Bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa bagi umat Muhammad, namun seiring bergesernya zaman esensi dari bulan suci ini mulai memudar. Banyak dari kita yang masih mementingkan urusan duniawi daripada urusan ukhrawi. Bahkan bisa jadi urusan duniawi kita dapat menjadi dua kali lipat sibuknya dari bulan-bulan biasa.
Nah, untuk menyegarkan kembali semangat dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan, apalagi saat ini kita berada di penghujung bulan. Ada baiknya kita menyimak sejenak nasihat-nasihat mulia yang disampaikan oleh Imam Abdullah Al-Haddad (1044 H – 1132 H), sosok ulama’ pembaharu Islam / mujaddid pada zamannya sebagaimana yang disebutkan oleh K.H. Maimun Zubair dalam kitabnya berjudul “Al-Ulama’ Mujaddidun”.
Kitab tersebut berjudul “Risalah Al-Mu’awanah” yang memuat pesan-pesan rohani bagi kaum muslim, Imam Haddad memberikan nasihat demikian :
و عليك بالإكثار من أعمال البرّ و خصوصا في شهر رمضان، فإن ثواب النافلة فيه يعدل ثواب الفريضة في غيره...
“Dan langgengkan kepadamu untuk memperbanyak amal kebaikan dan amal yang terkhusus di bulan Ramadan. Karena sesungguhnya pahala amal sunnah di bulan Ramadan itu derajatnya bisa menyamai pahala amal fardhu di selain bulan Ramadhan” (Turmusy, 2019 : 57)
Sangking agungnya bulan Ramadan sampai-sampai amal ibadah sunnah yang dikerjakan di bulan tersebut pahalanya menyamai dengan pahala melakukan amalan fardhu yang dikerjakan pada bulan selain Ramadan. Maka tidak tanggung-tanggung apabila Syekh Abdurrauf Al-Munawi secara tegas dalam kitabnya Faidhul Qadir bahwa jika puasa wajib di bulan Ramadan ditinggalkan secara sengaja tanpa ada udzur syar’i, maka meskipun ia mampu untuk menqadha’ (mengganti) puasanya di hari lain. Hal tersebut tidak dapat menggantikan keutamaannya bahkan dengan ia puasa berbulan-bulan lamanya.
Kemudian Imam Abdullah Al-Haddad kembali menyampaikan nasihatnya berkaitan puasa di bulan Ramadhan :
و ينبغي أن لا تعرج في هذا الشهر الشرسف على غير عمل الآخرة، ولا تدخل في شيء من أعمال الدنيا إلا إنْ كان ضروريا...
"Dan seyogyanya (bagi seorang hamba) agar tidak berpaling pada bulan yang mulia ini atas mengerjakan perbuatan selain daripada amalan akhirat dan janganlah seseorang masuk pada sesuatu dari amalan dunia kecuali hal tersebut terjadi dalam keadaan darurat." (Turmusy, 2019 : 58)
Perkataan Imam Al-Haddad tersebut ada keselarasannya dengan fenomena yang terjadi pada akhir Ramadan. Bukannya kita disibukkan dengan memperbanyak ibadah guna meraih malam Lailatul Qadar. Malah sebaliknya, mengadakan Lailatul Kopdar di mall dan swalayan terdekat. Sementara saf di masjid dan musala semakin longgar, maka dawuh Imam Al-Haddad tersebut dapat menjadi pepiling bagi kita agar di bulan Ramadan ini kita menjadi orang yang mukhlis (ikhlas / legowo / neriman) bukan menjadi orang yang muflis (bangkrut/ pailit/ merugi).
Kemudian Imam Abdullah Al-Haddad meneruskan nasihatnya demikian :
واعلم أنّ الصيام قطب الرياضة وأساس المجاهدة, و قد ورد أنّ الصوم نصف الصبر
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya puasa adalah puncak daripada riyadhah (ibadah / olah hati) dan asas utama dalam bermujahadah (berjuang menaklukkan nafsu). Dan telah disebutkan bahwa puasa adalah setengah daripada sabar” (Turmusy, 2019 : 59)
Tentulah demikian bahwa hakikat berpuasa yakni untuk menaklukan nafsu, menaklukan sifat ego kita, dan menaklukan rasa “aku” dalam diri kita sebagaimana yang dikatakan Emha Ainun Najib atau yang kerap disapa Mbah Nun dalam kumpulan artikelnya mengenai bulan Ramadan yang berjudul “Tuhan pun Berpuasa”, bahwa dampak ibadah puasa yang paling besar dalam diri kita adalah adanya self control atau bahasa mudahnya ngempet atau menahan segala sesuatu terhadap nafsu sayyi’ah / nafsu yang buruk, seperti sifat tamak, rakus, serakah, menggunjing, dll.
Namun jika sifat-sifat itu masih bercokol pasca menjadi manusia yang fitrah, hendaknyalah kita bertanya pada diri kita masing-masing. Apalagi pada fenomena sekarang, dimana generasi milenial mulai muak dengan pertanyaan julid serta sinis dari tante dan budenya tatkala berkumpul bersama. Entah itu ditanya kapan nikah? kapan punya momongan? kapan kariernya bisa melejit kayak anaknya? dll. Itu sudah menandakan bahwa manusia golongan tersebut masih belum menemukan makna dari hakikat puasa itu sendiri.
Waba’du, itulah tadi sepenggal demi sepenggal nasihat rohani dari Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang termaktub dalam kitabnya Risalah Al-Muawanah dan semoga dengan nasihat itu tadi kita dapat memaknai kembali hakikat puasa di bulan Ramadan sehingga kelak ketika hari raya kemenangan telah tiba. Kita benar-benar menjadi manusia yang fitri dan dapat ngempet segala hal yang berkaitan dengan nafsu sayyi’ah kita. Amiin Allahumma Amiin.