Sedang Membaca
Hijrahnya Malcolm X
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Hijrahnya Malcolm X

Sarjoko Wahid

Hari ini, 53 tahun lalu, tepatnya 21 Februari 1965, tokoh muda yang sedang bersinar, ditembak tiga orang dari jarak dekat. Ia bersimbah darah di tengah-tengah acara di kota New York, hingga dinyatakan tewas beberapa jam kemudian. Pemuda 39 tahun itu, seorang kulit hitam, mualaf, dikenal dengan nama Malcolm X.

Di kalangan muslim Barat, nama Malcolm X merupakan nama yang sangat familiar. Ia dikenal sebagai seorang muslim yang memperjuangkan hak asasi manusia. Namun ia sekaligus dicap sebagai tokoh diskriminatif karena memperjuangkan supremasi kulit hitam.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Malcolm X mengenal Islam ketika berada di penjara. Ia kerap berdiskusi dengan saudaranya yang tergabung dalam Nation of Islam (NoI). Sebelumnya, ia adalah seorang Kristen. Earl Little, ayahnya, adalah seorang pendeta yang sangat vokal menanamkan kebanggaan kulit hitam kepada anak-anaknya.

Namun NoI mengajarkan Islam yang sangat diskriminatif, selain memberi pandangan yang kritis terkait rasisme yang dilakukan oleh kulit putih. NoI mengajarkan Malcolm X untuk tidak menerima segala bantuan dari kulit putih sekali pun terkait dengan perjuangan persamaan hak asasi manusia.

Malahan, ia mengatakan bahwa ras kulit putih adalah iblis. Semasa di NoI inilah Malcolm X mengenal Islam yang sangat kaku dan merasa benar sendiri.

Hingga pada satu waktu Malcolm X keluar dari NoI setelah mendapat banyak teguran dari banyak cendikiawan muslim atas pandangan-pandangannya yang bertentangan dengan Islam yang rahmatan lil’alamin.

Baca juga:  Obituari: Menimba Spirit KH. Tolchah Hasan

Setelah melaksanakan haji pada tahun 1964, pandangan Malcolm X benar-benar berubah. Ia yang dulunya sangat anti terhadap kulit putih menjadi seorang muslim yang memperjuangkan humanisme Islam.

Perjalanan Malcolm X ke kota suci Makkah dan Madinah menjadi jalan hijrahnya menemukan Islam yang sejati. Dalam bahasa sederhana, ziarah Malcolm X yang berganti nama menjadi Malik el-Shabazz itu adalah perjalanan haji yang mabrur. Titik tolak perjalanan hidupnya menjadi manusia yang mencintai manusia  berawal dari kota suci yang diberkahi ini.

Sayangnya ia hanya setahun berkesempatan menyampaikan pandangan universalisme Islam. Tepat pada hari ini 53 tahun silam, ia ditembak oleh tiga orang negro tanpa diketahui motifnya.

Malcolm X wafat di usia 39 tahun, usia yang masih sangat muda. Namun perjuangan singkatnya menyampaikan Islam yang inklusif itu membuat banyak orang Amerika tertarik untuk mempelajari Islam. Salah satunya adalah Classius Clay Junior alias Mohammad Ali.

Dari Malcolm X kita banyak belajar bahwa Islam yang sejati selalu menerangi. Ila ruhi Malcolm X, al-fatihah…

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top