Kapitalisme digital mendorong manusia berlomba mengumpulkan kekayaan, status, dan pengaruh. Nilai seseorang sering diukur dari valuasi startup atau jumlah aset. Dalam konteks ini, kisah Ibrahim ibn Adham terasa seperti oase di padang pasir. Putra bangsawan yang meninggalkan istana untuk mencari makna, ia mengingatkan kita bahwa harta dan kekuasaan bukan jaminan ketenangan hati.
Ibrahim tidak anti-harta. Ia tetap bekerja, tetap menjalankan tanggung jawab, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh dunia. Zuhud, dalam pandangannya, adalah kebebasan batin. Ia menunjukkan bahwa kita bisa memiliki dunia di tangan tanpa membiarkan dunia menguasai hati. Pesan ini relevan bagi generasi digital yang terus menimbang antara ambisi dan keseimbangan spiritual.
Karomah batin Ibrahim ibn Adham muncul dari kesadaran mendalam: harta dan jabatan tidak mengisi kekosongan hati. Ia memilih meninggalkan kemewahan demi kehidupan sederhana yang dipenuhi ketenangan. Dalam era startup, pesan ini bisa diterjemahkan sebagai fokus pada tujuan sejati—bukan sekadar pertumbuhan eksponensial, tetapi keseimbangan hidup yang berlandaskan nilai spiritual.
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, banyak orang lupa bahwa kebahagiaan sejati bukan dari jumlah notifikasi atau portofolio, melainkan dari ketenangan batin. Ibrahim mengajarkan kita untuk tetap produktif, tetap berinovasi, tetapi hati tidak tergadai. Dunia boleh bergerak cepat, tapi jiwa harus tetap tenang.
Zuhud modern berarti memiliki dunia di tangan, bukan di hati. Bagi generasi masa kini, ini adalah pengingat untuk menata prioritas: bekerja keras, berkarya, tapi jangan biarkan dunia menentukan kedamaian hati. Seperti Ibrahim, kita diajak memilih jalan sederhana yang menuntun pada kebebasan spiritual.