Sedang Membaca
Jejak-Jejak Awliya Allah: Menelusuri Jalan Sufi di Era Kekacauan

Alumni Pascasarjana UGM, Penikmat Sejarah dan Tasawuf asal Jakarta.

Jejak-Jejak Awliya Allah: Menelusuri Jalan Sufi di Era Kekacauan

Akulah Debu

Ulama arif billah pernah mengatakan bahwa salah satu dari sekian banyak penyebab kekacauan, yang sayangnya sulit diatasi, adalah karena “gelar mendahului ilmu”. Makin banyak orang dengan ilmu seadanya, belum mengalami berbagai ujian hidup dan kerohanian, mendadak dipanggil ustaz (ulama) dan mengeluarkan pendapat yang diklaim paling benar sendiri.

Di sisi lain, banyak anak-anak muda dengan semangat membaca ingin mengubah dunia dan membangun peradaban yang agung. Namun, sepertinya ada yang luput. Banyak yang menyerukan ‘iqra tapi tidak dengan menyertakan “bismi rabbika”, dengan menyertakan Rabb, Allah Yang Maha Pendidikan. Seolah-olah merasa mampu dengan ilmu yang dimilikinya.

Padahal menyertakan Rabb dalam setiap aktivitas merupakan bentuk kerendahatian dan kesucian jiwa. Sebab tanpa itu, agama menjadi kering, kaku, keras, dan mencetak jiwa-jiwa yang mudah marah dan merasa selalu benar sendiri.

Oleh karena itu, melalui buku berjudul, “Akulah Debu di Jalan Al-Mustofha: Jejak-Jejak Awliya Allah” tahun 2015. Tri Wibowo mencoba menghadiri kisah serta ajaran tasawuf para sufi untuk dijadikan bahan perenungan dalam menjalani hidup.

Meski tasawuf dengan segala kontroversinya, bagaimanapun adalah bagian dari ajaran Islam yang berurusan dengan akhlak. Sebagian sufi menyebut bahwa “tasawuf adalah akhlak al-karimah”.

Jalan Sufi

Buku ini terdiri dari dua bagian. Pertama, tentang sejarah dan tokoh-tokoh sufi dan ajarannya. Kedua, tentang beberapa gagasan penting tasawuf.

Islam muncul laksana kisah epik yang mengagumkan: berkembang begitu cepat dalam kurun waktu kurang dari seabad. Dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad Saw hanya perlu waktu kurang lebih seperempat abad untuk menanamkan sekaligus mengembangkan ajaran agama yang pengaruhnya tak hanya menyentuh aspek sosial, politik, ekonomi, tetapi juga kerohanian yang disebut tasawuf.

Baca juga:  Mengkritik Gus Dur Pasca Lengser dari Ketum PBNU

Islam dalam perkembangannya tidak lepas dari pergulatan politik kekuasaan yang melahirkan banyak tragedi. Di tengah-tengah tragedi tersebut, ulama-ulama rasikhin (ulama yang berpengetahuan mendalam dan luas) merasa sedih atas situasi politik-sosial yang terjadi. Oleh karena itu, untuk menjaga ajaran syariat dan warisan spiritual Islam, mereka mencoba mengedepankan sikap-sikap zuhud dan kesederhanaan, yang menjadi antitesis dari kemewahan dunia.

Mereka hidup sederhana, dan sebagian mengenakan pakaian dari bahan wol. Sebagian dari mereka disebut sebagai kaum sufi. Abu Nuaim al-Isfahani menggambarkan sifat-sifat mereka dalam Hilyat al-Awliya: “Mereka adalah golongan orang yang terjaga dari kecenderungan duniawi, terpelihara dari kelalaian atas kewajiban dan teladan kaum fakir yang menjauhi dunia. Mereka tak disedihkan oleh kemiskinan materi dan tak digembirakan kecuali oleh hal yang mereka tuju, yakni kehidupan akhirat dan Allah. Hidup mereka dicurahkan untuk beribadah, baik ibadah individu atau sosial”. Maka sebagian peneliti menyatakan bahwa mereka adalah “prototipe” sufi.

Sejalan dengan itu, maka sebagaimana ditulis dalam buku ini, banyak lahir tokoh-tokoh sufi generasi awal, seperti Abu Dzarr al-Ghifari, Uwais al-Qarni, Hasan Al-Basri, Rabi’ah al-Adawiyah, Harits al-Muhasibi, dan Dzun-Nun al-Misri. Serta sufi-sufi besar lainnya, seperi Abu Yazid al-Bustami, Al-Hallaj, Syekh Junaid al-Bahgdadi, Jalaluddin Rumi, dan Ibnu Arabi. Serta sufi-sufi dari Nusantara, seperti Abdus Shamad al-Palembani, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Abdul Rauf Singkil dan lain-lain.

