koyor. Enak? Enak, tetapi itu fana dan menipu. Kan kemarin-kemarin juga pernah. Nafsu jangan dituruti terus. tidak akan selesai menuruti hawa nafsu!