اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ لِلْمُؤْمِنِينَ فَرَحًا وَسُرُورًا، وَجَعَلَ الطَّاعَةَ لِلْقُلُوبِ نُورًا وَحُبُورًا. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ الَّذِي لَا يُحَدُّ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْقَوِيُّ الْمَتِينُ، نَاصِرُ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَمُذِلُّ الظَّالِمِينَ، الَّذِي لَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْقَائِلُ: "الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِينَ كَانُوا لِلْعَدْلِ مَنَارًا، وَلِلْحَقِّ أَنْصَارًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. اتَّقُوا اللهَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْفِطْرَةَ هِيَ مَلَاذُكُمْ مِنْ فِتَنِ الزَّمَنِ، وَمِيزَانُكُمْ فِي وَجْهِ الظُّلْمِ وَالْمِحَنِ.
Jamaah salat Idul Fitri yang berbahagia
Hari ini, gema takbir membelah langit, namun di belahan bumi lain, takbir berkumandang di antara reruntuhan bangunan, kepulan asap bom, dan jerit tangis manusia. Di saat kita mengenakan pakaian terbaik di hari ini, saudara-saudara kita di Iran, Palestina dan berbagai titik wilayah konflik lainnya, mungkin sedang mengenakan kain kafan.
Hari ini kita bertakbir, namun hati sebagian saudara kita mungkin sedang teriris nasibnya. Kita merayakan kemenangan di atas panggung dunia yang sedang retak. Kita menyaksikan suasana dunia yang paradoks: gedung-gedung pencakar langit meninggi, namun nilai kemanusiaan merosot tajam ke titik nadir. Perang berkecamuk, alam meronta dalam aneka rupa bencana, dan kepemimpinan global kehilangan kompas moralnya.
Di sini, kita membawa beban di pundak masing-masing, ketika bumi sedang sakit; bencana alam datang silih berganti seolah alam tak lagi ramah; di ruang-ruang pengadilan, keadilan menjadi barang mewah yang sering kali hanya bisa diperoleh oleh pemilik uang dan kuasa.
Jamaah salat Idul Fitri yang berbahagia
Hari raya Idul Fitri hadir bukan untuk mengajak kita lari dari realitas hidup, tetapi mengingatkan kita membaca aneka peristiwa dan realitas, lalu menghadirkan terapi bagi jiwa-jiwa yang nyaris patah dan kehilangan harapan. Idul Fitri bukan jeda pelarian, melainkan ruang jernih untuk memahami zaman dan menata diri sebagai hamba yang bermartabat dan merdeka.
Hari-hari ini, secara telanjang, kita menyaksikan beragam anomali kehidupan: ketidakadilan hukum di meja pengadilan, kebohongan publik, polarisasi identitas, bencana ekologis, kesulitan hidup yang dialami banyak lapisan masyarakat, serta kerusakan bumi karena perang dan tiadanya kemaslahatan dalam kebijakan. Anomali-anomali ini terjadi, setidaknya disebabkan oleh tiga hal.
Pertama, krisis kredibilitas dan moralitas yang mendera para pemegang kekuasaan dan otoritas sosial, agama, maupun politik. Aneka kerusakan terjadi bermula dari krisis kapasitas (kompetensi) sekaligus krisis integritas (hilangnya prinsip amanah). Dalam Islam, dua pilar ini dirangkum dalam prinsip al-qawiyyu al-amin (kuat dan dapat dipercaya). Sejumlah mufasir menegaskan dua kata ini sebagai fondasi ideal kepemimpinan: kemampuan teknis dan profesionalitas di satu sisi, kejujuran dan amanah di sisi lain.
Al-Quran menggambarkan prinsip ini dalam kisah ketika putri Nabi Syuaib mengusulkan Nabi Musa sebagai pekerja yang diabadikan dalam QS al-Qashash: 26.
