Koran Al-Misykāt yang terbit di Surabaya pada 1931 merupakan salah satu bukti penting bahwa dinamika intelektual Islam di Hindia Belanda tidak terbatas pada pusat-pusat reformisme seperti Singapura atau Padang, tetapi juga tumbuh kuat di wilayah Jawa Timur.
Sebagai surat kabar berbahasa Arab, Al-Misykāt menunjukkan bagaimana ekspresi intelektual masyarakat Muslim—khususnya komunitas Arab-Hadrami—memiliki ruang tersendiri dalam lanskap pers kolonial. Penerbitannya memperlihatkan bahwa Surabaya bukan sekadar kota pelabuhan yang ramai secara ekonomi, tetapi juga pusat penting dalam jaringan keilmuan Islam dan perkembangan budaya baca tulis.
Dengan karakter masyarakatnya yang kosmopolit, koran ini memotret pergulatan umat Islam dalam menghadapi perubahan sosial, tekanan kolonial, serta keinginan kuat untuk membangun identitas keagamaan yang kokoh. Sebagai medium komunikasi, Al-Misykāt memainkan peran yang jauh lebih besar dari sekadar penyampai berita. Ia menjadi wadah bagi diskusi-diskusi keagamaan, sosial, dan politik yang hidup di tengah masyarakat.
Koran ini memuat berbagai laporan dan opini yang mencerminkan harapan umat akan pendidikan Islam yang maju, kepemimpinan yang adil, serta kehidupan sosial yang harmonis. Berita mengenai pembukaan Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif, misalnya, menunjukkan kepedulian redaksi terhadap perkembangan pendidikan Islam modern. Hal ini sekaligus menunjukkan bagaimana komunitas Arab-Hadrami menjadi motor penting pembaruan pendidikan melalui pendirian lembaga-lembaga madrasah yang menyeimbangkan ilmu agama dan pelajaran umum.
Isi Al-Misykāt juga memperlihatkan keberanian dalam mengkritik struktur sosial yang dianggap menghambat kemajuan umat. Salah satu pembahasan penting dalam koran ini adalah kritik terhadap anggapan bahwa kepemimpinan hanya boleh dipegang oleh kelompok elite tertentu—berdasarkan garis keturunan, usia, atau status sosial. Koran ini menolak paradigma tersebut dan menawarkan pandangan yang lebih egaliter mengenai kapasitas kepemimpinan. Hal ini mencerminkan geliat intelektual komunitas Arab-Hadrami pada masa itu, yang mulai mempertanyakan dominasi tradisi hierarkis dan mendorong pembaruan sosial di lingkungan mereka. Dengan demikian, Al-Misykāt tidak hanya merekam perdebatan internal umat, tetapi juga berusaha membentuknya ke arah yang lebih inklusif.
Untuk memahami keberadaan Al-Misykāt, penting menempatkannya dalam konteks sejarah pers Arab-Hadrami di Hindia Belanda. Migrasi besar-besaran dari Hadramaut sejak abad ke-19 menciptakan komunitas diaspora yang terlibat aktif dalam perdagangan, pendidikan, dan aktivitas keagamaan. Seiring tumbuhnya tingkat literasi dan berkembangnya jaringan keilmuan dengan Timur Tengah, media cetak berbahasa Arab mulai bermunculan sebagai sarana mempertahankan identitas dan berbagi pengetahuan. Surat kabar seperti Hadhramaut, al-Ikbal, dan al-Mahjar menjadi ruang ekspresi bagi ulama dan pedagang Arab yang memiliki kepedulian terhadap kondisi umat, baik di tanah rantau maupun di dunia Islam yang lebih luas. Al-Misykāt hadir dalam tradisi yang sama, melanjutkan warisan jurnalisme diaspora Arab yang religius, intelektual, dan kritis.
Kondisi kolonial juga membentuk karakter pers Arab-Hadrami. Pemerintah Hindia Belanda memandang komunitas Arab sebagai kelompok yang berpotensi menyebarkan gagasan pan-Islamisme, sehingga aktivitas pers mereka diawasi ketat. Namun demikian, koran berbahasa Arab tetap memanfaatkan celah kebebasan pers untuk menyuarakan aspirasi keumatan. Al-Misykāt secara hati-hati menyinggung isu politik dan hukum, termasuk pembentukan partai-partai politik dan perjuangan nasional.
Diskusinya mengenai Partai Nasional Indonesia (PNI), misalnya, mencerminkan keterlibatan koran ini dalam perkembangan politik nasional, namun tetap dalam batas yang tidak mengundang represi kolonial. Sikap moderat tetapi kritis ini membuat Al-Misykāt mampu bertahan sebagai ruang aman bagi diskursus umat.
Selain mencerminkan dinamika politik, Al-Misykāt juga memuat perhatian besar pada kehidupan sosial komunitas multikultural Surabaya. Interaksi antara kelompok Arab, Jawa, Madura, Tionghoa, dan Eropa seringkali diwarnai kompetisi ekonomi dan perbedaan sosial. Dalam situasi demikian, Al-Misykāt berupaya mengarahkan umat Islam agar tetap memegang etika sosial yang baik, saling menolong, dan menjunjung kasih sayang dalam pergaulan. Penggambaran kehidupan keagamaan yang penuh nasihat moral menunjukkan bahwa koran ini tidak semata-mata berfokus pada isu politik, tetapi juga pada kebajikan sosial dan pembinaan karakter.
Dengan demikian, Al-Misykāt menjadi corong moral masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman. Dari sisi pendidikan, Al-Misykāt memberikan perhatian besar terhadap modernisasi lembaga pendidikan Islam. Berita mengenai institusi-institusi pendidikan yang didirikan oleh komunitas Arab menunjukkan komitmen mereka terhadap kemajuan intelektual umat. Hal ini sejalan dengan arus pembaruan Islam global yang menekankan pentingnya pendidikan formal, keterampilan membaca, dan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai jalan menuju kemajuan. Koran ini turut mempopulerkan gagasan-gagasan pembaruan dengan cara yang mudah diakses pembacanya, sehingga membantu membangun kesadaran baru tentang pentingnya pendidikan Islam yang berkualitas.
Posisi Al-Misykāt dalam sejarah pers Islam Indonesia semakin penting jika dilihat dari perspektif keilmuan. Sebagai koran berbahasa Arab, ia menghubungkan pembacanya dengan literatur keislaman klasik dan jaringan intelektual Timur Tengah. Bahasa Arab bukan hanya simbol religius, tetapi juga media utama penyebaran ilmu pengetahuan keagamaan pada masa itu. Dengan format jurnalistik modern, Al-Misykāt menjadi perantara antara tradisi keilmuan kuno dan tantangan kehidupan modern umat Islam di Jawa. Ia menyediakan ruang bagi ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat untuk mendefinisikan arah umat di tengah kolonialisme, modernitas, dan perubahan sosial yang cepat.
Secara keseluruhan, Al-Misykāt merupakan refleksi kompleksitas kehidupan umat Islam Indonesia pada awal abad ke-20. Ia mencatat perjalanan sosial, pendidikan, politik, dan keagamaan komunitas Arab-Hadrami dan masyarakat Surabaya secara lebih luas. Di samping menjadi sumber informasi, koran ini berfungsi sebagai penggerak perubahan sosial, pembentuk opini, dan instrumen pemeliharaan identitas keagamaan. Koran ini bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga salah satu aktor penting yang ikut mengarahkan perkembangan pemikiran Islam di Hindia Belanda.