Meninggalnya filsuf dan sosiolog penting dari Jerman, Jürgen Habermas (18 Juni 1929-14 Maret 2026) bukan sekadar kabar duka dari dunia filsafat, tapi semacam penanda yang mengingatkan kita bahwa ada pekerjaan berpikir yang belum selesai, terutama soal bagaimana agama hidup di tengah dunia modern.
Selama ini kita sering mengira modernitas akan membuat agama pelan-pelan surut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Agama tidak hilang, tapi ia berubah bentuk, menyebar, bahkan kadang tampil lebih bising dari sebelumnya.
Ruang Publik
Habermas sejak awal berbicara tentang pentingnya ruang publik. Baginya, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memberi ruang bagi setiap orang untuk berbicara, berargumen, dan saling menguji gagasan secara terbuka. Tidak ada satu otoritas yang boleh mendominasi, termasuk agama. Semua harus tunduk pada logika dialog.
Tapi dalam perkembangan pemikirannya, Habermas juga menyadari bahwa agama tidak bisa begitu saja dikeluarkan dari ruang publik. Ia tetap hadir, bahkan dalam masyarakat yang paling modern sekalipun. Dari sini lahir gagasan tentang post-secular society—masyarakat yang sudah melewati fase sekularisasi, tapi tetap hidup bersama agama.
Jika kita tarik ke konteks Indonesia, hal ini terasa kontekstual. Kita tidak pernah benar-benar menjadi masyarakat sekuler. Agama hadir dalam hampir semua aspek kehidupan. Mulai dari kebijakan publik, perdebatan politik, sampai pilihan gaya hidup.
Tapi kehadiran ini tidak selalu berarti ada dialog. Yang sering terjadi justru sebaliknya, yaitu begitu banyak suara, tapi masing-masing berbicara dari keyakinannya sendiri.
Di titik ini, konsep tindakan komunikatif dari Habermas menjadi penting. Ia membedakan antara komunikasi yang bertujuan mencapai pemahaman bersama, dan komunikasi yang hanya dipakai sebagai alat untuk menang atau mendominasi. Dalam masyarakat yang sehat, komunikasi seharusnya bersifat dialogis. Orang tidak hanya ingin didengar, tapi juga bersedia mendengar.
Masalahnya, dalam banyak praktik religiositas hari ini, yang terjadi justru komunikasi yang tertutup. Keyakinan disampaikan sebagai kebenaran final, bukan sebagai sesuatu yang bisa didiskusikan.
Dalam perdebatan soal moralitas publik, misalnya, sering kita lihat argumen religius langsung digunakan sebagai dasar kebijakan tanpa proses dialog yang memadai. Di sisi lain, kelompok yang menolak juga sering tidak mencoba memahami, tapi langsung menegasikan. Hasilnya bukan percakapan, tapi kebuntuan.
Habermas menawarkan jalan tengah lewat gagasan yang sering disebut sebagai translation proviso atau “penerjemahan”. Ia tidak meminta orang meninggalkan keyakinan agamanya. Tapi ketika keyakinan itu dibawa ke ruang publik, ia perlu disampaikan dalam bahasa yang bisa dipahami oleh semua orang, termasuk yang tidak berbagi iman yang sama. Hal ini penting agar ruang publik tetap menjadi milik bersama, bukan milik satu kelompok saja.
Religiositas Media Sosial
Jika kita melihat situasi sekarang, tantangan ini semakin besar karena hadirnya media sosial. Ruang publik tidak lagi terbatas pada forum formal, tapi melebar ke layar ponsel. Di sana, religiositas tampil dalam bentuk yang sangat beragam, mulai dari ceramah singkat, kutipan ayat, hingga tren busana yang diberi label religius.
Sekilas terlihat positif, karena agama menjadi dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tapi jika dilihat lebih dalam, banyak dari ekspresi ini lebih bersifat performatif.
Orang beragama di depan kamera, mengemas iman menjadi konten, dan mengejar respons berupa like, share, dan komentar. Dalam bahasa Habermas, ini sudah bergeser dari tindakan komunikatif menjadi tindakan strategis. Bahasa tidak lagi dipakai untuk membangun pemahaman, tapi untuk mencapai tujuan lain, seperti popularitas, pengaruh, atau bahkan keuntungan ekonomi.
Fenomena komodifikasi agama juga tidak bisa dilepaskan dari hal ini. Produk-produk dengan label religius, dari pakaian sampai gaya hidup, berkembang pesat.
Tidak ada yang salah dengan itu semua. selama tidak mengosongkan makna. Tapi problem muncul ketika simbol-simbol agama menjadi lebih penting daripada nilai yang dikandungnya. Ketika religiositas diukur dari tampilan, bukan dari cara kita berelasi dengan orang lain.
Pembacaan Kritis
Namun, pemikiran Habermas juga perlu dibaca secara kritis. Ia sangat menekankan rasionalitas sebagai dasar komunikasi. Padahal, dalam banyak pengalaman religius, tidak semua hal bisa dijelaskan secara rasional. Ada dimensi batin, rasa, dan pengalaman yang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa publik.
Dalam tradisi keagamaan di Indonesia, misalnya, banyak praktik yang lebih menekankan pengalaman daripada argumen. Ritual, doa, ziarah, dan kesenian sering menjadi cara orang memahami yang sakral.
Jika semua ini dipaksa untuk selalu masuk ke dalam kerangka rasionalitas, ada risiko bahwa kedalaman pengalaman itu jadi hilang. Agama bisa menjadi terlalu “kering”, kehilangan sisi yang membuatnya hidup.
Di sinilah kita perlu membaca Habermas secara lentur. Bukan untuk menolak pemikirannya, tapi untuk melengkapinya. Rasionalitas tetap penting, terutama untuk menjaga ruang publik agar tidak dikuasai oleh klaim sepihak. Tapi di saat yang sama, kita juga perlu mengakui bahwa tidak semua yang bermakna harus bisa dijelaskan.
Meski ada keterbatasan, kontribusi Habermas tetap besar. Ia memberi kita cara untuk memahami bahwa masalah utama religiositas hari ini bukan pada ada atau tidaknya agama, tapi pada bagaimana agama itu hadir. Apakah ia membuka ruang dialog, atau justru menutupnya. Apakah ia menjadi jembatan yang menghubungkan, atau malah tembok yang membatasi dan atau memisahkan.
Dalam konteks Indonesia yang plural, hal ini menjadi sangat penting di mana perbedaan keyakinan adalah kenyataan sehari-hari. Karena tanpa kemampuan untuk berdialog, perbedaan ini mudah berubah menjadi konflik. Kita sudah melihat banyak contoh bagaimana isu agama bisa memecah masyarakat ketika tidak ada ruang untuk saling memahami.
Dengannya, meninggalnya Habermas seperti meninggalkan satu tugas untuk kita semua, yaitu untuk menjaga agar ruang publik tetap menjadi tempat percakapan, bukan sekadar arena saling berteriak. Dunia hari ini mungkin tidak kekurangan religiositas, tapi jelas kekurangan dialog yang jujur tentang religiositas itu sendiri.
Dan mungkin, di tengah semua kebisingan ini, pelajaran paling sederhana dari Habermas adalah bahwa iman tidak hanya soal apa yang kita yakini, tapi juga bagaimana kita membicarakannya dengan orang lain.