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (padamu) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
Para mufasir menjelaskan, maksud “al-qawiy” di sini adalah kapasitas: kemampuan, keahlian, dan ketangguhan untuk menunaikan tugas; adapun “al-amin” adalah kredibilitas: kejujuran, amanah, dan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Kapasitas memastikan kerja yang efektif, adapun kredibilitas menjamin bahwa kekuatan itu tidak disalahgunakan.
Nabi Muhammad, melalui hadi riwayat Imam Bukhari, telah mengingatkan kita bahaya menyerahkan urusan kepada individu yang tidak memiliki kapasitas.
إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
“Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran (kiamat).”
Kapasitas tanpa kredibilitas melahirkan penindasan: orang cerdas dan kuat namun tidak jujur akan memakai kemampuannya untuk memanipulasi hukum, merusak tata kelola keuangan dan manajemen organisasi, serta menindas rakyat/karyawan, demi kepentingan diri dan kelompok. Sebaliknya, kredibilitas tanpa kapasitas melahirkan ketidakberdayaan: orang jujur tetapi tidak mampu bekerja profesional akan membuat lembaga stagnan; niat baik berakhir pada chaos, karena ia lahir dari inkompetensi. Yang kita dambakan adalah perpaduan kapasitas dan kredibilitas yang melahirkan mashlahah: pemimpin yang piawai mengelola sumber daya, sekaligus memiliki benteng moral, sehingga tidak mengkhianati amanah publik.
Tidak adanya dua karakter di atas, akan melahirkan kerusakan dalam tatanan kehidupan dunia. Allah telah mengingatkan perihal ini dalam QS. al-Rum: 41—“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...”
Ibnu Katsir menjelaskan, maksud kata al-fasad dalam ayat ini mencakup hilangnya keberkahan, munculnya bencana, dan tatanan sosial yang hancur sebagai akibat maksiat dan ketidakadilan manusia. Secara sosiologis, makna ini sejalan dengan analisis Ibn Khaldun tentang fase dekadensi peradaban: ketika penguasa terlena dengan kemewahan dan bergantung pada kekuatan asing, ashabiyah (solidaritas sosial) dan keadilan runtuh, kehancuran tinggal soal waktu.
Kedua, krisis otoritas di era yang oleh Zygmunt Bauman disebut liquid modernity, modernitas cair, di mana segala tatanan sosial menjadi labil dan serba sementara. Dalam keadaan ini, banyak pemimpin hanya bertindak sebagai “manajer krisis” yang pragmatis, bukan penunjuk dan pemandu jalan moral. Kebijakan diambil bukan berdasarkan kebenaran, tetapi berdasar kalkulasi citra, rating, dan transaksi kepentingan.
Ibn Khaldun menggambarkan fase kejatuhan dinasti ketika para penguasa terlena dengan kemewahan dan bergantung pada kekuatan asing. Solidaritas sosial melemah, kepercayaan atas otoritas hancur, dan komunitas, organisasi, atau negara menjadi rapuh dari dalam. Kita melihat gejala ini di banyak negeri Muslim, ketika ketegasan melawan penindasan global meredup, dan keberanian moral dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek.
Dalam konteks ini, Idul Fitri mengundang kita untuk menimbang kembali siapa yang kita jadikan rujukan. Apakah kita masih menjadikan Al-Quran dan keteladanan Nabi Muhammad sebagai otoritas moral tertinggi, atau kita sudah menyerahkan kompas hidup kepada algoritma, trending topic, dan opini pasar? Spirit Idul Fitri adalah ajakan untuk kembali menjadikan Allah dan nilai-nilai profetik sebagai pusat orientasi, bukan gelombang opini sesaat atau otoritas yang tak membawa maslahat.
Ketiga, terjadinya collective anxiety: kecemasan kolektif yang menyelimuti manusia modern. Ketidakpastian ekonomi, krisis iklim, bencana alama dan perang, serta banjir informasi menimbulkan rasa takut yang samar tapi terus-menerus. Viktor Frankl, pakar psikologi eksistensial, menunjukkan bahwa manusia mampu bertahan dalam penderitaan paling berat hanya jika ia memiliki makna; tanpa makna, derita sekecil apa pun terasa menghancurkan.
