Di zaman media sosial, di mana nilai seseorang sering diukur dari jumlah pengikut dan “likes”, keikhlasan menjadi barang langka. Setiap amal bisa berubah menjadi konten, setiap kebaikan bisa dijadikan eksposur. Dalam situasi ini, ajaran Hasan al-Basri terasa sangat relevan; ia mengingatkan kita bahwa nilai hakiki tidak diukur dari sorotan publik, tapi dari kesucian hati. Bayangkan seseorang berdiri di tengah ribuan kamera, tapi hatinya tetap hening—itulah esensi keikhlasan.
Hasan al-Basri dikenal menahan diri dari riya’ hingga dalam detil kecil. Tangisnya dalam ibadah ia sembunyikan, meski sesungguhnya ia terbawa emosi penuh ketulusan. Bagi beliau, amal yang tersembunyi lebih berat nilainya daripada yang terlihat di mata manusia. Ini adalah pelajaran penting bagi generasi sekarang: apresiasi diri dan orang lain boleh ada, tapi jangan biarkan pujian menjadi tujuan utama ibadah.
Kehebatan Hasan al-Basri bukan berupa mukjizat spektakuler, melainkan kemampuan membaca penyakit hati manusia. Ia mampu menasihati penguasa dan ulama tanpa kehilangan ketulusan. Keberanian dan ketegasan lahir dari kebersihan hati, bukan ambisi dunia. Dalam praktik modern, ini mengingatkan kita bahwa integritas dan keberanian moral muncul dari kesadaran spiritual, bukan dari keinginan tampil menonjol.
Di era personal branding, kita perlu menata niat kembali. Apakah kebaikan yang kita unggah bertujuan untuk inspirasi atau sekadar validasi? Apakah doa kita dipanjatkan karena Allah, atau karena ingin terlihat saleh? Hasan al-Basri mengajarkan bahwa Allah melihat hati sebelum melihat aksi, sehingga nilai amal tidak bergantung pada jumlah komentar atau pujian.
Keikhlasan adalah cahaya yang tak membutuhkan panggung. Dalam sunyi, ia bersinar paling terang. Di tengah budaya pencitraan, cahaya itu justru menembus ke dalam hati manusia, memberi ketenangan dan keberanian yang tidak bisa dibeli dengan popularitas. Untuk kita, tantangannya adalah menyalakan cahaya itu di tengah hingar-bingar dunia digital, sehingga amal tetap murni dan hati tetap damai.