Bulan Ramadan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah rahmat dan kasih sayang Allah, yakni pada sepuluh malam pertama. Bagian kedua disebut maghfiroh atau ampunan dari Allah. Sedangkan, bagian ketiga adalah Itqun minan nar atau pembebasan dari siksa api neraka. Maka dari itu, kita dianjurkan melakukan ibadah sebanyak mungkin sejak malam pertama hingga akhir bulan Ramadan.
Seperti, disebutkan dalam hadis Nabi.“Bulan Ramadan adalah bulan yang awalnya penuh rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah kebebasan dari api neraka.” (HR. Ibnu Huzimah). Dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, terdapat satu malam yang mulia bahkan lebih utama dari seribu bulan. Sehingga, membuat seluruh umat muslim berlomba-lomba mendapatkan malam tersebut.
Malam Lailatul Qadar. Suatu malam yang mulia, di mana terdapat keistimewaan yang tidak dimiliki oleh malam-malam lain. Mengapa disebut “Lailatul Qadar”? Utsman Ibn Hasan, dalam kitab Durratun Nashihin mengatakan, bahwasannya malam itu ditetapkan segala urusan, keputusan-keputusan rizki, ajal dan semua yang bakal terjadi pada tahun itu. Sampai, malam yang sama pada tahun yang akan datang. (lihat: Durratun Nashihin, 516).
Lailatul Qadar, juga merupakan peristiwa yang luar biasa dan penuh misteri dalam islam, banyak kejadian akbar yang berlangsung di dalamnya, salah satu yang paling fenomenal adalah peristiwa penurunan Al-Qur’an kepada nabi Muhammad Saw. Seperti yang termaktub dalam (QS. Al-Qadr.1-5). Fenomena yang maha dahsyat ini, Allah menurunkan al-Qur’an melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur sesuai konteks saat itu.
Selain itu, kepastian datangnya malam Lailatul Qadar juga masih menjadi misteri. Kedatangannya, sengaja disembunyikan oleh Allah Swt. Kita, secara pasti kita tidak bisa menentukan kapan datangnya, apakah malam pertama, kedua atau ketiga. Karena, itu merupakan hak mutlak Allah Swt. Kendati demikian, kita dapat melihat dan mengenali tanda-tanda yang diberikan oleh Nabi melalui hadisnya.
‘Aisyah mengatakan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadan, Nabi fokus beribadah, mengisi malam dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut beribadah,” (HR. Al-Bukhori). Dalam riwayat lain, Nabi menegaskan lebih detail mengenai turunnya malam Lailatul Qadar. Nabi bersabda ”Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil sepuluh malam terakhir Ramadan,”(HR. Al-Bukhori). Adapun malam ganjil yang dimaksud adalah malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29.
Melalui hadis tersebut, kita dapat melihat bagaimana Nabi memberikan clue (Petunjuk). Bahwasannya, Lailatul Qadar turun pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan dan di malam-malam yang ganjil. Seyogyanya, kita mempersiapkan diri, mengajak keluarga dan mengurangi kegiatan diluar ibadah. Agar, dapat beribadah dengan maksimal dalam rangka menyongsong malam Lailatul Qadar.
Allah merahasiakan malam Lailatul Qadar. Bukan serta merta tanpa alasan, jika kita lihat lebih jauh, ada hikmah yang bisa kita ambil. Yakni, agar kita senantiasa beribadah terus menerus di bulan Ramadan. Karena, Allah Swt merahasiakan empat hal dari manusia, pertama ridha-Nya dalam ibadah, murka dalam maksiat, wali dalam kehidupan dan keempat adalah malam Lailatul Qadar. Agar, kita selalu ikhlas dan tidak menyepelekan sekecil apapun amal kebaikan yang kita perbuat.
Kemudian, Apa yang harus kita lakukan? Karena, meraih malam Lailatul Qadar adalah impian semua umat islam, maka melalui tulisan ini, saya akan mencoba berbagi bagaimana tips meraih keistimewaan malam ini. Pertama, meluruskan niat serta membulatkan tekad untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah. Kita, dituntut untuk berusaha dengan maksimal serta bersabar dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Sejalan dengan itu, Nabi juga menegaskan dalam hadis ”Barang siapa yang bangun untuk beribadah pada malam Lailatul Qadar, dengan penuh keimanan dan keikhlasan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau,”(HR Bukhori dan Muslim). Dari hadis ini, Nabi mengatakan kepada kita, bahwa tanpa niat dan usaha yang tulus, mustahil rasanya kita akan mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar.
Kedua, menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah. Dengan cara, menjaga shalat berjamaah, khususnya shalat wajib, lalu mengisi waktu kosong setelahnya dengan memperbanyak zikir, membaca al-Qur’an, ‘Itikaf di masjid dan bersedekah. Demikian, merupakan bentuk ikhtiar kita untuk mendapatkan keutamaan malam Laillatul Qadar. Karena, kita tidak mengetahui secara pasti kapan datangnya.
Terakhir, puncak dari semua amalan yang kita kerjakan, mari kita serahkan kepada Allah Swt (tawwakal ‘alallah). Allah, akan meridhai orang-orang yang dikehendaki untuk mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar. Semoga, amalan yang kita kerjakan menjadi perantara mendapatkan keberkahan dan dapat membawa jiwa kita kepada titik penghambaan seutuhnya kepada Allah Swt. Wallahu ‘alam.