Sedang Membaca
Melihat Vaksin Covid-19 dari Sudut Pandang Teologi
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Melihat Vaksin Covid-19 dari Sudut Pandang Teologi

Whatsapp Image 2021 03 14 At 14.04.39

Jumat, 12 Maret 2021.

Pengurus Pusat Ikatan Siswa Abiturien TBS Kudus (PP IKSAB TBS Kudus) menyelenggarakan webinar dengan tema “Teologi Vaksinasi Covid-19; antara Keyakinan dan Keraguan”. Dengan maksud untuk mengupas tuntas perihal vaksinasi covid-19 dari segala aspek; kesehatan, pendidikan sosial dan keagamaan. M. Rikza Muqtada menjelaskan bahwa tujuan dari webinar ini adalah untuk menjelaskan secara komprehenshif perihal Vaksin Covid-19, memberikan rasa yakin kepada masyarakat tentang program Vaksinasi Covid-19 serta menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam edukasi dan sosialisasi vaksin covid-19.

Buku Kiai Said

“Alhamdulillah peserta yang mendaftar melalui google form sebanyak 140 peserta terdiri dari 9 provinsi dan 35 Kabupaten Kota. Acara ini live streaming di TBS Kudus TV channel dann TV NU dan TV NU via FB live sudah ditonton 1000 orang lebih.” tutur M.Rikza Muqtada, dosen IAIN Kudus.

Dalam kesempatan ini M.Haidar Ulinnuha juga mengapresiasi kepada panitia khususnya divisi penguatan aswaja IKSAB TBS yang telah menyelenggarakan acara ini sebagai wujud kehadiran IKSAB dalam konteks edukasi dan sosialisasi vaksin covid-19 kepada masyakarakat. Tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama semua pihak sehingga acara berjalan dengan lancar dan sukses, semoga ke depan akan ditindaklanjuti dengan acara-acara webinar lainnya baik dari Ikatan Alumni Madrasah Qudsiyyah (IKAQ), Forum Silaturrahim Keluarga Madrasah Banat NU Kudus (FORSIKABANU) dan Keluarga Himpunan Madrasah Mua’llimat Kudus (HIMMAHKU).

Baca juga:  Mengenal Iluminasi Naskah Nusantara bersama Perpusnas dan Manassa

Prof. Ahmad Rofiq sebagai keynote Speaker dalam webinar ini menyampaikan bahwa MUI dalam penetapan fatwa MUI Nomor: 2/2021 tentang Vaksin Sinovac menggunakan standar yang sangat hati-hati, baik dari khasiat keamanan dan thayyib bagi manusia, baru ditetapkan kehalalannya. Bahwa sebelum itu, Tim MUI melakukan audit lapangan di China tempat vaksin dibuat/diproduksi.

Selain itu, para ahli yang memiliki kompetensi dalam bidang vaksin juga dilibatkan dalam proses dan pembahasan fatwa tersebut. Karena itu, umat Islam dan bangsa Indonesia ini, dalam rangka melakukan ikhtiar untuk menghadang yang bersifat preventif, maka vaksinasi Covid-19 tidak perlu ragu-ragu dan secara bertahap melakukan vaksinasi Covid-19.

Ahmad Syafii sebagai pembicara menjelaskan vaksin dari aspek khasiat dan keamananya. Ada dua standar yang digunakan untuk mengukur manfaat vaksin yaitu efikasi dan efektivitas. Efikasi atau kemampuan vaksin dalam mencegah penyakit dan menekann penularan pada individu pada skala uji klinis fase ketiga. Didapatkan data efikasi 65,3% artinya dengan adanya kelompok yang divaksin misalnya 1 juta penduduk maka dapat menurunkan angka kasus covid-19 sebesar 653.000.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Lebih lanjut lagi, dengan efikasi 65,3% Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah memberikan persetujuan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dan jaminan keamanan (safety), mutu (quality), serta kemanjuran (efficacy) bagi Vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Sciences Co.Ltd. China dan PT. Bio Farma (Persero). Artinya vaksin tersebut telah memenuhi syarat yang ditetapkan oleh WHO di atas 50%.

Baca juga:  Memperingati Haul KH. Bisri Syansuri: Pilihlah Ahlu Ad-Din yang Otoritatif untuk Mengurusi Agama

Falihatul Ibriza menyampaikann urgensi vaksinasi yaitu Vaksinasi memberikan kekebalan spesifik terhadap suatu penyakit tertentu. Sehingga apabila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut maka tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Yang kedua yaitu proteksi silang artinya Orang yang tidak divaksin ini mendapatkan manfaat perlindungan melalui kekebalan kelompok (herd Immunity) yang ditimbulkan dari cakupan vaksin yang tinggi tadi dan merata standarnya 70% penduduk Indonesia sudah divaksin (182 juta).

Alai’i Najib menuturkan bahwa sebuah survey Jeanet Bentzen di 95 negara sampai akhir Maret 2020 pencarian kata doa (prayer) dengan google search menunjukkan bahwa mereka berdoa agar wabah ini segera selesai. 95 negara adalah angka yang menunjukkan lebih dari separuh penduduk bumi. Penerimaan vaksinasi pun beragam ada yang menerima ada yang menolak.

Yang meolak menyatakan ini sebuah konspirasi, tetapi diakui atau tidak bahwa virus ini ada dan semua orang terkena dampaknya. Fenomena ini menjadikan manusia merefleksikan diri bahwa di balik pandemi ada kuasa tuhan sehingga cara ampuh adalah dengan berdo’a agar pandemic segera berakhir selain tentunya ikhtiar lahiriyah dengan vaksinasi dan menjaga protokol kesehatan.

Dr. KH. Shunhaji, MA menyampaikan dengan adanya pandemi covid-19 ini mengubah tatanan pendidikan dari awalnya offline menjadi online. Harapan wali murid pun ingin agar tatap muka diperbolehkan karena online tentu ada kelebihan kekuranganya. Ia juga menambahkan, vaksin menjadi bagian yang harus dipenuhi agar terwujud pembelajaran offline. “dosen, tenaga pengajar termasuk prioritas memeroleh vaksin,’’ ucap pria pengurus IKAQ Jabodetabek. (Syafi’i)

Baca juga:  Ekonomi Pasca Covid-19, Kebijakan Pemerintah harus Menjamin Warga Kecil Bangkit dari Krisis
Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top