Baca juga:  Mengenal Kitab Syi’ir Penganten Anyar dan Tombo Ati

Tarekat dan Guru Sufi

Dalam buku setebal 548 halaman ini, Tri Wibowo menjelaskan beberapa tarekat yang berkembang di dunia. Setidaknya buku itu mencatat ada 17 tarekat. Pada era awal 1100-an adalah masa upaya pengembangan organisasi tarekat secara lebih formal ketimbang masa sebelumnya. Walaupun sejak abad ke-10 sudah ada zawiyah atau khanaqah (pondok sufi yang terorganisir).

Perkembangan ini barangkali adalah sebuah keniscayaan, sebab pada masa itu mulai banyak orang Islam yang menempuh jalan tasawuf. Sebagaimana lazimnya sesuatu yang semakin besar, maka lahirlah penyimpangan yang dilakukan oleh sufi palsu. Karenanya perlu ada konsep “pelembagaan” ajaran dalam satu wadah dimana otoritas mursyid yang kamil-mukammil (sempurna dan menyempurnakan) bertindak sebagai pembimbing sekaligus penjaga agar pengikut mereka tidak menyeleweng.

Buku ini juga menjelaskan bahwa peran tarekat bukan saja menjaga sifat spiritual semata, melainkan terlibat aktif dalam politik, sosial dan ekonomi. Dalam politik, para sufi dan mursyid tarekat banyak yang terjun langsung dan terlibat aktif dalam peperangan. Sebagian ada yang menempati kedudukan tinggi di pusat pemerintahan, menjadi penasehat spiritual dari para Sultan dalam mengelola pemerintahan, seperti misalnya Khawajah Ubaidillah Ahrar di kawasan Asia Tengah atau Imam Rabbani Syekh Ahmad Sirhindi di India.

Para sufi dari berbagai tarekat, semisal Qodiriyah-Naqsyabandiyah, Mawlawiyyah, dan sebagainya telah berperan sebagai penyangga perekonomian umat kelas menengah ke bawah, melalui mekanisme zakat, sedekah, perdagangan, kesastraan, dan kesenian. Bahkan Tarekat Ni’matullah, misalnya melarang anggotanya untuk menggantungkan nafkah dari belas kasihan orang lain, mereka diajak untuk mandiri secara ekonomi, misalnya dengan bertani bergulat dengan cangkul dan lumpur di lahan pertanian miliknya.

Baca juga:  Kisah Santri yang Menangis Ingin Mati Syahid dan Taktik Jitu Sang Kiai Melawan Penjajah

Gagasan Besar Sufi

Meski secara organisasi dan pelembagaan berbeda-beda secara nama karena dinisbahkan oleh pendiri. Tetapi ajaran tasawuf itu adalah sama. Sebab manusia pada hakikatnya senantiasa hadir “bersama Tuhan”, dan Tuhan senantiasa hadir “dalam diri manusia”, sebab ciptaan dan seisinya adalah perwujudan dari “kemungkinan mutlak” dari tajali Tuhan.

Tasawuf adalah kemuliaan dalam kehidupan, kekayaan dalam kemiskinan, tuan dalam penghambaan, rasa kenyang dalam kelaparan, ketertutupan dalam ketelanjangan, kebebasan dalam perbudakan, kehidupan dalam kematian, dan rasa manis dalam kepahitan. Sufi adalah orang yang merasa puas dengan apa yang diperbuat oleh Tuhan, sehingga Tuhan akan puas terhadap semua yang dilakukannya.

Dalam ajaran Islam, tindakan “kontemplasi” (tafakur) atau pemikiran yang melahirkan ilmu pengetahuan tak pernah dipisahkan dari “tindakan”: ilmu dan amal sebagai satu kesatuan. Berzikir dan berpikir adalah tak terpisahkan. Oleh karena itu, wajib di setiap aktivitas dan tindakan kita selalu menyertakan Tuhan.

Judul: Akulah Debu di Jalan Al-Mustofha: Jejak-Jejak Awliya Allah

Penulis: Tri Wibowo BS

Penerbit: Prenadamedia Grup

Tahun: 2015

Halaman: 548

ISBN: 978-979-3464-98-5

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top