Sosok dikenang melalui acara di TVRI. Ribuan anak duduk di depan televisi mengikuti segala petunjuk. Anak-anak menggambar dan bergembira. Mereka dalam asuhan sosok penuh kasih dan pujian. Sosok itu bernama Tino Sidin (25 November 1925-29 Desember 1995). Para pengenang mungkin melewatkan peringatan 100 tahun Tino Sidin.
Anak-anak masa sekarang tak memiliki ikatan dengan Tino Sidin. Mereka hidup dalam “zaman rupa” yang sangat berbeda dari silam. Perubahan-perubahan yang terlalu besar berakibat tokoh-tokoh penting dalam arus sejarah Indonesia tersisih dan terdiamkan. Tino Sidin pernah menjadi panutan melalui acara “Gemar Menggambar”. Ia mengajarkan kegembiraan, bukan “menghasut” anak-anak agar kelak menjadi pelukis (seniman).
Mengapa seabad Tino Sidin tanpa penghormatan oleh pemerintah? Kita mengingat Fadli Zon sedang sibuk mengurusi buku sejarah (resmi) nasional edisi pemerintah dengan mengerahkan ratusan dosen atau sejarawan. Menteri mengaku peka dan memberi perhatian terhadap seni sangat sibuk, berdampak tak memberi “perintah” agar diadakan peringatan akbar mengenang Tino Sidin.
Pada masa Orde Baru, Tino Sidin mendapat perhatian besar dari pemerintah berurusan dengan pengajaran menggambar. Ia mendapat Surat Tugas No 083/CI/T/79, 19 Januari 1979. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, mengangkat Tino Sidin sebagai penatar guru-guru gambar di seantero Indonesia.
Menteri sedang sibuk dan Indonesia ramai perdebatan politik mengabsenkan peringatan seabad Tino Sidin. Kini, kita mengenang dan menghormati tapi telat. Apakah kita mengulangi cuilan-cuilan biografi dan menempatkan Tino Sidin sebagai pelukis? Orang-orang bisa mencari biografi dan capaian sebagai pelukis dari pelbagai sumber, terutama di mesin pencarian Google. Pengenalan sekejap memungkinkan kita paham warisan dan pengaruh Tino Sidin, dari masa ke masa.
Warisan jarang menjadi pembahasan: bacaan anak. Tino Sidin tampil sebagai sosok dalam perkembangan sastra anak di Indonesia. Orang-orang mungkin tak menduga nama itu masuk dalam khazanah sastra anak. Dulu, para pembaca mengakrabi nama-nama kondang dalam sastra anak: Soekanto SA, Mansur Samin, Arswendo Atmowiloto, Djokolelono, dan lain-lain. Tino Sidin memberi persembahan kepada anak-anak meski tak setenar pengarang-pengarang mengabdi dalam kesusastraan anak.
Tino Sidin tampil dengan peran ganda: pembuat cerita dan ilustrator. Buku-buku diterbitkan oleh Balai Pustaka dijelaskan sebagai cerita bergambar. Tino Sidin tetap mulia dalam gambar. Di buku, ia pun menghampiri anak-anak melalui olah kata. Tino Sidin bukan pencerita mumpuni tapi berusaha mengajak anak-anak menautkan cerita dan gambar. Balai Pustaka memanjakan Tino Sidin. Buku dicetak berukuran besar. Kehadiran belasan gambar sehalaman penuh menjadikan anak-anak bersemangat dalam berimajinasi.
Burhan N dalam buku berjudul Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2005) mengingatkan hak-hak dan siasat menikmati bagi anak-anak. Di hadapan mereka, buku cerita, cerita bergambar, atau komik mendapat perlakuan berbeda merujuk keinginan dan capaian. Anak-anak mudah tergoda gambar dalam buku. Konon, gambar memberi rangsang imajinasi yang kemudian diikuti oleh kata-kata (cerita). Kita mengandaikan anak-anak membuka buku untuk melihat (gambar) dan membaca (cerita). Tino Sidin membuat buku tampak mengutamakan kekuatan gambar ketimbang cerita. Ia sadar situasi dan pengalaman anak-anak saat membuka halaman-halaman buku.
Pada 1984, terbit cerita bergambar berjudul Anjing. Tino Sidin mengisahkan anjing dengan sedikit kalimat. Ia mengajak anak-anak agar menemukan keselarasan kata dan gambar. Anak-anak mungkin melihat lama gambar saat mampu merampungkan membaca sedikit kalimat.
Tino Sidin agak mengejutkan saat mengenalkan anjing kepada pembaca: “Sebelum manusia ada di muka bumi ini, jutaan tahun yang lalu, anjing telah hidup. Mereka memiliki ekor yang panjang dan memakan daging. Jadi, anjing termasuk binatang buas.” Anak-anak mungkin kaget dan berusaha mencari “kebenaran” dari cerita Tino Sidin. Mereka bisa meminta keterangan dari bapak, ibu, guru, dan teman. Tino Sidin seolah mengungkapkan “sejarah” planet tanpa perlu mencantumkan referensi: kitab suci atau buku sains.
