Sedang Membaca
Obituari: Filosof Itu Bernama Hasan Hanafi (1935-2021)
Penulis Kolom

Bekerja di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pendidikan S3 diselesaikan di Tilburg University, S2 di Leiden University, dan S1 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah belajar juga di Pondok Pesantren Darul Hikam Joresan, Ponorogo, Jawa Timur.

Obituari: Filosof Itu Bernama Hasan Hanafi (1935-2021)

Fb Img 1634884341061

Aku mengenal pemikiran Hasan Hanafi saat masih mahasiswa S1 di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, jurusan Tafsir Hadis, melalui terjemah buku Kazuo Shimogaki, “Kiri Islam, Antara Modernisme dan Postmodernisme,” yang diterbitkan oleh LKiS, 1993. Penerjemahnya mas M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula. Aku meresensinya dan resensi itu terbit di harian Kompas. LKiS mengutip kalimat resensi saya untuk endorsement di lapik belakang buku cetakan berikutnya, tetapi di kutipan itu hanya tertulis harian Kompas. Tapi aku memaklumi, menurut pertimbangan pasar, siapa yang mengenal mahasiswa S1 jika untuk endorsement sebuah buku? Setelah itu aku membaca beberapa buku Hasan Hanafi, walau secara selektif, seperti Al-Turats wa Tajdid, Al-Din wa al-Tsawrah, Min al-Aqidah ila al-Tsawrah, Min al-Nash ila al-Waqi’, al-Dirasat al-Islamiyyah, al-Dirasat al-Falsafiyyah. Ada yang satu judul berjilid-jilid. Aku menfotokopinya dari Gus Hilmy Muhammad Krapyak dan Mas Muhammad Jadul Maula (LKiS).

Setelah itu minat aku pada pemikiran Hasan Hanafi menguat, juga pada pemikir-pemikir Timur Tengah lainnya. Munculnya buku-buku progresif berbahasa Arab pada awal 1990-an membuatku lebih bergairah. Selain Hasan Hanafi, saat itu, muncul pula buku-buku Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd. Abid Al-Jabiri agak belakangan.

Melalui perkuliahan dan bacaan, aku mengenal pembaru-pembaru Islam abad 19 dan awal abad ke-20, dari Jamaluddin Al-Afgani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Syed Ahmad Khan, Muhammad Iqbal, Syed Amir Ali, Fazlur Rahman, Zia Gokalp, dan lain-lain. Lalu pembaru-pembaru Indonesia, seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan yang belakangan Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, dan kawan-kawan.

Baca juga:  Ziarah Wali Maroko (4): Imam Abdul Aziz At-Tubba' Pemintal Sutra yang Menjadi Wali

***

Sebelumnya, sejak semester dua (1991) aku mulai membaca buku Hans-Georg Gadamer, “Philosophical Hermeneutics”, yang secara tidak sengaja aku temukan di perpustakaan Fakultas Ushuluddin pada awal 1991. Kulihat di data pinjaman, ternyata aku peminjam pertama buku itu, walau sudah cukup lama menjadi koleksi perpustakaan itu.

Mulai saat itu minat saya pada hermeneutika berkembang. Aku mulai mengumpulkan buku-buku dan artikel-artikel mengenai hermeneutika. Sejak 1991 itu muncul keinginan meneliti hermeneutika dalam konteks Islam untuk skripsi nanti. Saat membaca buku-buku Hasan Hanafi aku menemukan hermeneutikanya sangat khas.

Aku masukkan Fazlur Rahman dan Hasan Hanafi dalam daftar tokoh yang aku teliti untuk skripsi. Lalu kemudian aku memasukkan juga Farid Esack (sebelum terbitnya buku Qur’an and Liberation) dan Amina Wadud, yang saat itu terjemah bukunya Quran and Women baru terbit. Tadinya mau aku masukkan Nasr Abu Zayd juga, tetapi saat itu akses terhadap bukunya masih sulit. Saat itu aku baru dapat Mafhum al-Nass, dari Gus Hilmy. Akhirnya tidak jadi aku masukkan (nanti Nasr Abu Zayd aku kaji untuk tesis MA-ku di Leiden) . Skripsi itu aku beri judul “Hermeneutika Al-Qur’an: Analisis Peta Metodologi Tafsir al-Qur’an Kontemporer,” dibimbing oleh Dr. Amin Abdullah dan Drs. Chumaidi Syarif Romas dan aku pertahankan pada tahun 1995.

