Penulis Kolom

Santri di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Penikmat kajian-kajian Islam.

Kisah Imam Syafi’i Mendapatkan Pertanyaan yang Sulit

syafi'i

Banyak komentar-komentar tokoh ulama tentang kecerdasan Imam Syafi’i. Diantaranya, Ibrahim bin Abi Thalib Al-Hafidz pernah berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Abu Ubaid dan Ibnu Rahawaih, maka dia menjawab, ‘Imam Asy-Syafi’i adalah orang yang paling cerdas di antara mereka semua.”

Saking cerdasnya Imam Syafi’i, terutama dalam bidang fiqh, sampai-sampai Imam Al-Humaidi berkata, “Aku telah mendengar dari Sayyid Al-Fuqaha’, yaitu Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.” Dari kecerdasan beliau yang luar biasa, beliau sampai dijuluki Sayyid al-Fuqaha’ (Tuan para ahli Hukum).

Diantara bukti kecerdasan Imam Syafi’i, beliau sangat cepat dalam menjawab suatu permasalah fiqh. Ar-Rabi’ pernah bercerita, “Pada suatu hari ketika aku sedang bersama Imam Asy-Syafi’i, seseorang datang dan bertanya, ‘Wahai guru, apa pendapatmu tentang orang yang sedang bersumpah, ‘Apabila dalam sakuku terdapat ‘banyak uang dirham’ lebih dari tiga dirham, maka budakku merdeka. ‘Sedangkan dalam saku orang yang bersumpah tesebut hanya terdapat uang sebanyak empat dirham saja. Apakah orang itu harus memerdekakan budaknya?’ maka dia menjawab, ‘Ia tidak wajib memerdekakan budaknya.’”

Ketika penanya minta penjelasan lebih lanjut, maka Imam Asy-Syafi’i berkata, ‘Orang tersebut telah mengecualikan sumpahnya dengan ‘banyak dirham’, sedangkan empat dirham itu mempunyai kelebihan satu dari tiga dirham yang disumpahkan. Satu dirham bukanlah ‘banyak dirham’ sebagaimana yang dimaksudkan dalam sumpahnya.’

Baca juga:  Tanjung Anom dan Penjarahan Akbar Yogyakarta

Mendengar penjelasan ini, maka penanya kemudian berkata, ‘Aku beriman kepada Zat yang telah memberikan ilmu melalui lisanmu.’”

Membutuhkan Waktu Tiga Hari

Kendati banyak kisah tentang kecerdasan Imam Syafi’i, ada juga kisah dimana Imam Syafi’i butuh waktu tiga hari untuk menjawab satu pertanyaan yang sangat sulit, belum pernah terfikirkan oleh beliau.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Suatu ketia ada seorang laki-laki tua datang ke majlis Imam Syafi’i. Dia berkata, “Apakah dalil dan bukti dalam agama Allah ?”

Imam Syafi’I menjawab, “Kitabullah.”

Laki-laki itu bertanya, “Apa lagi?”

Imam Syafi’I menjawab, “Sunnah Rasulullah.”

Laki-Laki itu menjawab, “Kesepakatan Umat.”

Laki-Laki itu bertanya, “Dari mana kamu bisa mengatakan kesepakatan umat.”

Imam Syafi’I diam.

Laki-laki itu berkata, “Aku beri kamu waktu tiga hari.”

Imam Syafi’i pulang. Di rumah dia membaca dan terus mencari jawabannya. Tiga hari kemudian laki-laki tua itu datang lagi ke majlis Imam Syafi’i. Dia duduk setela memberi salam. Imam Syafi’I berkata kepadanya, “Aku telah membaca Al-Qur’an siang dan malam sebanyak tiga kali. Sehingga Allah menunjukkanku kepada firman-Nya Ta’ala,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [النساء: 115]

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ : 115).

Baca juga:  Farah Antun, Lawan Debat Abduh yang Menolak Negara Islam

Barangsiapa menyelisihi apa yang disepakati oleh ulama muslimin tanpa ada dalil shahih, niscaya Allah memasukkannya ke Neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Laki-laki tua itu berkata, “Kamu benar.”

Ternyata meskipun Imam Syafi’i memiliki kecerdasan yang luar biasa, beliau pernah kesulitan mejawab satu pertanyaan.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top