Anak-anak meramaikan masjid setiap Ramadhan. Mereka belajar membaca kitab suci dan beribadah. Di sela membaca kata-kata berbahasa Arab, mereka mendapat beragam penjelasan dan pengisahan bertema agama. Konon, anak-anak senang bila mendapat cerita-cerita sambil menuju waktu berbuka puasa. Kegembiraan dalam kebersamaan terjalin melalui cerita-cerita, tak melulu tentang nabi dan orang-orang suci.
Anak-anak berpuasa tapi bergairah dalam berimajinasi. Cerita sering membuat mereka terus penasaran sampai bertambah umur menjadi tua: setan. Kita mengandaikan para pengisah setan di hadapan anak-anak menimbulkan dampak kebencian, ketakutan, dan keberanian. Anak-anak mudah terpikat kejutan-kejutan. Pengisahan setan sering memberi misteri-misteri, sejak masa Adam sampai sekarang. Semula, anak-anak berimajinasi setan seperti terkandung dalam al-Quran. Mereka perlahan mengenali setan berlatar abad teknologis. Usaha membandingkan setan dari masa silam dan masa sekarang.
Perkara mudah teringat: “Setan dibelenggu selama Ramadhan.” Anak-anak berimajinasi-gambar: setan tampak merana gara-gara belitan rantai. Imajinasi itu bertahan lama. Ajakan agar anak-anak mencari dan mengumpulkan pahala melalui beragam ibadah terus diwujudkan. Pahala bisa berlipat ganda. Anak-anak dianjurkan tak mengikuti seribu bujukan setan. Berpuasa selama Ramadhan menjadi ikhtiar mengetahui dan memusuhi setan. Anak-anak belajar tentang setan tapi sulit utuh. Mereka mengikuti imajinasi meski mendapat penjelasan-penjelasan bersumber kitab suci.
Tahun-tahun pun berlalu, mereka bertambah pengetahuan tapi masih memiliki sejuta penasaran. Usaha untuk mengenali setan dilakukan melalui pengajian, diskusi, membaca buku, dan menonton film. Pengenalan setan makin menimbulkan “bingung”. Di buku bergambar atau komik, mereka melihat setan dalam bentuk-bentuk aneh. Mereka menonton film-film mutakhir, mengetahui penampilan setan dan suara. Setan berlatar abad XX dan XXI memberi imajinasi “berlebihan” ketimbang mengingat masa kecil mendapat pengisahan setan di serambi masjid.
Kita makin “bingung” tapi “terpikat” bila mengenali setan dalam beragam teks sastra di pelbagi negara. Di pengisahan setan oleh para pengarang, kita menemukan setan-setan bisa tampak mata atau berada di alam berbeda. Di hadapan halaman-halaman cerita atau puisi, pembaca diajak melakukan kerja penafsiran tapi sulit sampai pengenalan utuh. Setan tetap saja misteri.
Muhammad Iqbal dalam buku berjudul Javid Nama mencantumkan ratapan setan: “Bebaskan aku dari perburuan ini, cabutlah kesetiaanku kecuali yang kemarin. Oh, betapa malangnya aku yang memiliki hati kuat, sekarang berubah menjadi lembut dan lemah.” Setan mengingat babak awal. Ia berada dalam posisi “buruk” di hadapan Tuhan saat terjadi penciptaan manusia. Keinginan setan merujuk lakon ribuan tahun: “Oh, Tuhan, padukanlah padaku seorang manusia yang beriman. Semoga aku dapat meraih kebahagiaan di dalam kekalahanku.”
Kini, kita dimudahkan belajar tentang setan melalui buku-buku. Ahmad Sakr menulis buku berjudul Biografi Setan (2002), mengingatkan ciri-ciri setan: “Dia suka menyelinap. Dia dekat sekali dengan orang-orang yang lupa Allah, dengan orang-orang yang tidak shalat, dengan orang-orang yang tidak puasa, dengan orang-orang yang tidak membaca Al Quran.” Kita telah lama mengetahui ciri-ciri setan tapi penasaran setan dalam zaman mutakhir. Setan belum rampung menggoda manusia. Setan memiliki misi-misi besar tak pernah selesai.
