Hanya satu bulan setelah dilantik menjadi Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berinisiatif menemui Presiden Palestina Yasser Arafat. Pertemuan itu terjadi di Aman Yordania, 24 November 1999.
“....(pertemuan ini) atas permintaan kami. saya sebelumnya sudah berkirim surat kepada beliau (Presiden Palestina) ingin bertemu,” kata Gus Dur membuka sesi tanya jawab dengan wartawan, sesaat setelah melakukan pertemuan dengan Yasser Arafat.
Dari visual yang terlihat, suasana jumpa pers ataupun saat Presiden Yasser Arafat keluar dari mobil, disambut dan diantar Presiden Gus Dur hingga di halaman, tampak optimis dan gembira. “Saya pikir pertemuannya di perbatasan dengan Israel. tapi ternyata beliau yang datang ke sini. ini suatu kehormatan besar untuk saya,” jelas Gus Dur didampingi Menteri Luar Negeri Alwi Shihab.
“Karena ini berarti (beliau) menghargai bangsa kita begitu tinggi. Nah, saya katakan pada beliau bahwa bangsa Indonesia mendukung sepenuhnya perjuangan rakyat Palestina, termasuk keinginan kita agar Palestina dapat kembali ke Kota Yerusalem,” tambah Gus Dur dengan antusias.
Berikut ini wawancara lengkap Presiden Gus Dur, yang bersumber dari Youtube iNews.
Wartawan: Kemudian rencana membuka kamar dagang, kantor dagang itu?
Presiden Gus Dur: Ya itu saja, dengan kata lain, kalau kita ingin berdagang dengan Palestina, ya Palestina itu bangsa besar ya. Artinya bangsa yang punya banyak pengaruh di mana-mana. Kita membuka hubungan dagang itu berati kita membuka jalur-jalur baru di dalam hubungan kita dengan bangsa tersebut.
Wartawan: Gus Dur tampak akrab sekali dengan Yasser A rafat, termasik di antaranya minta ketemu empat mata. Apa yang sebenarnya diinginkan Pak Yasser Arafat?
Presiden Gus Dur: Tidak ada. Saya hanya mengatakan bahwa bangsa Indonesia itu mempunyai komitmen yang teguh kepada perjuangan rakyat Palestina. Jadi kalau mereka memilih untuk membuat negara sendiri, kita mendukung.
Wartawan: Apakah Yasser Arafat tidak mencurigai Gus Dur sebagai ketua Yayasan Shimon Peres?
Presiden Gus Dur: Oh bukan ketua. Dia tahu kok. ketua parlemennya sendiri, Alauddin sama dengan saya, pendiri (Yayasan Shimon Peres) juga. Tidak ada masalah.
Wartawan: Tidak ada masalah Gus?
Presiden Gus Dur: Ndak ada Tidak ada. Karena apa? Karena saya di dalam berhubungan dengan pihak Israel sudah lama selalu menekankan pentingnya perjuangan Palestina. Jadi tidak bisa Israel hidup tanpa penyelesaian Palestina.
Wartawan: Sejauh ini Israel sendiri bagaimana komitmennya?
Ya sebenarnya di Israel sendiri kan masalahnya adalah sebagaimana dikatakan Presiden Arafat tadi. Dia mengatakan bahwa orang kayak Shimon Peres mukhlis, ikhlas, ingin betul-betul tercapai perdamaian, ingin orang Palestina ini berdiri sendiri dengan sungguh-sungguh. Tapi ya kehidupan politik (di Israel) tidak hanya dikuasai oleh orang seperti Shimon Peres saja. Ada juga orang seperti Benjamin Netanyahu.
Wartawan: Pak, tampaknya Yasser Arafat dari statemen sangat gembira bahwa Indonesia masih tetap bersikukuh mendukung perjuangan Palestina.
Presiden Gus Dur: Oh iya...
Wartawan: Apakah selama ini, sebelum pemerintahan terbentuk ada semacam kekhawatiran bahwa komitemn itu luntur, Pak?
Presiden Gus Dur menjawab sambil tertawa kecil: Ya tanya sama Pak Harto, jangan tanya saya. Kalau saya sih tetap dari dulu (mendukung Palestina).
Terdengar wartawan ingin bertanya lagi. Tetapi Gus Dur melanjutkan jawaban dengan nada agak tinggi: Saya melihat, bahwa dari dulu kita tidak pernah luntur kok dalam mendukung Palestina. Cuma kadang-kadang tidak terlihat karena kesulitan-kesulitan ekonomi kita. Nah kebetulan saya sendiri sekarang ini, walaupun banyak kesulitan, tapi karena mengenal jiwanya orang-orang Arab, ya saya pikir masalah Palestina itu tetap nomor satu. Karena itu, kita tetap menempatkannya sebagai nomor satu.
Wartawan: Presiden, apa bisa lebih dijelaskan langkah konkret apa yang akan dilakukan terhadap Israel agar Palestina bisa kembali ke Yerusalem, mengingat sekarang masih ada Yerusalem Barat dan Yerusalem Timur?
Presiden Gus Dur: Saya rasa masalah ini tergantung pada bangsa Palestina, mau berunding seperti apa dengan Israel. Kita ikut saja. Jadi tidak ada posisi sendiri. Tidak ada. Kita ikut mendukung posisinya orang Palestina. Walaupun betapa baiknya saya dengan orang Israel, tapi tidak akan saya mengorbankan orang Palestina.
Wartawan: Pak Presiden, apakah Bapak akan memanfaatkan lobi Bapak yang juga cukup dalam di Pemerintahan Israel dalam memperjuangkan masalah Palestina ini, Pak?
Presiden Gus Dur: Saya rasa teman-teman saya setuju kok bahwa orang Palestina dihargai, harus mendapatkan hak-hak mereka dengan sungguh-sungguh. Masalahnya kan ada pihak lain yang tidak setuju
Wartawan: Ada kemungkinan mengundang Yasser Arafat ke Indonesia, Pak Presiden?
Presiden Gus Dur: Ya ini nggak sempat karena waktunya terlalu pendek. Nanti sambil makan. Memang betul itu, beliau harus diundang ke Jakarta.
Wartawan: Masih ada meeting?
Pertanyaan itu selain dijawab Gus Dur juga dijawab oleh Alwi Shihab, “Masih ada.”
Wartawan: tadi komunikasi dengan bahasa apa?
Menlu Alwi Shihab: Bahasa Arab, bahasa Arab.. Presiden Gus Dur sambil tertawa: Kebetulan dia orang Arab, saya orang Arab..
Wartawan: Pakai joke tidak, Pak?
Presiden Gus Dur menjawab sambil tertawa ringan: ndak sempat, ndak sempat. Alwi Shihab: nanti waktu makan.
Presiden Gus Dur: Kalau kemarin, Anda tidak lihat sih, saya cerita lucu-lucu kepada Amir Qatar (Syaikh Hamid bin Khalifa Al Thani, memerintah 1995-2013), karena dia juga cerita lucu-lucu..
Wartawan: antara lain apa, Pak?
Presiden Gus Dur: Ya kalau diceritain nggak ada waktunya.
Lalu Alwi Shihab memberi isyarat agar jumpa pers singkat ini disudahi. Dia berterima kasih kepada wartawan, “Terima kasih ya, terima kasih.”
Pada 16 Agustus 2000 atau 9 bulan setelah pertemuan ke Aman, Presiden Yasser Arafat datang ke Jakarta memenuhi undangan Presiden Gus Dur.