Idul Fitri di sini adalah momentum untuk menemukan kembali makna hidup ini: kita bukan sekadar angka dalam statistik ekonomi atau data dalam sistem, melainkan hamba Allah yang dimuliakan. Islam tidak hanya menjanjikan ganjaran akhirat bagi masing-masing manusia, tetapi juga menawarkan terapi eksistensial di dunia. Di tengah kegelapan dunia di atas, Idul Fitri menghadirkan terapi yang menyentuh beberapa dimensi, yaitu kedaulatan Allah, keutuhan ekologis, kebeningan hati, keadilan sosial, dan solidaritas antarmanusia.
Jamaah salat Idul Fitri yang berbahagia
Di sini, puasa bukan hanya ditunaikan, tetapi selaiknya dijadikan spirit hidup melalui praktik-praktik sosial dan religius di tengah kehidupan yang lusuh dan rapuh. Puasa adalah laboratorium yang luas disiplin diri. Secara lahir, ia menahan makan dan minum serta hubungan seksual; secara batin, ia membiasakan manusia menahan diri dari yang haram dan yang merusak. Imam al-Qusyairi membedakan antara puasa lahir dan puasa batin: puasa lahir menahan dari hal-hal yang membatalkan, sedangkan puasa batin adalah puasa hati dari penyakitnya dan puasa jiwa dari segala kelengahan. Dari laboratorium diri inilah melahirkan sejumlah solusi.
Pertama, jalan memperkuat solidaritas kemanusiaan. Puasa bukan hanya ibadah individual, melainkan praktik sosial yang membentuk struktur solidaritas. Puasa mengasah empati dan solidaritas sosial: rasa lapar yang kita alami bersama menyingkap derita fakir miskin dan menumbuhkan kepekaan terhadap ketimpangan. Tradisi berbuka bersama, berbagi takjil, sedekah, serta zakat fitrah dan zakat mal adalah perekat sosial yang efektif dalam diri: orang yang mampu membantu meringankan beban ekonomi orang yang kekurangan dan sekaligus mempererat persaudaraan.
Di sini, puasa tidak hanya membentuk solidaritas sosial tetapi juga menolak budaya individualisme dan egoisme yang semakin kuat di era modern. Ketika jutaan orang secara serentak menahan diri, mereka mengalami “lapar kolektif” yang menyatukan hati; orang kaya dan miskin sama-sama merasakan perut kosong, sehingga sekat sosial mencair. Di tengah masyarakat yang didorong kompetisi, puasa mengajarkan kooperasi; di tengah logika “aku dulu”, puasa menumbuhkan logika “kita bersama”. Kita diajak merasakan langsung bagaimana empati berubah menjadi aksi: memberi makan orang yang berpuasa; mengunjungi yang sakit; menguatkan yatim dan janda; menggalang donasi kemanusiaan lintas batas. Semua ini adalah manifestasi konkret dari solidaritas sosial yang lahir dari ibadah puasa.
Di era media sosial yang menonjolkan pamer gaya hidup, kebanggaan pribadi, dan kebutuhan akan validasi, spirit puasa menegur kita: kemuliaan bukan pada apa yang kita pamerkan, melainkan pada apa yang kita bagi. Solidaritas sosial yang lahir dari puasa harus menjadi gerakan jangka panjang: membangun jaring sosial, koperasi, beasiswa, dan inisiatif sosial yang menopang kaum lemah.
Sesama umat Islam bersaudara. Prinsip ini ditegaskan dalam QS. Al-Ḥujurāt/49: 10.
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.
Dalam kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhari juz 1, hadis nomor 467, Nabi Muhammad mengilustrasikan orang mukmin seperti bangunan yang saling-menguatkan satu dengan yang lain.
