Musim liburan panjang telah tiba. Wewengkon Yogyakarta dan Surakarta dijubeli wisatawan maupun pemudik untuk mengobati rasa kangen. Lihat saja, mobil ber-plat nomor luar daerah membanjiri badan jalan raya. Demikian pula gerbong kereta rel listrik (KRL), sesak oleh penumpang. Jumlah penumpang berlipat ganda dibanding hari-hari biasanya. Tak ayal, bagi warga lokal alias Vorstenlanden (wilayah kekuasaan kerajaan), menumpang KRL di waktu liburan acapkali menganggap sebagai “ujian”.
Setiap insan yang menikmati KRL, dipastikan berhenti sejenak di stasiun kecil Gawok. Di samping diakrabi oleh para penumpang KRL, nama “gawok” juga tidak asing bagi pemburu bibit tanaman dan alat pertanian tradisional. Mereka blusukan ke Pasar Gawok untuk berburu komoditas tersebut. Ya, Gawok sejatinya bukan perkara stasiun dan pasar semata. Gawok hidup dalam jagad sejarah dan folklor.
Dalam ingatan sejarah Perang Jawa, misalnya, Gawok menduduki posisi sentral yang turut menentukan nasib bangsawan Keraton Kasultanan Yogyakarta di kemudian hari. Kebetulan, pada tahun 2025 di beberapa tempat digelar acara peringatan “200 tahun Perang Jawa” Memori kolektif masyarakat Indonesia mengenai De Java Oorlog dibilas.
Pangeran Diponegoro gesit berpindah-pindah demi menghindari sergapan musuh. Hal ini mendorong pentolan Belanda mencetuskan siasat benteng stelsel. Pengapesan (hari sial) lelaki bernama Bendara Raden Mas Ontowiryo itu salah satunya di Gawok. Tepat 15 Oktober 1826 pertempuran pecah di desa tersebut. Buah hati Sultan Hamengku Buwono III ini terkena peluru di dada kiri. Kendati mental, timah panas lainnya dari senapan musuh berhasil menembus tangan kanannya. Merujuk hasil studi Peter Carey (2011) diketahui bahwa dua luka yang diperoleh di Gawok menandakan bahwa kekebalan dan kekuatan batin lain sudah melenyap untuk sementara.
Bagaimana kahanan Gawok pasca perang Jawa? Dijumpai peristiwa rasional dan irasional mengemuka di Gawok tempo doeloe. Karena masuk kawasan Vorstenlanden, Gawok tidak terkena sistem tanam paksa. Setelah perang Jawa mereda, tatanan Jawa dan kondisi ekonomi masyarakat dipulihkan. Aneka kegiatan ekonomi digenjot untuk menggemukkan kas pemerintah yang terkuras akibat peperangan. Gelontoran dana swasta dari negeri Belanda menyulap Gawok menjadi area perkebunan tembakau. Komoditas “emas hijau” yang laris di pasaran internasional mengundang bangsa Eropa mengadu nasib di Gawok, bahkan beranak-pinak.
Bromartani (1865) merekam, beberapa rumah milik Tuan Bring tersebar di area ini rusak akibat bencana alam, yakni hujan badai dan pepohonan tumbang. Dua dekade berlalu, keluarga Eropa lainnya, C. L. De Leau dan Tan Stralendorff bercokol di Gawok memasang iklan di De Nieuwe Vorstenlanden bahwa mereka pada 11 Maret 1886 melahirkan bayi bernama Constantia Emelia. Rasa bahagia pengusaha asing ini tergenapi dengan kemunculan buah hati.
Tidak melulu suka cita, muncul kisah perih di Gawok, yakni janda dari Tuan F.Dh.N. menjadi korban pencurian. Fakta umum bahwa kawasan perkebunan selepas masa panen dan majikan punya setumpuk uang, acap diganggu para kecu atau begal. Aksi kriminal menyasar pengusaha kaya perkebunan. Di samping melampiaskan kebencian terhadap kolonial dan ketimpangan sosial, komplotan kecu juga melihat lengahnya keamanan.
Sampai jelang pendudukan Jepang 1942, Gawok masih menawan untuk bisnis tembakau yang dikelola bangsa Eropa. Sementara itu, industri kerajinan tradisional yang digarap orang-orang pribumi di sekitar Gawok ialah lurik dan rotan yang dijual ke luar daerah.
Meski diduduki orang Eropa yang rasional dan berkutat dengan manajemen perkebunan, ekologi Gawok sukar dilepaskan dari unsur folklor yang kadangkala bersifat ora tinemu nalar (irasional). Kendati bersifat irasional, namun fenomena budaya tersebut tercatat dalam koran sezaman dan Serat Pratelan Wontenipun Candhi, Reca, Patilasan, Padusan Sasamipun, Ing Bawah Kabupaten Kitha Surakarta yang dianggit Raden Tumenggung Mangunnagara (1929).
Alkisah, pada tahun 1874 di Gawok digegerkan oleh batu yang di malam hari mengeluarkan suara kotekan lesung dan bayangan orang membakar dupa. Setiap kali kejadian itu muncul, batu ini diberi sesajen oleh warga, bahkan orang kota ikut menyambangi. Pasalnya, mereka khawatir akan terkena musibah apabila cuek terhadap isyarat yang muncul itu. Jurnalis gregetan dan ikut menyikapi hal ini bahwa apabila batu yang menjadi sumber gangguan terhadap ketentraman, keagamaan, dan ilmu pengetahuan itu dimusnahkan, maka sesungguhnya tidak ada yang dirugikan.
Berpuluh tahun kemudian, apa yang ditulis juru pena tersebut digarap ulang oleh Raden Tumenggung Mangunnagara. Artinya, kisah misteri ini tidak lenyap dalam ingatan warga setempat. Justru membuktikan pula bahwa Keraton Kasunanan yang menjadi “sarang” pujangga ikut menginventarisasi aneka cerita rakyat di luar tembok istana. Maknanya adalah telah terjadi demokratisasi narasi sejarah lokal di era kolonial.
Demikianlah, kepingan gambaran Gawok yang hidup dalam dunia sejarah dan cerita rakyat. Sayang apabila lokasi ini hanya dimengerti sebagai pemberhentian KRL dan pasar tradisional saja. Publik perlu mengerti bahwa Gawok menjadi salah satu urat nadi pertempuran terbesar di Jawa pada 1825-1830. Laksana seniman ternama Didi Kempot yang fasih memproduksi lagu Jawa yang berangkat dari kisah personal di aras lokal, Gawok ninggal crita…