Setiap Tahun Baru, kita seperti diajak berdiri di sebuah ambang. Di satu sisi ada masa lalu dengan segala capaian, kegagalan, dan penyesalan yang belum rampung. Di sisi lain terbentang masa depan yang dipenuhi harapan, rencana, dan keyakinan bahwa hidup masih bisa diperbaiki.
Tahun Baru, dengan segala ritualnya, tidak sekadar menandai pergantian kalender, tetapi menjadi mekanisme kultural untuk mengatur ulang cara kita memahami hidup. Ia bekerja sebagai semacam epistemologi sehari-hari tentang dunia baru; seolah dengan bergantinya angka, kita juga diberi kesempatan untuk mengganti makna.
Namun pengalaman batin manusia tidak selalu sejalan dengan optimisme ritual itu. Justru di momen inilah sering muncul kesadaran yang lebih jujur dan menggetarkan – bahwa waktu ternyata terus bergerak, sering kali tanpa menunggu kesiapan kita.
Banyak hal tertinggal, banyak rencana tak kunjung selesai, dan hidup terasa berulang dalam pola yang sulit diputus. Kita memasang kalender baru, tetapi beban batin tetap sama. Tahun Baru lalu menjadi momen refleksi yang ambigu—antara harapan dan kelelahan.
Di hari-hari terakhir Desember, waktu kerap menjadi perkara. Kita mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda. Hidup terasa seperti lingkaran: bangun di pagi yang serupa, menjalani rutinitas yang hampir sama, lalu kembali tiba di ujung tahun dengan pertanyaan yang nyaris identik.
Ruang Lain
Dalam suasana semacam ini, puisi sering hadir sebagai ruang lain untuk berpikir. Bukan dengan logika perencanaan, tapi dengan kepekaan rasa. Puisi memberi bahasa pada kegelisahan yang sulit dirumuskan secara langsung.
Puisi Yang Fana Adalah Waktu karya Sapardi Djoko Damono menjadi salah satu teks yang kerap muncul kembali di momen pergantian tahun. Puisi dari kumpulan berjudul Perahu Kertas (1982) ini pendek, nyaris sederhana, tetapi justru di sanalah kekuatannya.
Sapardi tidak menjelaskan waktu sebagai konsep abstrak. Ia memperlihatkan bagaimana manusia berelasi dengannya. Waktu dipungut, dikumpulkan, dirangkai—seperti bunga—hingga suatu hari manusia lupa tujuan dari semua itu. Puisi ini bekerja sebagai cermin, bukan petunjuk jalan.
Yang fana adalah waktu. Kita Abadi:
Memungut detik demi detik, merangkainya
seperti bunga sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
…
Yang menarik, Sapardi tidak memosisikan waktu sebagai lawan yang harus ditaklukkan, juga bukan sebagai anugerah yang harus dirayakan secara berlebihan. Waktu dalam puisi ini adalah sesuatu yang dijalani, dirasakan, dan sering kali disalahpahami.
Ketika baris “kita lupa untuk apa” muncul, ia tidak sedang menghakimi, tapi seperti mengungkap kondisi manusia modern yang terlalu sibuk mengelola hidup, tetapi kehilangan orientasi makna.
Dalam konteks Tahun Baru, puisi ini terasa sangat relevan. Resolusi-resolusi yang dibuat sering kali berangkat dari logika pencapaian: lebih produktif, lebih sukses, lebih tertata. Namun jarang sekali resolusi itu menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa semua itu dijalani?
Puisi Sapardi ini mengganggu kenyamanan logika tersebut. Ia mengingatkan bahwa waktu bisa habis bukan karena kita malas, tetapi karena kita lupa memberi makna.
Hidup di Dalam Waktu
Daya kerja puisi ini terletak pada kesunyiannya. Ia tidak berteriak, tidak memprovokasi secara frontal, tetapi membangun ruang hening di dalam pembaca. Puisi tidak harus dibaca keras-keras. Ia bisa hadir dalam diam, bahkan bekerja paling kuat justru ketika dibaca tanpa suara.
Dalam banyak tradisi budaya Nusantara, diam bukanlah kekosongan. Diam adalah kondisi batin yang memungkinkan seseorang mendengar dirinya sendiri.
Pemaknaan waktu dalam kebudayaan Nusantara tidak pernah sepenuhnya linear. Waktu dipahami sebagai kala, sesuatu yang berhubungan dengan siklus, ritme, dan keterhubungan antara manusia dan semesta. Hidup bukan sekadar perjalanan maju ke depan, melainkan proses berulang yang menuntut kesadaran.
Karena itu, pergantian tahun sejak lama menjadi momen untuk menekur, mengendapkan diri, membaca ulang perjalanan hidup, dan menata kembali hubungan antara kehendak pribadi dan tatanan yang lebih luas.
Puisi ini seolah bergerak di jalur yang sama. Ia membangun ruang antara: antara kesibukan dunia dan keheningan batin, antara rutinitas dan refleksi, antara kehendak manusia dan keterbatasannya. Dalam ruang ini, manusia diajak menyadari eksistensinya bukan sebagai penguasa waktu, melainkan sebagai makhluk yang hidup di dalam waktu. Kesadaran ini terasa penting di tengah modernitas yang menuntut kecepatan, efisiensi, dan hasil instan.
Kesadaran spiritual yang dihadirkan puisi ini juga tidak bersifat doktrinal. Ia tidak berbicara tentang iman secara langsung, tetapi menghadirkan sikap batin yang religius yaitu kesediaan menerima keterbatasan, mengakui ketidakpastian, dan tetap memberi makna pada proses hidup. Spiritualitas semacam ini tidak diukur dari hasil akhir, melainkan dari cara manusia menjalani waktu yang dipercayakan kepadanya.
Tahun Baru, dalam kerangka ini, tidak lagi dipahami semata sebagai awal yang harus dirayakan, tetapi sebagai momen evaluasi eksistensial. Ia menjadi kesempatan untuk menata ulang relasi kita dengan waktu: apakah kita terus memungut detik demi detik tanpa pernah berhenti, ataukah kita berani memberi jeda untuk memahami maknanya? Puisi tidak memberi jawaban pasti, tetapi justru menjaga pertanyaan itu tetap hidup.
Membaca puisi di momen pergantian tahun pada akhirnya adalah latihan kesadaran. Dalam kesadaran, manusia tidak lagi sekadar mengejar waktu, tetapi mulai berdamai dengannya.
Waktu tidak berubah menjadi lebih lambat, tetapi cara kita mengalaminya menjadi berbeda. Puisi membantu proses ini dengan caranya yang sederhana: membuka ruang tafsir, bukan menutupnya.
Mungkin benar bahwa yang fana adalah waktu. Tetapi justru karena waktu terbatas, hidup memperoleh nilainya. Kefanaan membuat setiap momen layak direnungkan.
Tahun Baru lalu bukan hanya penanda pergantian kalender, melainkan ajakan halus untuk bertanya kembali—dengan jujur dan tenang—tentang bagaimana kita ingin hidup di hadapan waktu yang terus bergerak, tanpa pernah benar-benar menunggu kita siap.
…
Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.