Kita pun diingatkan: setan sebagai musuh bagi manusia. Pemahaman kita kadang rancu saat mengetahui manusia malah bersekutu dengan setan. Orang-orang pun berkelakar: pekerjaan setan sudah digantikan oleh manusia. Pada masa sekarang, setan mudah dijadikan gurauan. Segala omongan mengandung ledekan dan hujatan biasa menggunakan istilah setan. Hal mengejutkan terjadi dalam kuliner. Penikmat makanan lumrah memberi sebutan “setan”. Kita pun bingung menghadapi pemaknaan setan melalui selebrasi-selebrasi industri hiburan.
Kita lanjutkan belajar setan dengan membuka buku berjudul Fatwa-Fatwa Setan (2016) garapan Mabruk Athiyah. Buku membuat kita berdebar. Kita terbiasa mengikuti fatwa ulama. Kini, kita mendapat peringatan fatwa setan. Mabruk menjelaskan: “Sepanjang sejarah, setan menyesatkan manusia dan menyelimuti kebenaran ayat-ayat dan hadis dengan kebatilan. Seakan-akan setan pun ingin mempersembahkan buah karya untuk memuat fatwa-fatwanya.” Kita diajak kritis dalam menelusuri pengajaran agama, dari masa ke masa.
Konon, ada usaha menggunakan arus pengajaran agama tapi ditunggangi kepentingan-kepentingan setan. Kita mesti merenungi siasat mengelabui atau samaran. Mabruk mengingatkan: “Layaknya ulama mazhab, setan pun memiliki para pengikut setia dan fanatic terhadap fatwa-fatwanya. Tak sadar jika mereka telah menjadi korban dari fatwa-fatwa sesat dan menyesatkan diri.” Pada abad XXI, kita mengakui fatwa-fatwa setan berlaku dan bertambah dengan segala cara atau perwujudan. Setan meraih keberhasilan dalam arus keberagamaan.
Kita perlu kembali lagi mengenali setan melalui al-Quran. Quraish Shihab memberi bacaan bermutu agar kita selalu mewaspadai setan. Buku itu berjudul Setan dalam Al Quran (2017). Penulisan buku dipicu peristiwa di Amerika Serikat. Kita pernah memiliki bahasa-politik tentang “setan dunia” dalam politik global.
Pada suatu hari, Quraish Shihab berada di Amerika Serikat, bertemu dan berdiskusi bareng para mahasiswa asal Indonesia. Mereka memiliki kemauan memasalahkan setan. Quraish Shihab sempat ragu bila menjelaskan setan di negara mengagungkan rasionalitas. Setan masih tema besar tapi membicarakan di Barat terasa berbeda bila “menggosipkan” atau “menghujat” seperti kebiasaan di Timur.
Quraish Shihab menerangkan: “Banyak agamawan abad ini memahami setan sekadar menemani manusia dan menggodanya, tanpa kekuasaan. Itu dari segi penggunaan kata setan. Tetapi, ketika ilmuwan berusaha mempertanyakan apa asal kata setan dan apa hakikat setan, di sini bermula perbedaan pandangan, baik dari sudut pandang pakar bahasa maupun agamawan. Ada yang menduga bahwa kata setan atau syaithan dalam bahasa Arab terambil dari bahasa Ibrani, yang berarti lawan atau musuh. Alasannya, antara lain, kata itu telah dikenal dalam agama Yahudi.” Sejarah secara kebahasaan tentu panjang. Pemaknaan dalam abad-abad berbeda pun menentukan kemampuan kita mengenali setan.
Ramadhan mengingatkan setan saat kita belum mengenali secara “utuh”. Setan terus bermunculan dalam khotbah-khotbah agar orang-orang menjaga dan meningkatkan iman. Anak-anak justru lazim menanggapi segala khotbah dan cerita bertema setan dengan kelakar. Mereka mengetahui kejahatan, keburukan, dan kesesatan tapi penggunaan istilah setan menimbulkan kebingungan sekaligus “hiburan”. Begitu.