Kita menduga Tino Sidin tak membuka buku-buku mengenai biologi, kosmologi, dan arkeologi saat mengisahkan anjing. Pembaca diharapkan maklum sedang menikmati cerita, bukan salinan dari risalah sains. Tino Sidin mengungkapkan: “Tak seorang pun tahu, bagaimana manusia dan anjing bisa menjadi teman yang baik. Hanya lama-lama manusia mengerti bahwa anjing dapat membantu manusia ketika pergi berburu. Dan, anjing dapat pula membantu menjaga keselamatan manusia.” Pembaca boleh sekadar memungut hikmah: persahabatan manusia dan anjing.
Pembaca melanjutkan membuka buku berjudul Membalas Jasa (1984). Buku menghadirkan dua binatang: tikus dan singa. Tino Sidin mengira anak-anak suka cerita binatang atau fabel. Ia pun menulis dan memberi gambar-gambar apik. Tino Sidin tetap belum bisa dianggap mahir bercerita. Di buku, pembaca menemukan halaman-halaman cuma berisi sedikit kalimat. Keutamaan tetap untuk gambar.
Tikus kecil bingung memikirkan persediaan makanan. Pada musim hujan, ia merasa kesulitan mencari makanan. Ia ingin mendapatkan makanan disimpan dalam sarang, terhindar dari kelaparan. Tikus kecil memutuskan segera mencari makanan saat masih pagi. Selama di perjalanan, ia kagum dan gembira. “Alangkah indah tanah airku,” kata tikus kecil bernama Piti. Pembaca dibuat bingung dalam menghubungkan masalah mencari makanan dan keindahan alam. Tino Sidin mungkin kebablasan dalam memberi sebutan “tanah air”.
Pada suatu peristiwa, tikus kecil itu mau dimakan singa. Piti meratap agar dibebaskan. Piti memberi kata-kata: “Oh, singa! Dagingku tak banyak, hanya akan mengotori mulutmu. Lagi pula, perutmu takkan kenyang jika memakan aku.” Singa lekas paham. Ratapan itu menghasilkan kebebasan.
Di hitungan menit, singa berjalan mau mencari mangsa malah terkena perangkap jaring. Perangkap itu buatan manusia untuk mendapatkan kulit singa. Situasi tak keruan. Singa bergerak kuat tapi gagal melepaskan diri dari perangkap. Tikus mengetahui nasib singa. Ia datang untuk memberi bantuan dengan cara memutus tali-tali menggunakan gigi (tajam). Berhasil. Singa pun bebas. Tino Sidin sekadar bercerita berdasarkan pepatah: balas budi. Cerita kurang menarik, tetapi anak-anak diduga bakal melihat lama gambar-gambar buatan Tino Sidin.
Cerita agak serius digubah Tino Sidin berjudul Ibu Pertiwi (1979). Judul sudah mengarah imajinasi memuliakan Indonesia. Ia menggunakan ibarat atau umpama agar anak-anak mengerti dan menjadi Indonesia. Cerita sengaja memberi nasihat dan “propaganda”. Kita menganggap buku terbitan Balai Pustaka membawa misi “titipan” pemerintah dalam memajukan pembangunan nasional dan mengingat sejarah untuk memajukan Indonesia.
Adam Malik sebagai pendamping Soeharto memberi pujian atas persembahan Tino Sidin: “Anak-anak akan senang membacanya sambil melihat gambar-gambar dengan latar belakang sejarah bangsanya. Di samping itu mereka dapat mewarnai gambar-gambar itu sendiri.” Pujian pun diberikan Abdul Gafur selaku Menteri Muda Urusan Pemuda Republik Indonesia. Tino Sidin mengisahkan kaum muda masa lalu dalam meraih cita-cita Indonesia. Kehadiran pujian dari dua sosok penting Orde Baru itu makin mengesahkan buku membawa misi-misi pemerintah.
Buku cerita anak mendapatkan dua stempel dari pemerintah, memberi kehormatan kepada Tino Sidin. Komentar dari pengamat sastra anak atau sesama pengarang tiada dicantumkan dalam buku. Pembaca diharapkan maklum: Tino Sidin sedang bekerja sama dengan pemerintah melalui buku cerita bergambar. Tino Sidin menjelaskan: “Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi anak-anak, dan berguna pula untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa sambil memupuk gemar membaca dan gemar menggambar. Semoga buku ini dapat memupuk jiwa anak-anak untuk cinta kepada tanah air Indonesia.”
Di buku berjudul Ibu Pertiwi, Tino Sidin lancar bercerita. Ia tak pelit dalam membuat kalimat-kalimat. Kesanggupan bercerita secara “cerwet” demi anak-anak mengetahui sejarah dan berimajinasi turut dalam memuliakan Indonesia. Anak-anak mudah mengerti cerita, diajak bergembira dengan mewarnai gambar. Balai Pustaka memang sengaja mencetak gambar-gambar cuma hitam dan putih. Buku lawas itu membuktikan Tino Sidin mampu menggembirakan anak-anak dengan melihat (gambar) dan membaca (cerita). Peran anak-anak disempurnakan dengan mewarnai.
Warisan berupa buku memastikan Tino Sidin masuk dalam album kesusastraan anak di Indonesia. Semula, orang-orang mengenali Tino Sidin adalah pelukis dan guru menggambar. Pada arus kesusastraan anak dan pengaruh Balai Pustaka, ia hadir dengan cerita bergambar. Ia memang bukan pencerita ulung tapi menghampiri anak-anak agar gandrung buku. Begitu.