Nama Mahbub Djunaidi begitu asing di telinga. Namanya semakin tenggelam tatkala panji “Gus Dur” mulai berkibar. Padahal keduanya merupakan cendekiawan NU yang sangat loyal dengan Jam’iyyah. Namun, apalah daya, Mahbub semakin tenggelam di era society 5.0. Generasi Z nampak asing dengannya, padahal jika kita mau menelisik lebih jauh pastilah akan mendapati banyak karyanya yang tersebar di pelbagai media cetak zaman itu seperti di Harian Kompas, Tempo, Merdeka, Pikiran Rakyat, Duta Masyarakat dsb. Belum lagi pelbagai buku karangan dan terjemahannya yang tersebar di perpustakaan sebagai pengisi belantara literasi di negeri ini.
Semangat menulisnya ternyata sudah terasah sedari Mahbub masih duduk di bangku pelajar. Menurut pengakuan Said Budairy dalam esai berjudul H.Mahbub Djunaidi Wartawan-Sastrawan, Politikus (1996). Tulisan tersebut jadi pembuka esai-esai Mahbub di rubrik Asal-Usul Kompas yang di bukukan dan diterbitkan Penerbit IRCiSod cetakan pertama Januari 1996, “Sejak masih duduk di bangku sekolah tepatnya di SMA Budi Utomo, ia menginisiasi penerbitan majalah Siswa yang menjadi majalah pertama sekolah itu. Mahbub juga menjadi pimpinan redaksi pertamanya”.
Masa produktifnya diawali dari menulis cerpen. Saat masih duduk di bangku SMP salah satu cerpennya berjudul Tanah Mati dimuat di majalah Kisah (1952), salah satu majalah kumpulan cerita pendek saat itu. Lebih-lebih tulisan Mahbub kala itu dikomentari langsung oleh pengelolanya, yakni HB Jassin, sastrawan besar zaman itu yang sempat dijuluki paus sastra Indonesia. Bagi Mahbub peristiwa itu merupakan pengalaman yang paling mengesankan (hlm.23).
Kepiawaian Mahbub ketika menulis kala itu mengundang perhatian, tak pelak Ir. Soekarno, panglima besar revolusi itu terkesima dengan tulisan Mahbub. Salah satu tulisannya di Duta Masyarakat terbaca olehnya. Ia berpendapat mengenai “Pancasila lebih sublim dari Declaration of Independence-nya Thomas Jefferson 4 Juli 1776, maupun Manifesto Komunis milik Karl Marx dan Friedrich Engels tahun 1847”. Kemudian Mahbub dipertemukan dengan Soekarno lewat bantuan Kiai Syaifuddin Zuhri. Mereka berdialog, Mahbub ditanyai soal identitas. Namun ceceran pertanyaan dari Soekarno nampaknya membuat Mahbub kurang berkenan dan merasa tak enak hati. Ia merasa bahwa identitasnya sebagai orang Betawi terlalu banyak dikotomi.
Perlu diketahui bahwa Mahbub mampu menjelma jadi seorang jurnalis-aktivis partai serta sastrawan dalam satu tarikan nafas bukan tak lewati jalan terjal nan panjang. Sedari kecil ia sudah gemar membaca bahkan membuat syair dan cerpen. Dalam catatan lain misalnya, lewat penuturan H. Chalid Mawardi yang di dokumentasikan menjadi film dokumenter berjudul “Film Dokumenter Mahbub Djunaidi” (2016) garapan Omah Aksoro. Salah satu pendiri PMII itu mengatakan “Mahbub sedari kecil mempunyai minat baca yang tinggi bahkan untuk anak-anak seusianya yang masih setingkat SD (Sekolah Dasar) ia mampu menciptakan syair. Selain buku, Mahbub juga gemar membaca majalah-majalah”.
Slengekan Ala Mahbub
Menyoal Mahbub dirasa kurang jika kita tidak membahas sisi humornya, terlebih dalam setiap tulisannya. Mahbub dikenal sebagai jurnalis yang mampu membungkus kritik dengan bahasa humor dengan tanpa menyingung perasaan orang yang ia kritik.
