Sedang Membaca
Isra Miraj dalam Qasidah Burdah Imam al-Bushiriy
Penulis Kolom

Vaurak Tsabat, santri penikmat kopi di Pondok Pesantren Besuk, Pasuruan, dan alumnus Pondok Pesantren Lirboyo.

Isra Miraj dalam Qasidah Burdah Imam al-Bushiriy

Ilustrasi Isra Miraj

Mumpung masih suasana bulan Rajab, saya hendak berbagi sedikit kemesraan. Kemesraan? Benar. Di dalam bulan mulia ini terdapat peristiwa penting yang mewajibkan kita memiliki rasa cinta: perjalanan spiritual Nabi dari Masjid al-Haram Mekah ke Masjid al-Aqsha Palestina. Setelah meninggalkan tunggangannya, Buraq, di Masjid al- Aqsha, Nabi bermikraj naik hingga ke langit ketujuh, lalu melangkah melampaui Sidaratul Muntaha sebelum akhirnya berjumpa dengan Tuhan.

Namun bukan kisah-kisah menakjubkan yang terburai sepanjang perjalanan spiritual itu yang ingin saya bagikan. Di waktu-waktu yang marak dengan caci maki dan ujaran benci ini, sangat urgen kiranya saya membagikan kemesraan-kemesraan suci: rasa cinta umat kepada sang Nabi.

Ada banyak cara mengungkapkan cinta kepada sang pujaan hati. Sayyidina Ali mengajukan dirinya untuk menjadi “sosok Nabi” ketika rumah Nabi dikepung kaum kafir Quraisy. Sayyidina Utsman menyerahkan ratusan kuda dan unta untuk membantu peperangan demi peperangan. Sayyidina Umar mengacungkan pedang untuk siapa saja yang mengatakan Rasulullah telah wafat di hari duka itu. Sayyidina Abu Bakar tetap merestui Usamah bin Zaid, yang masih 17 tahun itu, untuk memimpin pasukan perang melawan imperium Romawi di saat Madinah masih bergejolak akibat banyak kaum murtad, hanya karena Nabi telah memutuskannya. [ Tarikh al-Khulafa. Abd al-Rahman al-Suyuthi. Dar Ibn Hazm. Beirut. Hal. 61.]

Pun begitu dengan umat Nabi hari-hari ini. Untuk mengenang Isra Mikraj Nabi, sebuah grup musik sufi dari Libanon, “Al Madihin”, ingin membuktikan cinta mereka kepada Nabi. Mereka membacakan salawat dan puji-pujian dari Qasidah al-Burdahnya Imam al-Bushiriy. Tentu saja dengan irama merdu suara dan alat musik mereka.

Baca juga:  Intertonikalitas: Perihal Awal Sekaligus Akhir Musik

Madah-madah yang digubah al-Bushiriy ini memang mengesankan sekali. Indah, sastrawi, dan membuat kita melambung secara spiritual, apalagi dipadu dengan adanya garapan musikal yang penuh estetika. Baca saja bait-bait yang beliau tulis khusus mengenai peristiwa Isra Mikraj ini. Berikut beberapa bait di antaranya [Syarh Burdah al-Madh. Muhammad al Bushiriy. Dar al-Quran. t.t. hal 17-18]:

سَرَيْتَ مِنْ حَرَمٍ لَيلًا إِلَى حَرَمٍ *
كَمَا سَرَى الْبَدْرُ فِيْ دَاجٍ مِّنَ الظُّلَمِ

Di kala malam engkau berjalan
dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha
bagai purnama yang beredar
menembus gelapnya malam

وَبِتَّ تَرْقـى إِلى أَنْ نِلْتَ مَنْزِلَةً *
مِنْ قَابِ قَوْسَيْنِ لَمْ تُدْرَكْ وَلَمْ تَرُمِ

Dan engkau terus meninggi
hingga capai sebuah tempat
tak pernah dicapai dan diasa

وَأَنْتَ تَخْتَرِقُ السَّبْعَ الطِّبَاقَ بِهِمْ *

فيِ مَوْكِبٍ كُنْتَ فِيهِ الصَّاحِبَ العَلَمِ

Engkau tembus langit tujuh petala, bertemu para nabi
Bersama kumpulan malaikat, engkau menjadi pembawa panji