Sejauh lacakanku itu, skripsi itu adalah karya akademik pertama tentang hermeneutika al-Qur’an di Indonesia. Setelah itu banyak sekali penelitian tentang hermeneutika al-Qur’an. Bisa dicek sendiri kebenaran klaim ini. Waktu itu, sekitar seminggu ujian skripsi saya diundang oleh sebuah lembaga kajian di Pascasarjana IAIN Yogya untuk presentasi tentang hermeneutika al-Qur’an di depan mahasiswa S2 dan S3. Banyak di antara mereka kemudian memfotokopi skripsiku.

Baca juga:  Sukarno, Kader Muhammadiyah yang mencintai NU

***

Kembali ke Hasan Hanafi. Pada 1998, saat aku kuliah di Leiden, aku bertemu langsung dengannya dalam konferensi “New Trends in Qur’anic Studies” yang diorganisasi oleh Nasr Abu Zayd. Saat itu saya bertemu juga dengan Mohammed Shahrour, Mojtahed Shabestari, Enes Karic, Navid Kermani, H. Motzki, Puin, Pak Amin Abdullah, dan beberapa yang lain. Saat itu aku dan beberapa teman menemani Hasan Hanafi, Shahrour, Enes Karic, dan pak Amin shalat Jumat di masjid dekat KITLV Leiden. Aku lihat Shahrour selalu membawa tasbih yang selalu dia putar dengan jemarinya. Aku sempat wawancara dengan Shahrour, Abu Zayd, dan Enes Karic, tapi hanya kedua pertama yang terbit majalah Umat, yang dengan Karic tidak selesai aku olah. Aku tidak berhasil wawancara dengan Hasan Hanafi, tapi sempat menemaninya jalan-jalan bersama ke perpustakaan dan ke museum kapal VOC.

Ada hal lucu. Saat ngobrol dengan Hasan Hanafi, di lobi hotel jika tidak salah ingat, dia membuka tasnya dan menunjukkan dua bukunya dalam bahasa Inggris, “Islam in the Modern World” (vol. 1 dan 2) dan dia menawarkan buku itu untuk kubeli. Aku agak lupa berapa dia tawarkan harganya, jika tidak salah 50 gulden. Dengan serta merta aku iyakan. Dan tidak lupa aku minta tanda tangannya di sampul dalam. Besoknya aku ketemu Abu Zayd, dan aku bilang kalau kemaren aku beli buku Hasan Hanafi dari dia sendiri.

Baca juga:  Kiai Achmad Siddiq, Sosok Rais Aam dengan Selera Musik Michael Jackson

“Sebentar, kamu membeli buku Hasan Hanafi dari dia sendiri? ” Abu Zayd bertanya. “Iya. Mengapa? Ada yang salah?” “Wah, harusnya buku itu diberikan gratis untukmu. Masa’ dia menjual bukunya untuk mahasiswaku. Nanti akan aku minta balik uang itu.” Abu Zayd telihat serius. “Jangan,” cegahku. “Mungkin dia datang ke konferensi ini dengan uang terbatas. Siapa tahu?” Abu Zayd berpikir sejenak. “Oke, mungkin kamu benar. Kita tidak pernah tahu.”

Besoknya, Din Wahid bercerita kalau dia mendapatkan buku gratis darinya. Tampaknya Abu Zayd benar-benar “memprotes” gurunya itu, karena seingatku Din Wahid mendapat buku itu dengan keberadaan Abu Zayd di dekatnya. Ya, itu rizki dia.

Seingatku setelah itu aku pernah hadir dalam suatu seminar atau konferensi yang Hasan Hanafi jadi salah satu pembicaranya, tapi tidak dapat saya ingat lagi di mana dan kapan. Itu beberapa hal mengesan yang aku ingat bersama Hasan Hanafi.

Kemaren, 21 Oktober 2001, Hasan Hanafi, sang filosof dan pemikir Muslim dari Mesir, itu telah berpulang dalam usia 86 tahun. Ini sebuah kehilangan yang besar bagi dunia Islam, terutama dalam bidang filsafat, pemikiran dan keilmuan Islam. Selamat jalan, Hasan Hanafi, semoga sumbangan keilmuanmu dapat menjadi amal kebaikanmu yang bermanfaat bagi kemanusiaan, dan bagimu dalam menghadap Sang Khaliq, sebagai pahala yang terus mengalir. Aamiin.

Yogya, 22 Oktober 2021

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
2
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top