Menurut pengakuan JB Kristanto dalam Pengantar Asal-Usul (1996), Mahbub merupakan satu-satunya kolumnis humor politik yang ada hingga sekarang. Mahbub mampu melihat masalah serius dari sisi humornya, tanpa mengurangi esensi dari masalah sesungguhnya. Kadang kala memang beberapa tulisannya mengandung sinisme, namun hal tersebut tak sampai melukai seorang dan malah lebih terasa sebagai humor belaka.
Hal ini mengingatkan kita pada esai Mahbub berjudul Fakta Mesti Dijunjung Seperti Mertua: Catatan Untuk Pak Syaifuddin dan Bung Ridwan (Harian Merdeka, 12 Desember 1981). Ia menulis, “Dibolak-balik, dikeker-keker, diutak-atik, pada akhirnya saya ini seorang wartawan. Memang dari sononya sudah begitu. Dan sebagai wartawan normal, saya mesti menjunjung fakta diatas kepala, persis seperti seorang menantu menjunjung mertua”.
Ia mengomentari polemik dua tokoh politik PPP. Antara K.H. Syaifuddin Zuhri dengan Ridwan Saidi. Mereka bersitegang soal Daftar Calon Sementara (DCS) pemilu 1982. Mahbub juga menyoroti soal pembubaran HMI masa orla. Dengan gaya slengekannya Mahbub mengibaratkan fakta seperti seorang mertua. Lebih-lebih ketika ia menyinggung profesinya sebagai wartawan “Dibolak-balik, dikeker-keker, diutak-atik” diksi-diksi slengekan ini yang membikin Mahbub mempunyai karakteristik tersendiri.
Dalam tulisan lain misalnya, ia menulis “Priayi itu sebangsa manusia juga, tapi tidak semua manusia dapat disebut priayi. Zaman dulu, seorang ambetenar atau orang berdarah biru, tidak senang disebut ‘orang’ melainkan ‘priayi’. Ibarat jambu, priayi itu ‘jambu bangok’. Ibarat lele, priayi itu ‘lele jumbo’(Priayi,Kompas 3-7-1988). Dengan terang Mahbub mengkritik praktik feodalisme di negeri ini. Namun dengan kepiawaiannya dalam mengemas tulisan, kritik tersebut malah-malah bernuansa humor.
Selain itu, profesinya sebagai Kolumnis juga tak luput dari sasaran kritik-humor nan khasnya. Tulisannya di Kompas 17-71-1988 berjudul Kolumnis contohnya, ia menulis “Pekerjaan Dirjen orang tahu. Begitu juga makelar atau komisioner. Bahkan profesi dukun pun orang paham. Tapi profesi “kolumnis” masih asing dan belum banyak yang maklum. Jika saya mencantumkan perkataan ‘kolumnis’ sebagai jenis pekerjaan, banyak orang bertanya-tanya binatang apa sih kolumnis itu? Kolumnis itu bagian pekerjaan malam atau siang? Bahkan ada yang bertanya, apa beda antara kolumnis dengan komunis?”.
Dengan bahasa yang ringan nan jenaka ia menyitir profesinya sebagai kolumnis yang masih tabu di masyarakat kita. Lebih-lebih yang membuat gelak tawa ketika ia menuliskan “apa beda antara kolumnis dengan komunis”, para pembaca pastinya akan terbahak-bahak ketika term komunis diangkat kembali. Berbeda dengan pembahasan pada tragedi 65, kali ini term tersebut dibawanya dengan pembahasan jenaka yang mengundang decak tawa.
Kegemarannya pada sastra Rusia kemungkinan besar menjadi tauladan Mahbub ketika menulis. Sastra Rusia terkenal dengan kritik tajamnya. Namun, kritik tersebut mampu dikemas dengan bahasa-bahasa perumpamaan atau majas yang bernuansa humor. Apakah tulisan Mahbub yang bernas dengan muatan kritik-satire dan balutan humor terpengaruh atas kegemarannya akan sastra Rusia? Wallahu ‘alam.