Sejarah Islam di Nusantara bukan sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa. Ia adalah bagian dari identitas, jati diri, bahkan cara kita memahami agama dalam bingkai budaya. Karena itu, pembacaan terhadap sejarah Islam Nusantara selalu menarik, sekaligus rawan diperdebatkan. Dalam pusaran diskursus inilah nama Agus Sunyoto muncul sebagai salah satu tokoh yang menonjol.
Agus Sunyoto dikenal luas sebagai penulis, sejarawan, dan pemikir yang konsisten memperjuangkan cara pandang khas Nusantara dalam memahami sejarah Islam. Ia bukan hanya menulis sejarah sebagai laporan ilmiah, tetapi menjadikannya sebagai ruang refleksi tentang bagaimana Islam tumbuh, berakar, dan berinteraksi dengan kebudayaan lokal.
Ada beberapa kekhasan metode Agus Sunyoto yang membuatnya berbeda dari penulis sejarah pada umumnya, sebagai berikut:
1. Menggunakan Pendekatan Emic: Sejarah dari Dalam, Bukan dari Luar
Salah satu kekuatan Agus Sunyoto adalah pilihannya untuk menggunakan pendekatan emic, yaitu sudut pandang yang berangkat dari pengalaman dan cara berpikir masyarakat lokal. Dalam kajian antropologi, pendekatan emic berarti memahami suatu budaya dengan memakai kacamata orang dalam, bukan memakai teori dan penilaian orang luar.
Agus menilai bahwa selama ini sejarah Indonesia sering ditulis dengan pendekatan etic, yakni perspektif eksternal—biasanya perspektif kolonial Barat. Akibatnya, banyak narasi sejarah kita terasa asing, bahkan kadang memosisikan bangsa Indonesia sebagai objek yang pasif dan tidak berdaya.
Agus pernah menegaskan bahwa membaca sejarah Nusantara harus dilakukan dengan pandangan emic, karena selama ini bangsa Indonesia justru terlalu lama memandang dirinya dengan kacamata Eropa. Hal ini membuat sejarah Indonesia seperti “tidak nyambung” dengan realitas sosial masyarakatnya sendiri.
“kita harus membaca segala sesuatu, termasuk membaca sejarah, budaya, dan lainnya—secara emic. Emic itu pandangan kita sebagai bangsa Indonesia. Kenapa? Selama ini pandangan kita bukan pandangan emic, tapi pandangan etic, pandangan orang luar. Kita memandang Indonesia dengan kacamata Eropa. Itu sebabnya tidak ketemu selalu. Kenapa? Karena mereka yang membuat cara pandang itu, dan itu dilestarikan di sekolah.” (Sunyoto dalam Berita Satu, “PBNU Gelar Silaturahmi Kebudayaan”, 29 Juli 2017)
Contoh yang sering ia angkat adalah tradisi masyarakat yang membagikan makanan atau melakukan kenduri. Dalam perspektif luar, tradisi semacam itu bisa dianggap tidak islami, bahkan dicurigai sebagai bid’ah. Namun bila dilihat dengan kacamata emic, tradisi tersebut adalah bentuk solidaritas sosial, sarana berbagi rezeki, serta ekspresi nilai kebersamaan. Bagi masyarakat Nusantara, tidak berbagi makanan justru dianggap tidak pantas.
Dalam konteks ini, Agus Sunyoto sebenarnya sedang mengajarkan satu hal penting: Islam Nusantara tidak bisa dipahami hanya dari teks normatif, tetapi juga harus dipahami dari praktik sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Pendekatan emic ini juga digunakan Agus ketika membandingkan narasi sejarah kolonial dan narasi sejarah bangsa Indonesia. Misalnya dalam kasus Pangeran Diponegoro: dari sudut pandang kolonial, ia mungkin dicap sebagai pembangkang, tetapi dari sudut pandang rakyat Nusantara, Diponegoro adalah pahlawan yang memperjuangkan harga diri bangsa.
Dengan demikian, Agus Sunyoto mendorong pembaca untuk bertanya: siapa yang menulis sejarah? dari sudut pandang siapa? dan untuk kepentingan siapa?
2. Menggabungkan Logika dan Intuisi
Kekhasan kedua Agus Sunyoto adalah keberaniannya menggabungkan antara rasio dan intuisi. Dalam tradisi Nusantara, dikenal konsep yang disebut “tedhak sungging”, yaitu semacam peta diri yang menghubungkan manusia dengan akar leluhur dan tradisi kebudayaannya.
