Selama ini kita mengenal Jombang sebagai kabupaten di Jawa Timur yang dikenal sebagai “Kota Santri”. Bagaimana tidak? Empat pesantren besar yang berada di sudut empat penjuru mata angin beserta dengan tokoh besarnya tumbuh berkembang di kabupaten ini. Seperti, K.H. Hasyim Asy’ari dengan Pesantren Tebuireng – nya, K.H. Wahab Hasbullah dengan Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, K.H. Bisri Syansuri dengan Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, dan K.H. Romly Tamim dengan Pesantren Darul Ulum Peterongan.
Jombang juga dikenal sebagai tempat lahir politikus nasional pada masanya dan juga tempat lahirnya para cendikiawan seperti K.H. Wahid Hasyim, Gus Dur, Cak Nur/Nurcholis Majid, dan K.H. Mustain Romly. Belum lagi dengan ulama’ spesialis Qur’an-nya seperti K.H. Dahlan Cholil, K.H. Yusuf Masyhar, dan K.H. Afifudin Dimyathi. Serta budayawan ternama seperti Emha Ainun Najib atau kerap disapa Cak Nun atau Mbah Nun terlahir di bumi santri ini.
Tapi pernahkah kita terbayang jika ternyata Bapak Ploklamator Indonesia yakni Bung Karno ternyata secara fakta historis terlahir di Jombang? mungkin bagi sebagian pembaca hal tersebut sangat musykil sekali. Namun secara data historis yang ditemukan, Bung Karno memang lahir dan masa kecilnya tumbuh di Jombang tepatnya di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.
Binhad Nurrohmat sebagai pemrakarsa “Titik Nol Soekarno – Ploso 1902” yang juga sebagai penulis aktif di Alif.id serta budayawan dengan ciri khas topi koboinya tersebut menginisiasi kembali penelusuran sejarah ini sejak bulan Oktober tahun 2019 bersama dengan kawannya bernama Moch. Faisol yang juga menjadi wartawan di Radar Pos Jombang.
Penelusuran tersebut semakin intens mulai tahun 2020 dengan didirikannya KompaS (Komunitas Pelestari Sejarah) Jombang. Banyak data-data yang diperoleh terutama terkait dengan kunjungan Cindy Adams penulis otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang pernah berkunjung dan melakukan studi lapang di Ploso, Jombang pada tanggal 16 Januari 1964.
Dalam buku catatan yang ditulis oleh Binhad tersebut, dijelaskan bahwa dalam selembaran formulir orang-orang terkemuka pada masa penjajahan Jepang yang disimpan oleh ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) dituliskan oleh Bung Karno sendiri bahwa mula-mula ia pernah menempuh pendidikan sekolah desa di Ploso. Hal ini juga diperkuat dengan sebuah situs rumah tua yang berlokasi di gang buntu Desa Rejoagung Ploso dimana di tempat itu Sang Putra Fajar lahir pada tanggal 06 Juni 1902 dan posisi rumah tersebut tepat menghadap timur selaras dengan arah matahari terbit.
Data lain yang disampaikan oleh Binhad adalah adanya surat tugas yang ditujukan kepada Raden Soekeni Sosrodihardjo atau ayah Bung Karno guna ditunjuk sebagai guru bantu Sekolah Ongko Loro di Ploso dengan masa bakti 1901-1907. Dalam buku karya Cindy Adams lain yang berjudul My Freinds The Dictator terdapat dokumentasi studi lapang dan wawancara Cindy Adams dengan Mbok Suwi, pengasuh bayi Kusno/Bung Karno sejak 6 hari kelahirannya di Ploso.
Mbok Suwi ini adalah kakak dari Mbok Mirah yang kenal lebih dulu dengan keluarga pasangan Raden Soekeni dan Ida Ayu Nyoman Rai Srimben dan berkat relasi Mbok Mirah lah. Kakaknya atau Mbok Suwi direkomendasikan sebagai pengasuh bayi Soekarno. Buku tersebut juga menampilkan potret Mbah Joyo Dipo yang merupakan teman sepermainan Bung Karno kecil di Ploso.
Dalam buku Binhad yang berjudul “Titik Nol Soekarno-Ploso 1902: Awal Riwayat Bapak Indonesia”, dituliskan juga bahwa pada saat Raden Soekeni pindah ke Ploso pada tahun 1901, ia menitipkan pendidikan Agama Islam dan baca tulis Al-Qur’an putrinya Soekarmini atau kelak dikenal sebagai Bu Wardoyo dan putra kecilnya Kusno atau Soekarno kepada Kiai Abdul Mu’thi yang memiliki langgar di Desa Losari, Kecamatan Ploso.
Pun dalam buku Induk SDN 1 Ploso Jombang Jilid 1 serta menurut kesaksian Bapak Sarmudi (mantan guru di SD tersebut) bahwa nama Soekarano tepatri dalam buku induk tersebut. Namun buku tersebut di kemudian hari pada dekade tahun 80an hilang dicuri orang. Data-data historis tadi sangat menguatkan bahwa Bung Karno tumbuh dan lahir di Ploso, Jombang.
Adapun pernyataan beberapa sejarawan yang perlu disanggah bahwa Bung Karno lahir di Surabaya adalah dikarenakan pada masa pemerintah kolonial dahulu, Karesidenan Surabaya meliputi Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang, maka tak ayal jika di kemudian hari Bung Karno sering menyebut Surabaya sebagai tempat kelahirannya. Karena mengacu pada pembagian wilayah Karesidenan pada masa dahulu kala.
Bukti kuat lainnya yang menunjukkan bahwa Bung Karno memiliki hubungan historis yang kuat dengan Ploso adalah adanya dokumentasi foto yang disimpan oleh Disperpusip Jatim mengenai jejak kunjungan safari Bung Karno di Ploso pada tanggal 24 September 1952. Dalam pencarian dokumentasi ini, Moch. Faisol kemudian menemukan titik terang bahwa kunjungan Bung Karno selama dua minggu di Jawa Timur pada tahun 1952 ini tak lain untuk menggalang dukungan rakyat mengenai pembebasan Irian Jaya dari belenggu pemerintah kolonial serta bernostalgia akan masa kecilnya yang tumbuh di Ploso.
Namun kini situs rumah kelahiran Bung Karno di gang buntu Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso yang sempat berpindah penghuni kondisinya hanya menyisakan pondasi dasar. Suatu keadaan yang cukup menyayangkan, mengingat bangunan rumah yang hampir keseluruhannya berbahan kayu pada bulan September tahun 2013.
Tertulis dalam buku Moch. Faisol yang berjudul “Menemukan Bung Karno di Jombang” bahwa rumah ini hanya mengalami revitalisasi satu kali pasca tahun 1965 dikarenakan rusak berat dan bangunannya digantikan dengan bahan kayu serta bambu sederhana. Situs rumah ini sebelum ambruk pernah didokumentasikan pada tahun 2012 atau satu tahun sebelum rumah tersebut ambruk oleh Kushartono, salah satu warga Desa Rejoagung yang tinggal tak jauh dari situs rumah tersebut.
Sampai detik ini pun belum ada instansi terkait yang secara pasti berkenan memugar rumah tersebut dan belakangan pun masih bersifat sekedar usulan atau rencana. Maka melalui tulisan ini penulis juga berharap kepada Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Jombang dan Kementerian Kebudayaan yang kini dipimpin oleh Bapak Fadli Zon agar berkenan menilik dan merevitalisasi bangunan bersejarah ini yang menjadi tempat kelahirannya Sang Putra Fajar. Wallahu a’lam.