Beberapa orang di muka bumi ini mendermakan hampir seluruh hartanya, jiwanya, tubuh, dan tenaganya demi kemanusiaan, atau nilai yang diyakininya. Mereka memberi tanpa perhitungan, tanpa pamrih, dan sering kali tanpa nama.
Kita teringat pada kisah klasik dua sahabat besar dalam sejarah Islam—Umar bin Khattab dan Abu Bakar Ash-Shiddiq—yang diuji dalam kesungguhan berkorban. Ketika Rasulullah SAW menyerukan seruan jihad fi sabilillah, Umar datang dengan separuh hartanya, berharap bisa mengungguli Abu Bakar.
Tapi Abu Bakar datang dengan seluruh yang ia miliki. Ketika ditanya apa yang ia sisakan untuk keluarganya, ia menjawab dengan tenang dan yakin, “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.”
Kisah semacam itu, dalam versi kontemporer, tampak dalam sosok Kiai Agus Sunyoto (1959-2021). Selain sekadar penulis produktif atau tokoh budaya, ia juga seorang salik sejati, penempuh jalan ruhani yang menyatu dengan jalan kemanusiaan.
Jalan hidupnya bukan ditempuh hanya lewat bangku pendidikan formal, tapi juga melalui laku lelono, tradisi pengembaraan khas Jawa untuk menimba ilmu dan kebijaksanaan. Lelono, sebagaimana rihlah dalam khazanah Islam, bukan semata bepergian, tapi perjalanan batin mencari kebenaran.
Sejak 1996, ketika usianya mendekati 40 tahun, Kiai Agus mulai menekuni tarekat dengan serius. Ia tidak tanggung-tanggung—menjalani empat jalur sekaligus: Syadziliyah, Akmaliyah (dibimbing Kiai Amat), Sathariyah (dari ayahandanya, Kiai Amir Arifin), dan Rifa’iyah (dari KH. Muhammad Ghufron Arief).
Jalan sufi menuntut zikir, ketundukan, kesabaran, dan kontinuitas spiritual. Dan Kiai Agus menjalani semua itu di tengah kesibukannya menulis, mengajar, dan terlibat dalam kerja-kerja kebudayaan.
Dari jalan spiritual itulah barangkali mengalir altruisme yang begitu khas dari dirinya. Kiai Agus dikenal tidak tertarik pada kemewahan. Ia justru merasa nyaman hidup sederhana. Ia juga membelanjakan sendiri sembako berkualitas untuk dibagikan kepada para janda tua dan anak yatim.
Ada standar selera khas yang tak pernah ia kompromikan: teh harus merek Poci, gula harus Gulaku kuning. “Ini sesajen untuk Gusti Allah,” begitu menurut putrinya, Nissa Hayuningrat—bukan dalam makna animistik, tapi sebagai bentuk pengabdian yang total dan penuh penghormatan.
Kepedulian Kiai Agus bukan basa-basi. Ia memperjuangkan agar guru-guru TK yang digaji dua ratus ribu rupiah bisa mendapatkan penghasilan layak—minimal satu juta.
Ia bukan hanya berbicara soal keadilan sosial di mimbar atau tulisan, tapi turun langsung, memperjuangkannya dengan cara yang konkret dan manusiawi.
Banyak kisah yang menggambarkan kemurahan hatinya. Hasan Basri Marwah, sahabat sekaligus tokoh Lesbumi, menceritakan satu momen ketika Kiai Agus tiba-tiba meminta tolong mentransfer seluruh isi ATM-nya kepada seseorang yang kesusahan—tanpa berpikir panjang, tanpa hitung-hitungan.
Zulfikar Muhammad, putra Kiai Agus, menyimpan dua kisah mengharukan. Suatu ketika, Kiai Agus diundang ceramah oleh PCNU Jepara dan menerima amplop bisyaroh tebal. Tapi alih-alih dibawa pulang, ia meminta diantar ke sebuah pesantren tempatnya pernah mengaji. Di sana, ia menyerahkan seluruh bisyaroh itu kepada pengasuh pondok. Tak selembar pun ia ambil.
Kisah kedua lebih menyentuh: tiga hari sebelum wafat, dalam kondisi kritis dan dibantu alat pernapasan, Kiai Agus masih sempat melakukan video call. Tapi yang ia tanyakan bukan kabar keluarga, melainkan:
“Beras e mbok rondo-rondo tuwek uwes? Duwik e anak yatim uwes? Gedhang gawe bedhes Mendhit uwes?”
Sudahkah beras untuk para janda tua dibagikan? Uang anak yatim disalurkan? Pisang untuk monyet di Mendhit disiapkan?
Hingga napas terakhir, pikirannya masih tertambat pada mereka yang sering luput dari perhatian: janda, yatim, dan bahkan binatang. Ia tidak hanya berpikir untuk yang besar dan tinggi, tapi juga menyentuh yang paling kecil dan terlupakan.
Kiai Agus Sunyoto adalah cermin dari Islam yang berdenyut hangat di nadi kemanusiaan. Ia seorang penulis produktif, guru bijak, sufi salik, cendekiawan lokal yang bersinar, dan yang paling penting: manusia utuh.
Ia menulis dengan tajam, menapak dengan rendah hati, dan memberi dengan segenap cinta. Dalam dirinya, ilmu tak hanya jadi wacana, tapi berubah menjadi laku—sebuah amal yang menghidupkan.
Barangkali pertanyaannya bukan lagi bisakah, melainkan beranikah kita menyisakan laku semacam itu. Di tengah dunia yang serba cepat, terukur, dan kapitalistik—di mana nilai manusia sering direduksi menjadi angka, produktivitas, dan citra—laku Kiai Agus Sunyoto terasa seperti gangguan yang tak nyaman.
Ia menolak logika akumulasi, memilih logika pengosongan. Ia tidak menimbun, tapi mengalirkan; tidak mengamankan diri, tapi menyerahkannya.
Menyisakan laku itu berarti bersedia melawan arus: melambat ketika dunia berlari, memberi ketika sistem mendorong mengambil, dan peduli pada yang tak memberi keuntungan balik.
Itu bukan pilihan populer, bahkan sering dianggap naif. Tapi justru di situlah ketajamannya—sebab tanpa laku semacam itu, agama tinggal slogan, spiritualitas tinggal kosmetik, dan kemanusiaan kehilangan denyutnya.