Bagaimana sepak bola hadir dan berkembang menjadi olahraga nomor satu di Jazirah Arab, termasuk perbincangan yang menarik untuk dibahas. Sebab, di balik gemerlap dan megahnya Timnas Arab saat ini, masih banyak misteri dan catatan sejarah unik di dalamnya yang jarang diketahui publik.
Masifnya penyebaran sepak bola di tanah Arab bisa dibilang bermula dari dua jalur: kolonialisme Barat dan pergerakan para imigran. Di Mesir—negara yang kini kita kenal melahirkan bintang dunia sekelas Mohammed Salah—sepak bola hadir berbarengan dengan datangnya pasukan pendudukan Inggris. Dalam karangannya yang berjudul Haqiqat Kurrat al-Qadam, Dziyab bin Sa’ad Alu al-Ghamidi menjelaskan bahwa federasi sepak bola Mesir pertama kali terbentuk pada tahun 1339 H, yang kemudian disusul dengan gelaran kompetisi Piala Mesir pada 1342 H.[1]
Jalur masuk yang mirip juga terjadi di Maroko, negara yang sukses mengejutkan dunia dengan menembus babak semifinal Piala Dunia 2022. Di sana, si kulit bundar pertama kali diperkenalkan oleh seorang penjelajah, penyair, sekaligus sastrawan asal Inggris bernama Charles Montagu sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Menurut Dziyab, kasus di Mesir dan Maroko ini hanyalah sekelumit contoh kecil saja. Realitasnya, hampir seluruh negeri muslim yang pernah dicengkeram oleh kolonialisme, mengenal sepak bola lewat jalur penjajahan yang dinilainya agresif dan ekspansif tersebut.[2]
Masuknya Sepak Bola ke Tanah Arab Saudi Disebabkan Para Pelajar dan Ekspatriat Indonesia
Masuknya sepak bola ke Negeri Haramain tersebut sejatinya sudah berlangsung sangat lama, yakni sekitar tahun 1345 H. Di kalangan para pegiat olahraga setempat, sudah menjadi rahasia umum bahwa permainan ini merupakan bawaan dari komunitas muslim imigran serta jaringan kedutaan asing. Dziyab sendiri memandang fenomena ini dengan nada yang cukup skeptis dan penuh kewaspadaan. Baginya, kegandrungan para pemuda muslim terhadap sepak bola kala itu dinilai sebagai bagian dari penetrasi budaya barat yang terstruktur untuk mengalihkan perhatian mereka.
Menariknya, realitas sejarah mencatat fakta yang barangkali akan membuat kita tertegun. Jauh sebelum Arab Saudi menorehkan tinta emas dengan lolos ke total tujuh turnamen Piala Dunia FIFA (termasuk edisi 1994, 1998, 2002, 2006, 2018, 2022, hingga 2026 nanti). Jauh sebelum malam keajaiban di Lusail Iconic Stadium pada Selasa siang 22 November 2022, saat Argentina dipaksa bertekuk lutut 1-2 oleh Arab Saudi yang awalnya hanya dianggap kontestan penggembira. Dan jauh sebelum nama-nama besar Eropa seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, hingga João Félix merumput di Saudi Pro League dengan nilai kontrak selangit. sepak bola di Arab Saudi justru lahir dari kaki-kaki putra Indonesia.
Fakta historis ini diulas secara mendalam oleh sejarawan olahraga terkemuka, Amin Al-Saati, dalam bukunya Tarikh al-Harakah al-Riyadhiah fi al-Mamlakah al-Arabiyah al-Su'udiyah. Al-Saati membongkar data otentik bahwa pelopor sepak bola di Makkah adalah komunitas ekspatriat dan para pelajar asal Nusantara.
[1] Dziyab bin Sa’ad Alu al-Ghāmidī, Ḥaqiqat Kurrat al-Qadam, (t.t.p Syabkah Nur al-Islam t.t) hal. 149.
[2] Ibid. hal. 150.