حَدَّثَنَا خَلَّادُ بْنُ يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اَللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
Kesalingan dan ikatan keimanan tersebut selaiknya menjadi jalan di mana solidaritas sosial tumbuh dengan baik. Perlu disadari pula bahwa di sebagian harta yang kita miliki terdapat hak orang lain yang harus kita tunaikan kepada mereka. Dan kesadaran berbagi, bersedekah dan berinfak ini sejatinya dirawat setiap saat, tidak perlu menunggu Ramadan tiba.
Kedua, mempertegas kedaulatan Allah untuk melawan ketakutan terhadap penguasa lalim. Søren Kierkegaard menyebut kecemasan muncul ketika manusia kehilangan pegangan pada Yang Absolut dan menggantungkan diri pada yang rapuh. Idul Fitri hadir memberikan jalan dalam kalimat takbir: Allahu Akbar.
Ketika seorang mukmin mengucapkan “Allah Maha Besar” dengan sadar, ia sekaligus mengecilkan dirinya sendiri, para tiran, politisi busuk, dan kongklomerat yang pelit. Takbir bukan sekadar slogan akustik, tetapi deklarasi teologis. Ia menanamkan prinsip: tidak ada kekuasaan yang absolut selain Allah. Harapan tidak boleh digantungkan pada meja pengadilan yang bisa disuap, tetapi pada Mahkamah Ilahi yang akan memberikan kepastian. Ini terapi agar mental umat tidak hancur oleh ketidakadilan dunia, karena di balik semua meja pengadilan manusia masih ada Pengadilan Tuhan yang Maha Mengetahui. Dan pengadilan dunia harus terus diperjuangkan dan ditegakkan.
Bangsa Indonesia membutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki karakter jujur dan berani mengekspresikannya. Dengan kejujuran, kebaikan dan keburukan akan tersingkap, dan dengan kejujuran, keadilan terjaga. Kejujuran inilah digambarkan Nabi yang termaktub dalam Ṣaḥīḥ Muslim, juz 3, hadis nomor 2607, melahirkan kebaikan dan mengarahkan kepada surga.
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اَللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا
Selain melahirkan kebaikan, kejujuran juga melahirkan ketenangan dan kedamaian karena darinya keadilan terjaga. Dalam Islam, kejujuran dan penegakan keadilan merupakan integritas yang harus dijaga, tanpa memandang siapa yang terkena akibatnya, apakah kerabat, saudara atau teman sejawat.
Ketiga, prinsip ekoteologis sebagai respons atas bencana alam dan krisis iklim. Islam menawarkan konsep khalifah fil ardh: manusia sebagai pemegang amanah dan penjaga bumi. Fazlur Rahman, seorang sarjana bidang Al-Qur’an menekankan bahwa khalifah bukan sekadar status teologis, tetapi mandat etis: manusia bertugas menjaga harmoni dan keseimbangan alam.
Bencana alam—banjir, kekeringan, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati—dapat dibaca sebagai “tegur sapa” Tuhan atas rusaknya keseimbangan. Idul Fitri berarti kembali ke fitrah, dan fitrah manusia adalah mencintai alam, bukan merusaknya. Puasa telah melatih kita mengurangi konsumsi dan menahan syahwat. Jika keserakahan berhenti, bumi mendapat ruang untuk pulih. Terapi ekologis dari Idul Fitri adalah ajakan mengubah gaya hidup: dari eksploitasi menuju kesederhanaan dan tanggung jawab, dari kerakusan menuju kecukupan. Alam mampu melayani kebutuhan umat manusia, tetapi dia akan rusak menghadapi kerakusan manusia.
Keempat, membangun kebeningan hati. Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn mengkritik para agamawan dan politisi yang menjual agama demi dunia, melupakan amanah ilmu dan kekuasaan. Idul Fitri mengajak kita kembali ke hati nurani, ke qalbun salim: hati yang selamat dari penyakit dengki, riya, dan cinta dunia yang berlebihan dan tiada batas.
