Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) menggelar serangkaian diskusi dan pendataan naskah kuno sebagai upaya melestarikan warisan intelektual Ibu Kota. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini fokus pada dua naskah penting, Al-Fatawi dan naskah-naskah dari Skriptorium Pecenongan.
Menurut Kepala Dispusip DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, naskah-naskah kuno ini membuktikan bahwa Jakarta telah menjadi pusat peradaban dan intelektual sejak masa lampau.
"Melalui naskah-naskah ini, kita bisa melihat jejak jaringan ulama dan intelektual di Jakarta, serta aktivitas penulisan naskah yang marak di beberapa lokasi seperti Pecenongan," jelas Nasruddin di sela-sela acara.
Salah satu naskah yang menjadi perhatian, Al-Fatawi, disebutkan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. RB Abi Munawir Almadani Mertakusuma, Pangeran Ratu Jayakarta IX, mengungkapkan bahwa naskah ini diperkirakan ditulis pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi.
"Naskah ini menggunakan aksara lokal dan bahasa Melayu campuran, menunjukkan keragaman budaya yang sudah ada di Jakarta sejak dulu," ujarnya.
Keberhasilan lain yang patut disyukuri adalah pengakuan Naskah Pecenongan sebagai Ingatan Kolektif Nasional 2025. Sementara itu, naskah Al-Fatawi sedang dalam proses untuk mendapatkan pengakuan yang sama.
Dalam diskusi terungkap bahwa pelestarian naskah kuno menghadapi tantangan tersendiri. Oci Hendra Satria dari Arsip Nasional Republik Indonesia mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya melakukan preservasi terhadap naskah-naskah kuno.
"Kami telah berhasil mempreservasi puluhan ribu lembar arsip dari berbagai keraton di Nusantara. Ini penting untuk memastikan warisan budaya kita tetap terjaga," tuturnya.
Fathurrochman Karyadi, dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara, menambahkan bahwa banyak yang bisa digali dari naskah kuno, bukan hanya sejarah, intelektual, atau hal ilmiah lainnya.
"Naskah kuno bisa menjadi sumber lokal yang menarik global, seperti konsep glocal yang dilakukan Yayasan Sakuranesia Society di Jember yang berhasil mengadakan even internasional, menambah potensi ekonomi dan pariwisata," tegasnya.
Kegiatan semacam ini diharapkan dapat terus berlanjut untuk membangun kesadaran masyarakat akan kekayaan warisan budaya tulis yang dimiliki Jakarta.