Overthinking kini menjadi epidemi mental. Pikiran kita penuh kecemasan tentang masa depan, penilaian orang lain, dan tekanan sosial. Rabi’ah al-Adawiyah memberikan solusi yang sederhana namun mendalam: pusatkan hati pada cinta kepada Allah. Ketika hati terikat pada mahabbah, kekhawatiran duniawi mereda, dan jiwa menemukan ketenangan.
Doa Rabi’ah yang masyhur—mencintai Allah tanpa pamrih—mengajarkan bahwa cinta Ilahi membebaskan dari ketakutan dunia. Ia mengubah luka menjadi cinta, kesendirian menjadi keintiman spiritual. Karomah Rabi’ah bukan sekadar cerita mistik, melainkan transformasi batin yang bisa menjadi panduan kita menghadapi stres, cemas, dan tekanan sosial.
Dalam kehidupan modern, di mana setiap momen diisi notifikasi dan tugas, menjaga hati adalah seni. Rabi’ah menunjukkan bahwa ketenangan bukan berasal dari mengatur semua hal, tetapi dari menyerahkan sebagian kendali kepada Tuhan. Dengan mencintai Allah secara murni, kita bisa menemukan jangkar hati yang stabil di tengah lautan informasi dan tuntutan dunia.
Overthinking sering muncul karena kita terlalu fokus pada yang tak bisa dikendalikan. Cinta Ilahi adalah terapi terdalam yang meredakan kecemasan. Mengikuti jejak Rabi’ah, setiap hari kita bisa mempraktikkan kehadiran hati—membiarkan jiwa bernafas, fokus pada yang esensial, dan menenangkan pikiran yang gelisah.
Hidup modern menuntut kita berpikir banyak, tapi bukan berarti hati harus gelisah. Seperti Rabi’ah, kita bisa membangun hubungan intim dengan Tuhan, sehingga ketenangan batin menjadi prioritas utama. Dalam diam dan cinta, overthinking berangsur hilang, digantikan ketenangan yang tak tergantung pada opini manusia.