Ketika kata-kata manusia—baik politisi, agamawan, maupun influencer—tak lagi menenangkan jiwa, saatnya kita kembali kepada Al-Quran. Carilah keteduhan dalam tadabbur; temukan ketenangan di dalam sujud, bukan dalam keriuhan opini dan fatwa yang memecah belah. Puasa telah mengosongkan perut; Idul Fitri harus mengosongkan hati dari benci dan dendam, agar cinta dan keadilan bisa tumbuh dan ketenangan menjadi lapang.
Keempat, sistem sosial yang maslahat melalui keadilan dan pemberdayaan menjadi prinsip para politisi, pemimpin, pengusaha dan agamawan. Dalam kaidah fikih prinsip ini menjadi bagian dasar utama kebijakan:
تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ
“Kebijakan imam (pemerintah) terhadap rakyat bergantung pada kemaslahatan.”
Para ulama ushul fiqh menjelaskan, maslahah yang dimaksud adalah perlindungan terhadap lima hak dasar: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, dengan orientasi pada kemaslahatan banyak orang, bukan hanya segelintir elit. Dalam konteks modern, ini berarti keberpihakan kepada kaum mustadh’afin—mereka yang tertindas secara struktural maupun kultural.
Idul Fitri, melalui ajaran zakat fitrah dan zakat mal, mengajarkan terapi kemandirian dan keadilan sosial. Zakat adalah simbol bahwa umat harus membangun jaringan pengaman sosialnya. Kita tidak boleh menggantungkan nasib pada belas kasihan penguasa. Umat mesti menguatkan ekonomi, solidaritas, dan lembaga-lembaga sosial, agar tidak mudah didikte oleh kekuasaan dan kepentingan yang tidak maslahat. Dengan demikian, semangat Idul Fitri menjadi aksi nyata: memperkuat gotong royong, memberdayakan yang lemah, dan memperjuangkan kebijakan publik yang adil dan maslahat.
Jamaah salat Idul Fitri yang berbahagia
Dari penjelasan di atas, secara ruhani Idul Fitri adalah hari kembali ke fitrah: kembali pada kesucian asal, pada hati yang jernih. Nabi bersabda bahwa orang yang berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Para sufi memaknainya bukan hanya sebagai status hukum, tetapi juga transformasi batin: hati yang semakin lembut, ego yang semakin tunduk, dan perilaku yang semakin memihak pada kebaikan.
Secara sosial, Idul Fitri adalah hari konsolidasi solidaritas: menguatkan silaturahmi, memperbaiki hubungan, dan menutup luka sosial dengan permintaan maaf yang tulus. Di masyarakat yang kian individualistik, perjumpaan Idul Fitri—shalat bersama di lapangan, saling mengunjungi, saling memberi dan menerima—adalah koreksi atas budaya individualistik Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari kesenangan pribadi, tetapi dari kebersamaan dan kepedulian yang kita bangun bersama.
Secara politik, Idul Fitri adalah hari penyadaran: mengingatkan bahwa ibadah tidak boleh terputus dari perjuangan menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Puasa yang benar seharusnya melahirkan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain dan keberanian untuk berkata “tidak” terhadap tirani yang mengingkari nilai kemanusiaan. Solidaritas sosial yang lahir dari puasa bukan sekadar santunan sesaat, tetapi komitmen jangka panjang untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab.
Dunia kini mungkin sedang lusuh, tetapi jiwa kita tidak boleh ikut lebur. Carl Jung menegaskan, transformasi dunia selalu bermula dari transformasi individu. Idul Fitri adalah terapi untuk menjadikan kita manusia yang selesai dengan dirinya sendiri: yang telah berdamai dengan perut dan egonya, sehingga memiliki cadangan energi batin untuk memperjuangkan keadilan dan merawat solidaritas kemanusiaan.