حَتىَّ إِذَا لَمْ تَدَعْ شَأْوًا لِمُسْتَبِقٍ *
مِنَ الدُّنُوِّ وَلاَ مَرْقَى لِمُسْتَنِمِ

Hingga tak ada batas terdekat yang engkau sisakan untuk orang yang ingin mendahului (mendekat)
dan tak ada tempat naik (yang engkau sisakan untuk pencari derajat tinggi)

خَفَضْتَ كُلَّ مَقَامٍ بِالإِضَافَةٍ إِذْ *
نُودِيتَ بِالرَّفْعِ مِثْلَ المُفْرَدِ العَلَمِ

Dibandingkan dengan derajatmu derajat apapun menjadi rendah
kerena namamu dipanggil dengan rafaʻ (keluhuran) sebagaimana ʻalam mufrad

بُشْرى لَنَا مَعْشَرَ الْإِسْلَامٍ إِنّ لَنَا *
مِنَ العِنَايِةِ رُكْنًا غَيْرَ مُنْهَدِمِ

Baca juga:  Musik dalam Islam: Sebuah Tanggapan untuk Uki Eks NOAH

Kabar gembira, hai umat Islam!
Dengan inayah Allah
kita memiliki tiang kokoh
yang tak akan roboh

لَمَّا دَعَا اللهُ دَاعِينَا لِطَاعَتِهِ *
بِأَكْرَمِ الرُّسْلِ كُنَّا أَكْرَمُ الُأُمَمِ

Tatkala Allah panggil Nabi pengajak kita
kerena ketaatannya kepada-Nya
dengan panggilan Rasul termulia
Maka jadilah kita umat paling mulia

Pembacaan syair ini telah menjadi tradisi di berbagai lapisan masyarakat. Dengan gaya dan langgam yang berbeda-beda, tradisi membaca syair salawat Burdah hampir ada di semua kawasan di dunia Islam. Di kampung saya dan di lingkungan tradisional-religius lainnya, hampir setiap malam Jumat masjid dan surau-suraunya melantunkan salawat al-Burdah ini.

Dengan kata lain, dunia Islam sejak dulu sebetulnya kaya dengan tradisi musik yang berbagai-bagai. Agama menjadi indah, dan umat Islam tidak mengalami kekeringan rohaniah, karena adanya tradisi estetik seperti ini. Tradisi-tradisi ini potensial sekali untuk mengasah naluri moderat umat Islam di manapun. Berangkat dari fakta atas tradisi ini, boleh jadi musik adalah salah satu fondasi “tawwassuthiyyat al-Islam”, moderasi Islam.

Orang-orang dengan jiwa yang kering kerontang atau komunitas manusia tanpa pengetahuan sastrawi, tanpa kebudayaan, tanpa keindahan alam, tanpa tradisi estetika, tak akan mampu mengekpresikan keindahan agama melalui tradisi musik seperti ini. Alih-alih bersalawat dengan ekspresi estetik, orang-orang dan komunitas seperti itu malah menuding salawat dan berbagai ekspresi keindahan agama sendiri sebagai barang bid’ah, munkar, dan syirik.

Baca juga:  Mengenang Ki Seno, The Master of Bagong

Bagi saya dan sebagian besar masyarakat Islam yang ikut membangun tradisi indah untuk ekspresi agama, tudingan dan bentakan-bentakan itu tidak berpengaruh apapun. Toh tradisi kami tetap berlangsung, bahkan semakin marak. Kalau tidak percaya, lalu preman-preman di jalanan dan para pengamen yang melantunkan salawatannya Sabyan itu disebut apa?

Ada saatnya kita menampakkan diri untuk membela habis-habisan apa yang ditudingkan. Tapi untuk saat ini, kita bantah dengan salawatan saja. Mengenang kembali perjalanan spiritual Isra Mikraj Nabi Muhammad dengan lantunan puja-puji kepadanya. Sesekali mari kita teduhkan timeline medsos kita dengan syair-syair Burdah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
2
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top