Religiositas seringkali dimaknai dalam konteks ibadah, ritus, dan doktrin-doktrin ke-Tuhan-an yang terlembagakan. Namun jika ditelaah lebih mendalam, religiositas sesungguhnya adalah pengalaman batin yang subtil, personal, dan kerap tak terkatakan. Ia menyelinap dalam kehidupan sehari-hari, menjelma dalam perasaan hening, ragu, syukur, hingga tangis yang sunyi.
Pada saat yang sama, sesungguhnya dalam ruang yang tak selalu mampu dijangkau oleh bahasa formal keagamaan inilah, sastra juga berada dan bekerja. Sastra menjadi ruang simbolik yang memungkinkan pengalaman religius terwakili—bukan lewat khotbah, melainkan melalui metafora, narasi, dan imajinasi.
Dalam hal ini, sastra menjadi jalan lain menuju yang Ilahi. Ia tidak menggurui, melainkan menggugah. Ia tidak memberitahu, melainkan mengajak merenung. Ia tidak memaksa, melainkan menyentuh.
Justru dalam ketaklangsungannya, sastra sering kali “lebih religius" daripada teks-teks keagamaan yang formal dan normatif. Sastra mampu menjangkau mereka yang letih oleh dogma, yang ragu pada sistem, dan yang mencari Tuhan di luar jalur-jalur resmi.
Medium Praksis Iman
Sejarah sastra dunia penuh dengan karya-karya yang menampung jejak religiositas. Dante dengan Divina Commedia-nya, Rumi dengan puisi-puisi sufistiknya, Tolstoy dalam The Kingdom of God is Within You, hingga Kahlil Gibran yang menyuarakan spiritualitas dalam bahasa cinta dan kerendahan hati.
Di Indonesia, kita mengenal karya-karya Kuntowijoyo yang sarat kebijaksanaan sufistik dan cerpen-cerpen Danarto yang absurd tapi religius. Kesemuanya menghadirkan pencarian dan pengalaman religius bukan dalam bentuk ajaran, melainkan dalam bentuk cerita dan kesadaran estetik.
Religiositas dalam sastra tidak selalu hadir dalam bentuk simbol eksplisit seperti tokoh Tuhan atau kutipan ayat. Ia bisa muncul dalam kesunyian, dalam pergulatan batin, dalam keheningan reflektif, atau dalam kejujuran terhadap penderitaan.
Di titik ini, sastra menghadirkan religiositas sebagai pencarian makna yang transendental. Sastra menjadi wahana untuk memahami relasi manusia dengan misteri kehidupan, tanpa mengunci pemaknaan dalam satu tafsir tunggal.
Romo Y.B. Mangunwijaya, dalam bukunya Sastra dan Religiositas (1994), menggambarkan betapa erat dan menyentuhnya relasi antara dua wilayah ini. Baginya, sastra bukan sekadar bentuk ekspresi estetis, tetapi juga medium praksis iman.
Dalam banyak tulisannya, Romo Mangun menyatakan bahwa religiositas bukan dogma yang kaku, melainkan gerak batin yang hidup, menyentuh kemanusiaan, dan membuka ruang bagi pertanyaan yang jujur. Sastra, dalam pandangannya, adalah cara manusia menyelami misteri ilahi dengan bahasa yang manusiawi dan puitis.
Dalam buku itu, Romo Mangun mengangkat sejumlah karya dari Kafka, Dostoyevsky, hingga Putu Wijaya dan Iwan Simatupang. Ia menunjukkan bahwa religiositas tidak hanya hadir dalam kisah tentang Tuhan, tapi juga dalam keberanian tokoh menghadapi absurditas, dalam keikhlasan menerima derita, dan dalam cinta yang tak menuntut balas. Sastra, katanya, adalah ziarah batin yang menyuarakan iman dalam bentuk paling intim dan menggugah.