Jika setelah Ramadan kita telah belajar menahan lapar dan dahaga, kita seharusnya lebih siap menahan godaan mengambil sesuatu yang bukan hak kita, keberpihakan pada keadilan, dan menolak kebencian yang memecah. Jika kita sudah selesai dengan ego, kita akan punya keberanian untuk melawan ketidakadilan di meja pengadilan, menyuarakan kebenaran di depan politisi, dan menjadi penyejuk di tengah kegersangan moral. Inilah makna terdalam dari Idul Fitri: kembali ke fitrah kemanusiaan yang jernih, merdeka, solider, dan bertanggung jawab di hadapan Allah.[]
جَعَلَنَا اَللّٰهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ, وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِى عِبَادِهِ الْمُتَّقِيْنَ, أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرحيم, يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَ لاَ بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ. وقُل رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِي أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْبَغْيِ وَالطُّغْيَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ خَيْرُ مَنْ دَعَا إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ.
صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَا.
أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، إِنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، فَلَا تَجْعَلُوْهُ لِلْمَظَاهِرِ فَحَسْبُ، بَلْ اجْعَلُوْهُ لِلْمَخَابِرِ وَتَزْكِيَةِ الْقُلُوْبِ. كُوْنُوْا مَعَ الْحَقِّ وَإِنْ قَلَّ أَهْلُهُ، وَاعْتَزِلُوْا الْبَاطِلَ وَإِنْ كَثُرَ ضَجِيْجُهُ.
الَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
اللَّهُمَّ يَا مَنْ بِيَدِهِ مَقَالِيْدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، نَسْأَلُكَ فِي هَذَا الْيَوْمِ الْمُبَارَكِ أَنْ تُطْفِئَ نِيْرَانَ الْحُرُوْبِ بَرْدًا وَسَلَامًا، وَأَنْ تَمْحُوَ عَنِ الْبَشَرِيَّةِ رُعْبًا وَآلَامًا.
Ya Allah, Tuhan Pemilik Arasy yang Agung. Di hari yang suci ini, kami mengadu kepada-Mu atas dunia yang kian renta oleh angkara murka. Siramlah api peperangan dengan sejuknya rahmat-Mu, basuhlah luka-luka kemanusiaan dengan lembutnya kasih-Mu.
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْعَدْلَ سُلْطَانًا فِي الْأَرْضِ، وَارْفَعْ عَنَّا يَدَ الظَّالِمِيْنَ الَّذِينَ لَا يَرْقُبُوْنَ فِي مُؤْمِنٍ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً. اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا.
Ya Allah, jadikanlah keadilan sebagai panglima di atas bumi-Mu. Angkatlah tangan-tangan penindas yang merampas hak sesama. Jadilah Engkau pembela bagi mereka yang lemah di Iran dan Palestina dan di setiap jengkal tanah yang terjajah, di mana nyawa tak lagi berharga dan tangis tak lagi didengar, merana.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَ الْقَادَةِ وَالْمَسْؤُوْلِيْنَ مِنْ سَمِّ الْأَنَانِيَّةِ وَالْجَاهِ، وَارْزُقْهُمْ بَصِيْرَةً تَهْدِيْهِمْ لِمَصْلَحَةِ الْعِبَادِ بِلَا اشْتِبَاهٍ.
Ya Allah, sucikanlah hati para pemimpin kami dari racun keangkuhan dan dahaga kekuasaan. Anugerahkanlah mereka mata batin untuk melihat derita rakyatnya, agar kebijakan mereka menjadi payung teduh bagi yang kepanasan, dan menjadi pelita bagi yang kegelapan.
اللَّهُمَّ أَنْزِلِ السَّكِيْنَةَ عَلَى الْأَرْضِ كُلِّهَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْكَوْنَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، بَعِيْدًا عَنِ الْفِتَنِ وَالزَّلَازِلِ وَالْمِحَنِ.
Ya Allah, turunkanlah ketenangan di seluruh ufuk bumi. Jadikanlah semesta ini pelabuhan yang aman dan tenteram, jauhkanlah kami dari bencana alam yang memilukan, fitnah yang menyesatkan, dan dendam yang membinasakan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.