Dalam kerangka ini, Agus Sunyoto tidak hanya memandang sejarah sebagai data objektif yang dingin. Ia justru melihat sejarah sebagai sesuatu yang hidup, penuh makna, dan terkait erat dengan dimensi spiritual masyarakat.
Karena itu, sebagian pembaca kadang merasakan nuansa “mistik” dalam cara Agus menarasikan sejarah. Namun sebenarnya, yang sedang ia lakukan adalah menghidupkan kembali paradigma Nusantara yang lebih holistik. Paradigma akademik Barat cenderung positivistik: sesuatu dianggap ilmiah jika dapat diukur dan dibuktikan secara empiris. Sedangkan paradigma Nusantara mengenal bentuk pengetahuan yang lebih luas: tidak hanya ilmu akal, tetapi juga ilmu hati.
Dalam istilah yang sering dipakai kalangan tradisional, pengetahuan tidak hanya bersumber dari otak, tetapi juga dari qolbu. Agus ingin menunjukkan bahwa warisan intelektual Timur—termasuk tradisi Islam—tidak pernah memisahkan secara ekstrem antara rasionalitas dan spiritualitas.
Inilah yang kemudian membuat Agus Sunyoto seolah mengajak kita membaca sejarah Islam Nusantara dengan cara yang lebih “dalam”: bukan hanya memverifikasi peristiwa, tetapi juga menangkap ruh kebudayaan yang melingkupinya.
3. Sastra sebagai Wahana Historiografi: Sejarah yang Tidak Selalu Berwujud Dokumen
Kekhasan Agus Sunyoto berikutnya adalah pandangannya tentang sastra. Menurutnya, historiografi Nusantara berbeda dengan historiografi Barat. Jika Barat cenderung menulis sejarah secara kronologis dan dokumentatif, maka tradisi Nusantara sering menuliskan sejarah dalam bentuk sastra: tembang, suluk, prosa, babad, hikayat, bahkan cerita simbolik yang alegoris.
Bagi Agus, ini bukan kelemahan, melainkan kekayaan.
Karena itu, ia banyak menulis sejarah dalam bentuk narasi sastra atau novel, sebagaimana tampak dalam karya-karyanya seperti Rahuvana Tattwa dan Suluk Abdul Jalil. Dalam karya-karya ini, Agus tidak sekadar menampilkan tokoh dan alur cerita, tetapi juga memasukkan lapisan-lapisan historis dan spiritual yang menjadi ciri khas tradisi Nusantara.
Agus juga menilai bahwa dominasi akademik Barat sering menganggap sastra sebagai sesuatu yang tidak ilmiah. Padahal naskah-naskah Nusantara justru mayoritas berbentuk sastra. Bila sastra dianggap tidak ilmiah, maka otomatis sejarah Nusantara dianggap tidak valid. Di sinilah Agus melakukan semacam “perlawanan epistemologis”: ia menolak cara pandang yang merendahkan warisan intelektual Nusantara.
Menariknya, meskipun ia menulis dalam bentuk novel, Agus tetap menyertakan daftar rujukan dan referensi sebagai bukti bahwa karyanya tidak lahir dari imajinasi kosong. Ini menunjukkan bahwa sastra baginya bukan lawan dari ilmu pengetahuan, tetapi justru medium penyampaian ilmu yang lebih membumi.
Membaca Islam Nusantara dengan Cara yang Lebih Adil
Melalui pendekatan emic, penggabungan logika dan intuisi, serta penggunaan sastra sebagai wahana historiografi, Agus Sunyoto sebenarnya sedang membangun satu pesan besar: Islam Nusantara harus dipahami secara adil, sesuai konteks kelahirannya.
Islam di Nusantara tidak hadir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dalam masyarakat yang telah memiliki tradisi budaya, sistem sosial, dan cara berpikir sendiri. Karena itu, sejarah Islam Nusantara tidak bisa hanya dibaca dengan ukuran Timur Tengah atau standar Barat. Ia harus dibaca sebagai pengalaman sejarah yang khas.
Agus Sunyoto mengingatkan kita bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, tetapi juga cara kita memahami diri hari ini. Jika sejarah ditulis dari sudut pandang luar, maka bangsa ini akan terus menjadi “orang lain” di tanahnya sendiri. Tetapi jika sejarah dibaca dengan sudut pandang emic, bangsa Indonesia akan menemukan kembali jati dirinya sebagai masyarakat yang beragama sekaligus berbudaya.