Dunia maya agaknya telah menghadirkan sebuah kerumunan dikotomis baru yang sungguh menyeramkan. Seakan setiap orang hanya memiliki dua pilihan: menjadi pro atau kontra, mendukung atau menghina. Seperti istilah cebong dan kadrun atau anak abah dan kaum 58%. Pada akhirnya identitas personal menjadi bias karena tertutup oleh stigmatisasi.
Persoalan ini lah yang kemudian mengingatkan saya pada sebuah lagu berjudul “Orang-orang di Kerumunan” karya FSTVLST. Dalam horizon pendengar, lagu ini membawa pada kesadaran akan segmentasi dikotomis masyarakat yang radikal. Ia menggambarkan sebuah kerumunan yang seakan menyembah sebuah objek—yang bisa dalam bentuk apapun—secara buta, hingga menyampingkan eksistensi diri.
Orang-orang di kerumunan berjejalan di lingkaran
Mengitari satu altar sesembahan
Mereka menari dengan mata terpejam
Kerasukan
Jiwanya sudah tak lagi bersemayam
Lirik di atas telah menghujam pendengarnya secara telak. Ketika menggunakan pisau hermeneutika Gadamer, maka teks tidak berdiri sendiri. Sebuah teks, bagi Gadamer, bisa disandingkan dengan horizon pembaca untuk kemudian mendapat makna yang layak untuk dipahami (Hardiman, 2018). Untuk itu, lirik tersebut begitu terasa dekat dengan horizon pendengar hari ini.
Lalu meracau
Tak setuju maka beda kubu
Tak sepaham lantas baku hantam
Yang seiman saling menerakakan
Merekalah kerumunan yang lupa
Kerumunan yang lupa
Bahwasanya aku kau mereka sama
Bait selanjutnya, FSTVLST menerangkan dengan jelas bagaimana kondisi orang-orang di kerumunan. Secara konteks, ciri-ciri ini sering kita jumpai, baik di dunia maya maupun nyata. Dikotomi masyarakat yang sangat kompleks dan radikal membuat mereka lupa jati dirinya: sebagai manusia.
Sikap seperti itu lah yang kemudian di kritik oleh Nietzsche—seorang filsuf Jerman abad-19—bahwa kerumunan hanya akan membawa diri manusia pada sebuah kepalsuan. Sampai membuat Nietzsche memilih menepi ke hutan daripada mendekam di keramaian, karena terlalu banyak orang yang bernafsu—hasrat akan kekuasan, pengakuan, dan status sosial. Hal ini disebabkan oleh tekanan sosial yang menghilangkan otonomi diri manusia.
Bagi Nietzsche, mentalitas kerumunan membawa manusia pada kejatuhan dirinya: menjadi inferior, mencari aman, dan menggalang dukungan. Dengan mentalitas seperti itu, ia akan menjauhkan kesempatannya menjadi ubermensch—manusia unggul menurut Nietzsche (Lika, 2021). Namun, menjadi manusia unggul juga memiliki resiko: menjadi egois. Untuk itu, FSTVLST mencoba mengingatkan kita:
Hanya manusia
Sama manusianya
Yang seharusnya saling peluk selayak saudara
Saling jaga seperti keluarga
Berbagi cinta berbagi bahagia
Menjauhi kerumunan yang lupa
Kerumunan yang lupa
Tidak berada di kerumunan, bukan berarti menjadi individualistik. Manusia, seperti yang diistilahkan oleh Aristoteles, merupakan zoon politicon (Russell, 2019). Itu berarti, manusia adalah seorang makhluk yang sewajarnya bersosial: saling berinteraksi, saling menjaga, saling menghormati, dan saling mencintai—sebagai sesama manusia.
Untuk itu, sudah sepatutnya kita menghindari kerumunan-kerumunan “lupa” yang hanya ingin benar sendiri. Menjadi manusia, berarti memanusiakan manusia lainnya. Dengan menghilangkan sisi kemanusiaan, maka konflik akan terus terjadi. Dan konflik tidak membawa kebahagiaan sejati, ia bersifat temporal dan membutuhkan korban.
Turut berbela sungkawa
Atas sekaratnya jiwa
Para berkerumun tertawa-tawa
Di se se se se sempitnya ruang bahagia
Yang seharusnya luas tak terbatas
Pada akhirnya, FSTVLST menyampaikan kepedihan, ia berbela sungkawa atas penjara sosial yang dibuat oleh para kerumunan. Penjara yang membuat jiwa orang-orang di dalamnya menjadi sekarat karena tekanan sosial, dan menertawakan diri di sempitnya ruang bahagia. Padahal, untuk menjadi bahagia kita tidak harus berada di kerumunan: cukup menjadi diri sendiri.
Dalam bait terakhir, FSTVLST kembali menitipkan pesan duka:
Dan turut berduka cita
Atas tak berartinya bunga
Berganti
Umpat benci
Caci maki
Bunuh dan lukai
Benci dan lukai
Bunga, selayaknya kemanusiaan, ia kini mulai layu dan berganti rupa menjadi beragam tindakan keji: kebencian, umpatan, cacian, dan pembunuhan. Baik ruang maya maupun nyata, telah membawa ketakutan tersendiri. Kebahagiaan yang seharusnya dapat diraih dengan semudah menghargai, kini menjadi rumit karena nafsu akan kerumunan.
Pada akhirnya, lagu ini hadir ke dalam horizon pendengar sebagai pentungan untuk orang-orang yang berkerumun tanpa makna: kerumunan yang membawa manusia kehilangan identitasnya sebagai manusia. Dengan mendengarkan lagu ini dengan seksama, kita akan menemukan hentakan keras untuk segera sadar. FSTVLST telah menghadirkan sebuah lagu yang bukan saja tajam, tapi reflektif. Dengan menghadirkan lirik-lirik yang vulgar, ia membuat pendengarnya mau merenungi hidup yang sedang mereka jalani.