Selama bulan Ramadhan, anak-anak mendapat nasihat dari bapak, ibu, kakek, nenek, ulama, dan guru. Nasihat itu berulang dengan kalimat sering sama: “Berpuasa itu (belajar) lapar.” Anak-anak memang merasakan lapar. Pagi siang dan sore, lapar membuat mereka menentukan sikap berdasarkan iman atau kondisi raga. Lapar tak biasa. Anak-anak perlahan mendapat pengertian lapar berkaitan ibadah, kemanusiaan, kesehatan, kebaikan, dan kesopanan.
Kaum dewasa pun mengartikan lapar. Mereka berada dalam kondisi berbeda setelah mengalami hari-hari rutin menikmati makanan, sejak pagi sampai malam. Lapar tak dibiarkan sekadar urusan bilogis. Di khotbah dan bacaan, mereka mendapat suguhan penjelasan bertema lapar. Pengalaman lapar tak selalu beriringan kesanggupan mengumpulkan makna-makna lapar.
Keinginan mengerti lapar bisa dipenuhi dengan membaca buku-buku bertema agama dan sains. Sungkan berpikiran panjang dan rumit, orang bisa memilih menafsir lapar dalam puisi-puisi.
Kita memasuki puisi berjudul “Perjalanan Lapar” gubahan Iman Budhi Santosa (1984). Puisi dari masa lalu, belum basi bila kita ingin menautkan pengalaman berpuasa dan memuliakan sastra. Bait terbaca: Lapar mengajar pipit, bersarang/ dekat sawah. Kecoa kerasan dalam kakus/ ayam bergegas mematuk tinja/ nyamuk tega mengharu-biru nikmat sanggama. Semula, ia mengisahkan lapar ditanggungkan para binatang. Lapar ditanggapi tindakan-tindakan meski terpaksa dan kebablasan.
Kini, kita membaca tentang lapar dialami manusia. Lapar senantiasa berisiko: Lapar mengubah malu takut/ kecil terlipat dalam saku/ lancing dan palsu meraih kesempatan/ mempersempit benar. Mengumbar/ bermacam aib melamar dipertuan. Kita terbiasa melihat lapar mudah menghilangkan malu. Jawaban atas lapar kadang menabrak akal dan adab. Konon, lapar memberi desakan-desakan dilematis. Manusia menjawab lapar jarang benar. Salah dan sembrono menjadi kelaziman saat kehilangan pijakan merampungi lapar. Iman Budhi Santosa memberi ibarat mengena: Lapar memuat harapan besar/ kecuali sesuap nasi, sepotong roti/ ia adalah cacing yang menggeliat/ memanjang menjalar. Lapar itu berpetaka!
Di Indonesia, lapar diceritakan menggunakan nasi. Orang-orang tanpa beras atau gagal mengadakan nasi di piring berarti dikutuk lapar. Usaha mengganti nasi dengan menu-menu berbeda masih bisa diwujudkan tapi lakon kelaparan di Indonesia condong berkaitan nasi.
Kita mendapat pelajaran nasi melalui puisi gubahan Adimas Immanuel (2013) berjudul “Nasi”. Puisi terbaca berbarengan bulan Ramadhan dan debat bertema makan bergizi gratis di seantero Indonesia. Puisi tanpa maksud berkhotbah agama atau menggelitik politik tapi kita mendapat panggilan mengartikan nasi: Dia tawar memang, bulir-bulir gamang. Tak mengenal rasa,/ tak pernah dewasa. Tetapi karenanya aku bisa memilih lauk/ apa saja. Segar selada, tersipu kerling genit terasi. Nikmat/ lauk, jadi balada siapa saja yang tampak serasi. Nasi itu “pokok” disempurnakan oleh lauk dan beragam masakan. Nasi mendapatkan kemuliaan. Nasi “meninggalkan” tawar.
Nasi telanjur istimewa. Di lembaran sejarah (peradaban) Nusantara, nasi “berkuasa” dalam pemenuhan kebutuhan biologis. Nasi itu makanan “diceritakan” melalui ritual, pengasuhan, kekuasaan, keindahan, dan lain-lain. Nasi pun mendapat nama-nama berkaitan asal dan citarasa. Di Indonesia, nasi menjadi takdir biasa diserukan dengan kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan.
Kita masih mengikuti lakon nasi dalam puisi: Atau dia punya kisah sendiri, yang hanya diceritakan pada piring lapang dan ikan yang tinggal belulang? Adakah dia/ pada akhirnya benar menangis, jika kita sisakan, seperti/ kenyataan bahwa kita adalah menu makan yang kaupilih/ sendiri, lalu tak kauhabiskan? Kita ingat pesan-pesan baik agar setiap makan tak meninggalkan bulir nasi di piring. Makan sampai selesai. Dulu, bapak atau ibu bilang jika ada sisa mengakibatkan nasi itu menangis. Pengajaran etis agar anak-anak tak membuang nasi dan mengecap sebagai sampah (limbah).
Ingat nasi, ingat dapur. Peristiwa memasak beras menjadi nasi biasa terjadi di dapur. Lakon nasi condong dicipta oleh kaum perempuan. Nasi mengikutkan pengisahan api, air, dan benda-benda. Kita mengintip dapur melalui “Mantra Dapur” gubahan Aprinus Salam (2016): Berselancar di dapur/ Bercampur bumbu, nikmat rasa/ Namaku dapur// Atas nama panci/ Atas nama kuali/ Atas nama ceret/ Atas nama tungku/ Atas nama sendo/ Atas nama sudip/ Atas nama parut/ Atas nama gelas/ Atas nama cobek/ Atas nama bumbu. Dapur itu belum kentara mengistimewakan nasi bersama benda-benda.
Kita sambungkan membaca “Mantra Makan”. Aprinus Salam tak menulis mantra khusus untuk nasi. Kita berimajinasi makan dalam puisi itu menghadirkan nasi meski tiada diksi nasi. Larik-larik mengingatkan lapar dan kecukupan dalam pemenuhan kebutuhan pangan: Dengan nama dirimu/ Aku makan lezatmu/ Aku makan rindumu/ Aku makan pasrahmu// Perjalan rupa bentuk/ Dari benih dan tani/ Dari pasar hingga dapur/ Dan hidangan yang tertata/ Menyusup ke dalam darahku/ Bersatu dalam daging dan tulangku. Di Indonesia, pengisahan orang makan itu mengarah nasi. Orang menikmati nasi bersama beragam makanan. Nasi tetap keutamaan.
Pada saat berpuasa, kemauan menikmati puisi-puisi menjadi sokongan memberi makna lapar. Kita tak mutlak memuja makanan tapi lapar memberi sekian tanda seru. Kita dianjurkan sadar adab. Serakah dalam makan mengakibatkan tubuh bermasalah dan mencipta risiko-risiko sosial. Gagal dalam mengatasi lapar mengesahkan kemiskinan di negara. Pada suatu peristiwa dan perwujudan ibadah, lapar malah mengajak kita mengukuhkan iman dan keinsafan sebagai hamba. Begitu.