Konsep religiositas yang diusung Romo Mangun sangat terbuka. Ia tidak membatasi pada agama tertentu, melainkan mengarah pada pengalaman eksistensial yang melintasi batas doktrin. Maka, bahkan kritik sosial dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer pun baginya dapat disebut sebagai laku religius, selama itu bertujuan membela keadilan dan kemanusiaan. Ini memperlihatkan bahwa religiositas dalam sastra adalah soal sikap, bukan soal simbol.
Bahasa Iman
Sastra memungkinkan kita menjumpai ulang bahasa religius yang kerap kehilangan daya sentuhnya. Kata-kata seperti ikhlas, sabar, atau syukur sering menjadi klise dalam ceramah, tapi dalam sastra, kata-kata itu menemukan kembali kedalaman emosional dan eksistensialnya. Dalam puisi Sapardi Djoko Damono atau Gus Mus, kita bisa merasakan religiositas yang tenang, reflektif, dan menyentuh kalbu tanpa merasa digurui.
Sastra juga membuka kemungkinan untuk menghidupkan bahasa iman yang lebih peka. Ketika seseorang membaca kisah tragis namun indah, tentang kehilangan dan pengampunan, ia tidak hanya mengerti secara intelektual, tapi ikut hanyut secara emosional. Ini adalah bentuk tafsir batin yang tidak bisa diwakili oleh dogma. Di sinilah sastra menjadi wahana kontemplasi, menyelami relasi antara manusia dengan yang transenden.
Dalam konteks Indonesia yang plural dan religius, sastra menjadi ruang dialog yang penting. Ia menjadi perantara antariman, karena berbicara dalam bahasa kemanusiaan. Ketika manusia bisa saling merasakan perih dan harap lewat cerita, maka batas agama menjadi lebih cair, dan yang tersisa adalah pengakuan bahwa setiap manusia, apa pun imannya, adalah pencari makna. Dalam dunia yang gaduh oleh kebencian berbasis identitas, sastra yang religius adalah oase.
Sastra juga menawarkan kemungkinan untuk mendekati pendidikan agama secara lebih reflektif. Ia dapat menjadi jalan tengah yang mempertemukan estetika dan etika. Dalam pendidikan, pembacaan teks sastra yang religius bisa membantu siswa melihat agama bukan sebagai kewajiban formal, tapi sebagai proses spiritual yang jujur, penuh tanya, dan tetap terbuka pada kemungkinan baru. Ini menjauhkan pelajaran agama dari sekadar hafalan dogma, dan sastra dari sekadar keindahan bentuk.
Namun tentu saja, jalan ini bukan tanpa tantangan. Sastra yang terlalu jujur dalam menggambarkan kegelisahan religius bisa dituduh menyimpang. Ketika penyair menafsirkan kitab suci secara metaforis, atau pengarang menciptakan tokoh yang mempertanyakan Tuhan, institusi agama sering kali merasa terancam. Padahal, dalam dunia batin, keraguan bukanlah penolakan, melainkan bagian dari perjalanan iman. Seperti kata Romo Mangun, "Iman yang tak digugat, bisa jadi bukan iman yang hidup."
Dengannya, sastra dan religiositas bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua jalan yang bisa bertemu. Sastra bisa memperhalus iman, dan religiositas bisa memperdalam sastra. Keduanya bisa saling menghidupi, saling menjaga agar tidak jatuh dalam kekakuan atau kekosongan. Dalam dunia yang makin kehilangan arah dan makna, kehadiran sastra religius seperti lentera kecil yang menuntun kita menyusuri sunyi—bukan untuk menjawab, tapi untuk menyadari dan merasakan.
Di titik inilah, kita perlu membuka kembali ruang bagi sastra dalam kehidupan spiritual kita. Tidak untuk menggantikan kitab suci, tapi untuk melengkapinya. Tidak untuk mengajari tentang Tuhan, tapi untuk membantu kita mendengarkan-Nya dalam cara yang paling manusiawi: lewat cerita, puisi, dan permenungan. Sebab di antara tanya dan sepi, kadang kita menemukan iman yang paling jujur.