Pada tahun 1345 H—tepat setahun setelah Raja Abdul Aziz menguasai wilayah Hijaz—Direktur Keamanan Publik di Makkah mengabulkan permohonan resmi dari Jemaah/Komunitas Indonesia yang menetap di sana untuk memainkan sepak bola. Uniknya, mereka membentuk tim-tim sepak bola dengan nama yang mencerminkan asal daerah atau suku mereka di Indonesia. Maka lahirlah kelompok-kelompok seperti:
- Tim Manto (diduga merujuk pada Manado atau nama tokoh)
- Tim Fadan (Padang)
- Tim Karawa (Suku Bugis/Makassar atau wilayah tertentu)
- Tim Bima (Bima, NTB)
- Tim Vira
Dari sinilah Makkah tercatat sebagai kota pertama di Arab Saudi yang memainkan sepak bola, di mana awalnya olahraga ini didominasi penuh oleh orang-orang Jawi (sebutan untuk masyarakat Nusantara saat itu). Lambat laun, anak-anak muda lokal Arab mulai kepincut dan ikut bergabung. Antusiasme ini menular ke sekolah-sekolah di Makkah hingga jumlah pemainnya membeludak. Fenomena tersebut kemudian bergeser ke kota pesisir hingga memicu berdirinya klub sepak bola resmi pertama di Arab Saudi pada tahun 1346 H, yaitu klub "Al-Riyadhi" di Kota Jeddah, yang diinisiasi oleh para tokoh dan pemuka kota.[1]
Dalam perkembangannya, dominasi para imigran Indonesia yang terkadang cenderung eksklusif ini sempat memicu rasa tidak nyaman di kalangan pemain lokal Saudi. Al-Saati mencatat, reaksi ini memicu para pemuda lokal untuk mendirikan klub "Al-Wathan" di Makkah pada tahun 1350 H, yang mengkhususkan diri hanya untuk pemain berdarah lokal Arab Saudi.
Dari wilayah barat (Makkah dan Jeddah), demam sepak bola ini tidak menetap di satu tempat. Seiring berjalannya waktu, olahraga ini menyebar ke wilayah tengah (Riyadh). Alur penyebarannya dibawa oleh gerbong para pegawai negeri dan aparatur pemerintah yang mutasi tugas dari wilayah barat ke ibu kota baru di Riyadh sekitar tahun 1364 H. Kelompok pegawai yang rutin bermain setiap hari Jumat inilah yang menjadi cikal bakal hidupnya sepak bola di wilayah tengah.
Jeddah, kota pelabuhan di tepi Laut Merah, memang memegang peranan krusial sebagai pintu masuk akulturasi budaya ini.
Hal ini diperkuat oleh catatan John Nauright dan Charles Parrish dalam Sports Around the World: History, Culture, and Practice. Mereka menyebutkan bahwa posisi Jeddah sebagai gerbang utama jemaah umrah dan haji membuatnya menjadi titik temu berbagai bangsa, termasuk para pendatang dari Sudan dan Mesir yang membawa serta kegemaran sepak bola mereka. Respon masyarakat lokal Jeddah yang begitu masif akhirnya melahirkan salah satu raksasa sepak bola Asia saat ini, Al-Ittihad, pada tahun 1927.
Kompetisi pun terus berkembang pesat. Dr. Amin Saati dalam Encyclopedia of the History of Sports Movement in the Kingdom of Saudi Arabia menjelaskan bahwa Liga Saudi pertama kali resmi digulirkan pada tahun 1957. Pada awalnya, kompetisi ini hanya mempertemukan klub-klub dari Makkah dan Jeddah. Baru kemudian wilayah lain seperti Al-Qassim dan Hail ikut ambil bagian. Menariknya, sistem liga regional pada masa-masa awal tersebut bukanlah kejuaraan mandiri, melainkan fase kualifikasi ketat untuk memperebutkan tiket ke putaran final turnamen paling bergengsi: King's Cup (Piala Raja).
Dari runtutan sejarah di atas, kita bisa berasumsi bahwa perjalanan sepak bola di Jazirah Arab merupakan sebuah mosaik besar yang unik. Dimulai dari infiltrasi budaya kolonial di Mesir dan Maroko, hingga dinamika di Arab Saudi yang justru dipantik oleh komunitas imigran Indonesia sebelum akhirnya bertransformasi menjadi industri olahraga raksasa bernilai miliaran dolar seperti saat ini.
[1] Ibid. hal. 150-151